Sabarlah Agar Menjadi Cermin Tuhan| Belajar Menjadi Kekasih Allah Part-1

0 46

Siapa atau apa yang menjadi cermin Tuhan paling sempurna? Siapa atau apa pula makhluk yang paling taslim terhadap hukum-hukum Tuhan? Tepatkah dua pertanyaan itu, jika jawabannya ternyata tunggal, yakni manusia? Mengapa manusia selalu menjadi pertanyaan menarik dan menjadi kajian yang sulit menepi?

Terhadap pertanyaan pertama, penulis meyakini bahwa memang manusialah makhluk yang mampu menjadi cermin Tuhan. Ia dicipta dalam segenap kesempurnaan penciptaan. Dengan nalar ini, pantas kalau kemudian disebutkan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna. Ia mengalahkan Malaikat sekalipun yang “sehari-harinya” hanya beradala dalam lingkaran Tuhan.

Nalar Filosofi dan Nash Qur’an

Dalam tataran filosofi, paling tidak, nalar tadi pernah digunakan Al Jilli dengan konsep mirar al Allah. Gagasan ini dibangun dengan paradigma Platonik dalam suatu instrumen yang dalam Bahasa Arab dikenal dengan sebutan al fayd. Dalam Bahasa Inggris, hal itu disemaknakan dengan kata emanasi [pancaran]. Di sisi ini, manusia harus dipandang sebagai cermin Tuhan yang paling utuh.

Jika al Jilli membangun konsep al fayd melalui rumusan filosofi Platonik, maka, para mufassir sering memahami hal ini dengan nash Al- Qur’an. Sebut misalnya, Surat al Thin [95]: 4 yang menyatakan bahwa manusia adalah sebaik-baik bentuk ciptaan Tuhan.  Dalam surat al Isra [17]: 70 Allah juga menyatakan: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka didaratan dan dilautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Karena manusia lahir dalam segenap kesempurnaan, maka, segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia, harus juga sempurna. Untuk mencapai kesempurnaan hidup, Tuhan memberi ilustrasinya dengan diberinya segenap ujian. Hanya manusia yang selalu diuji Tuhan.

Misalnya, pernahkah ada keterangan yang menyatakan bahwa Malaikat  diuji dengan kekurangan harta? Ternyata tidak ada! Karena itu, segala sesuatu yang menimpa manusia adalah ujian.Untuk apa manusia diuji? Mungkin Tuhan akan mengukur, siapa di antara umat manusia yang paling pandai bersykur dan bersabar dalam segenap ujian dimaksud.

Mereka yang sabar menghadapi ujian Allah, haruslah diberi kabar gembira. Seperti apa Kabar gembira dimaksud? Ya tentu pahal besar yang hanya Tuhan yang tahu. Tetapi ciri mereka yang sabar dan akan mendapat pahala tak berhingga itu adalah mereka yang apabila diuji, akan mengatakan: “Sesungguhnya kami berasal dari sesuatu yang ideal [Allah] dan kami akan kembali kepada yang ideal juga [Allah]. Dengan cara apa? Ya dengan cara yang juga ideal. Menurut segenap hokum yang ditetapkan Tuhan (lihat surat al Baqarah [2]: 156). By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.