Sahadat Cerbon Sebagai Karya Sastra Masyarakat Lokal

0 192
Kalimat Sahadat Cerbon
Nurdin M Noer

SASTRA klasik Cerbon-Dermayu banyak digunakan secara pragmatis dalam fungsi sosial kemasyarakatan. Suluk, jawokan, dan sejenisnya merupakan jenis karya sastra klasik yang selama ini tumbuh dan berkembang, dan digenggam secara lisan mupun dituliskan kembali ketika peradaban tulis mulai masuk.

Keberadaan karya sastra Cirebon sudah diketahui sejak zaman Hindu, masa Islam, hingga perkembangan sekarang atau mutakhir. Pembagian perkembangan sastra Cirebon tersebut yakni dari mulai Masa Cirebon Kuna (sejak zaman Hindu Kuno hingga akhir abad ke-16), Masa Cirebon Tengahan (awal abad ke-17 sampai akhir tahun 1800-an), hingga Masa Cirebon Modern (sejak tahun 1800-an sampai pertengahan 1900) (Raharjo, 2006:11).

Perkembangan tersebut selain dipengaruhi oleh faktor bahasa itu sendiri, juga adanya faktor sejarah. Secara historis, sejak pertengahan abad ke-13 beberapa kerajaan/kesultanan besar ikut memberi pengaruh adanya bahasa Cirebon, antara lain pengaruh dari Kerajaan Majapahit (hingga abad ke-16), Kerajaan Sunda/Pajajaran (abad ke-15), Kesultanan Demak (abad ke-16), dan Kesultanan Mataram (abad ke-17).(NMN dkk, 2013).

Sahadat (syahadat) Cerbon merupakan contoh dari karya sastra masyarakat lokal yang berkembang di jalur Pantura Cirebon pada masa perkembangan Islam awal sekitar awal abad ke-15.. Sahadat atau sering diucapkan singkat ”sadat” dalam KBBI (2008) dimaknai sebagai 1 persaksian; 2 (Islam) persaksian dan pengakuan (ikrar) yg benar, diikrarkan dengan lisan dan dibenarkan dengan hati, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah; Makna yang sama dijelaskan dalam Tesaurus Indonesia (2008) sebagai pengakuan, persaksian, sedangkan dalam Ensklopedia Islam Indonesia (2002) memiliki lima pengertian, sebagai bukti, sumpah, gugur di jalan Allah,mati syahid,alam dunia, alam mayapada, kesaksian, pengakuan dan ijzah,diploma.

“Sahadat Cerbon” memang merupakan hasil pergumulan antara budaya Islam dan lokal. Sebagai karya sastra, sahadat ini tak lepas dari genggaman perpolitikan saat itu, yaitu untuk patuh terhadap Sunan Gunung Jati sebagai Raja Cirebon pertama. “Sahadat Cerbon” merupakan salah satu bentuk kepatuhan rakyat Cirebon terhadap rajanya saat itu.

Sahadat Cerbon

Liwang liwung gunung Sembung
ingkang nyambung
teng sapuncakè ing Gunungjati
palinggihanè Kanjeng Gusti Ratu Cerbon
jengkok Astana, endas Banten
gula Krawang, sikil Solo
waduk Cerbon.

(Liwang-liwung gunung Sembung
Yang bersambung
Pada puncaknya di Gunungjati
Tempat bertahtanya Gusti Ratu Cirebon
Bangku istana, kepala Banten
Gula Krawang, kaki Solo
Perut Cirebon).

Sastra Cerbon-Dermayu banyak digunakan secara pragmatis dalam fungsi sosial kemasyarakatan. Jenis sastra tersebut antara lain pribasa, gugon tuwon, wangsalan, dan parikan. Sebagai jenis kesusastraan yang berkembang pada masa yang masih dekat, yakni tahun 1800-an, ternyata hingga kini masyarakat masih memelihara dan menggunakannya di dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Hal itu terungkap misalnya pada prosesi panjang dalam momen pernikahan, bagi masyarakat pantai utara Cirebon-Indramayu senantiasa penuh nuansa sastra lisan (Kasim, 2012:64-67).

Kalimat Sadat Cerbon

Asyhadu sadat, waliat putih
mimet mumet imarat sadat Cerbon
cer kanoman manjing ning bumbung bungbus
los plas, los plas, los plas
malaékat Izroil, malaékat Isrofil
malaékat Munkar, malaikat Nangkir
tak prentahaken njokot sukma ragané si… (aran/nama)
yén lagi turu, tangékna
yén wis tangi, ménéa
sukmané moga welas asih
maring badané isun
yén isun tegesé wadon sejati
waluya jati wanita sejati.

Madu lenang-lenong manjing gading
endog sumanjur takabur-takabur
yakapirulah yakapiralim
gubug-gubug palang sarah
ya Muhammaddarasulullah
Lailahailallah Muhamaddarasulullah.

Niat isun arep ukup-ukup
kebul sarine menyan
ngukupi gaman sejabané,
sekebeké kukuban njaluk pangapura.

Pengakuan terhadap jumenengnya Sunan Gunung Jati sebagai Ratu Cirebon juga sekaligus menetapkan kesaksian,”Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya.” 

Madu lenang-lenong manjing gading // endog sumanjur takabur-takabur yakapirulah yakapiralim // gubug-gubug palang sarah // ya Muhammaddarasulullah // Lailahailallah Muhamaddarasulullah. 

(Madu berceceran masuk dalam gading//telur manur takabur-takabur yakapirullah yakapiralim/gubug-gubug menghadang sejarah //ya Muhammad utusan Allah // Tak ada Tuhan selain Allah,Muhammad utusanNya

Karya-karya sastra pada masa lalu sangat terikat dengan sufisme yang bersifat mitis. Bentuk kata-kata yang berbau mantra banyak dijumpai dalam suluk dan jawokan yang kini masih dipelihara masyarakat. Kata Simuh (2000), para cendekiawan Jawa yang menjemput bola, menyadap dan mengolah unsur-unsur budaya Hinduisme bagi pengembangan dan penghalusan budaya Kejawen. Bahwa yang teresapi pengaruh Hinduisme secara mendalam hanyalah lapisan atas; yakni budaya priyayi di lingkungan istana kerajaan-kerajaan Jawa. Adapun masyarakat petani perdesaan tetap dalam kegelapan buta huruf dan adat istiadat lama atas dasar religi animism-dinamisme.

“Sadat Cerbon” dan sadat-sadat lainnya yang kini masih berserak dalam bentuk manuskrip mapun lisan masih begitu kuat dalam pikiran masyarakat masa kini di jalur Pantura Cirebon. Sahadat sebagai persaksian sekaligus pengakuan merupakan jalan tengah (moderat) dalam mengislamkan masyarakat di daerah itu. Karya sastra ini berdiri di tengah antara pandangan Islam dan Hinduisme.***

Cirebon pertengahan Juli 2016

Sumber rujukan :
Kasim, Supali, dkk, Sastra Lokal dan Warna Lokal Cerbon – Dermayu (Dipasrbud, 2015)
Noer, Nurdin M dkk, Suluk dan Jawokan (Disporabud Jabar, 2015).
Simuh, (Interaksi Islam dalam Budaya Jawa, makalah, 2000).
———— Tesaurus Indonesia, Pusat Bahasa Depdikkbud, 2008
Tim IAIN Syarif Hidayatullah, EnsikolpediaIslam Indonesia, (Janbatan, 2002).
———– Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdikbud 2008)


Oleh: Nurdin M Noer

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Komentar
Memuat...