Inspirasi Tanpa Batas

Saat Menulis Hindari Virus Intelektual| Teknik dan Cara Menulis Part – 6

Teknik dan Cara Menulis Part -7
0 16

Terdapat banyak faktor, mengapa banyak di antara intelektual tidak memiliki kemampuan menulis. Faktor ini bahkan menurut saya bahkan sangat dominan menghalangi diri seseorang untuk menjadi habit dalam menulis. Faktor itu, disebut dengan Virus Intelektual. Virus ini, dikesankan seolah benar, padahal jauh dari harapan untuk disebut tepat.

Bagaimana saat menulis menghindari virus Intelektual? Seperti apakah bentuk kongkret virus intelektual yang menghambat seseorang gagal melakukan artikulasi dalam menulis? Virus itu berbentuk pernyataan sikap yang ketika membaca tulisannya sendiri, dia berkata kepada dirinya sendiri juga, yang menegaskan bahwa dirinya tidak cocok menulis ini atau menulis itu

Bentuk-bentuk Virus Intelektual

Contoh bentuk virus intelektual. Jika ada seorang Magister atau seorang doktor, menulis sesuatu. Kemudian, setelah dia menulis, beberapa hari berlalu dia membaca ulang tulisannya. Lalu dia menyimpulkan pada dirinya sendiri atas apa yang ditulisnya dengan menyatakan:  Masa saya yang Magister atau yang Doktor menulis karya seperti ini. Ini tidak penting! Ini tidak baik! Ini buruk! Ini tidak ada gunanya. Tulisan seperti malu jika dibaca orang lain, karena tidak sesuai dengan kapasitas saya yang menjadi doktor atau menjadi magister.

Itulah virus yang menjadi penghambat. Itu pula yang menyebabkan saya harus mengatakan bahwa dalam X File anda tidak diperkenankan membaca ulang apa yang anda tulis. Padahal setiap ujaran yang kita muntahkan kepada publik, akan selalu memperoleh respon baik menurut kita dan baik menurut orang lain; baik menurut kita tetapi tidak baik menurut orang lain, atau tidak baik menurut kita, tetapi belum tentu tidak baik menurut orang lain. Jika kita berada dalam satu di antara tiga posisi dimaksud, maka, siapapun pada akhirnya akan mampu menjadi penulis.

Lalu untuk meyakinkan bahwa apa yang kita tulis itu bermanfaat apa cara yang harus ditempuh. Kalau kebiasaan saya, saya membaqa kertas kerja yang saya pakai menulis itu, untuk dibaca siapa saja yang ada di sekitar saya. Kalau satu hari saya mampu menulis satu lembara, maka, setiap hari itu, ada seseorang yang disuruh saya untuk membaca karya saya. Lalu saya tanyakan, bagaimana menurutmu? Apa yang kurang dari tulisanku…? Menurut kamu, layak tidak tulisan ini jika dilanjutkan?

Dalam proses bertanya itu, tentu anda jangan minta pertimbangan pada orang yang bisanya hanya menyalahkan. Fakta, juga banyak teman kita yang sesungguhnya tidak mampu dan tidak terbiasa menulis, tetapi, sangat pandai mengkritik apapun pada apa yang ditulis orang lain. Terhadap sosok yang seperti ini, tentu kita juga harus meninggalkannya. –Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...