Saat Pertama Bertemu dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir-Part 3

0 11

SAAT Pertama Bertemu: Sore setelah pemakaman itu, Doddy pulang dari rumah mertuanya. Rumah subsidi Type 36/72 di Quanta 2 Kuningan, yang dimliki Fanny dan tentu saat ini diwariskan untuk dirinya dan anaknya itu, dimasuki Doddy dengan sangat pelan. Doddy tak kuasa, memasuki rumah ini. Puluhan pengunjung yang mendatanginya untuk menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada dirinya, tak membuat dirinya merasa terhibur. Ia tetap kosong dan merasa sangat kesepian.

Doddy tentu tak menyelenggarakan tahlih di rumahnya. Keyakinannya akan dimensi ibadah yang tidak memuat persoalan tahlil ini kedalamnya, telah membuat dia di rumahnya menjadi demikian sepi. Ia termangu sendiri dan tak banyak berkata apalagi bertingkah. Tamu-tamu yang mendatanginyapun, hanya mampu diucapkan terima kasih yang dalam atas kunjungan mereka kepadanya.

Namun demikian, suasana itu, terasa begitu menyiksa Doddy saat para pentakji’ah pulang. Rumahnya menjadi demikian senyap dan sepi. Suara binatang kecil seperti jangkrik yang ada di sekitar rumahnya, telah membuat suasana semakin terasa senyap. Inilah detik-detik yang sangat terasa melelahkan untuk dilalui Doddy.

Muadzin mengumandangkan adzan Maghrib. Ia bangun dengan lunglai dari kursi rumahnya. Ia mengambil air wudlu, lalu melaksanakan shalat Maghrib sendiri, tentu di rumahnya itu. Ia sendiri, tak ada siapapun yang menemaninya. Kebiasaannya melaksanakan shalat berjama’ah bersama Fanny, sejak saat itu, tak mungkin lagi melakukannya secara bersama.

Saat ini, Doddy shalat sendiri tak ada makmum. Ia menjadi imam sekaligus makmumnya. Hanya sebelum shalat mulai dia lakukan, ia mengucapkan: “Ya … Allah, jika Kau perkenankan, biarkanlah ruh Fanny menenamiku saat ini dalam shalat yang aku lakukan.   Sejujurnya, aku masih tak sanggup hidup sendiri tanpa dirinya. Ia melaksanakan shalat dengan linangan air mata yang dahsyat. Saat dia mengakhir bacaan surat al Fatihah, ia diam agak lama. Menunggu kata amiiin … yang biasa dia dengar beberapa malam sebelumnya, sebelum Fanny benar-benar meninggal. Tetapi, saat itu, kata amiin tidak juga ia dengar. Ia kemudian sadar kalau Fanny tak ada di belakangnya. Ia meneruskan membaca surat pendek. Namun saat rakaat kedua dia lakukan, ia juga tetap dia menunggu kata amin. Tetapi tidak juga dia dengar.

Setelah selesai melaksanakan shalat Maghrib dengan menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan dengan mengucapkan salam, Doddy berdo’a, ya Allah … berilah anugerahMu untuknya. Ampunilah dosanya dan tempatkanlah ia bersama para shalihin dan para syuhada di taman syurga-Mu. Tetesan air matanya kembali mengucur.

Dalam tetesan air matanya itu, entah apa yang mendorong Doddy tiba-tiba terbang ke masa lalu. Masa di mana dia untuk pertama kali menatapnya sebagai sosok yang sangat anggun dan mempesona. Tatapan pertama Doddy saat dia mengajarkan akan pentingnya membangun kesadaran diri untuk menatap masa depan. Saat itulah, Doddy yang menjadi tenaga dosen di salah satu kampus swasta di Kuningan itu, menatap Fanny dengan tajam. Fanny membalas tatapan Doddy dengan manja, yang membuat Doddy lupa akan segala hal tentang posisinya sebagai seorang dosen.

Ia membersitkan diri dalam bathinnya, bahwa inilah jodohku. Berbagai kawan dan seniornya yang sedang berusaha untuk menjodohkannya dengan wanita lain, saat itu tiba-tiba sirna. Saat itu, aku hampir mengambil sikap pasti akan statusku sebagai seorang lajang, yang akan segera kuakhiri, tiba-tiba tatapan Fanny demikian menggodanya dengan kuat dan melumatkan semua hasyratnya untuk mendekati wanita lain.

Doddy juga ingat bagaimana setelah perkuliahan itu selesai. Ia menghampirinya dan bertanya: Hai nama kamu siapa? Ia menjawab, aku …. katanya sambil menggerakan jarinya ke dadanya. Ya … kata Doddy. Namaku Fanny pak. O, ya terima kasih. Ada apa pak, tanya Fanny lembut. Doddy menjawab, tidak Fan … ya udah pak. Aku pamit duluan … lalu Fanny mencium tangan Doddy dengan lembut. Itulah salaman yang membuat Doddy selama beberapa hari, tak mampu melupakannya. Charly Siera –Bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.