Salam Hangat untuk Trump dan Puttin

0 38

Salam Hangat Buat Trump dan Puttin. Trump dan Putin, seperti dikutif Reuters beberapa hari terakhir, kembali membuat gebrakan baru. Pemimpin dua negara adikuasa ini, tampak seperti ingin mengabaikan pesan-pesan publik, bahwa keduanya memang memiliki hubungan spesifik penuh misteri. Hubungan yang memungkinkan Trump menang dalam Pilpres Amerika Serikat setahun lalu. Tim Sukses Trump dituduh melakukan kolusi dengan beberapa pejabat Rusia untuk memenangkan dirinya

Dugaan adanya keterlibatan Rusia atas kemenangan Trump, belakangan sedang  diinvestigasi FBI. Ini pula yang menyebabkan Presiden dengan latar belakang pengusaha proferty Amerika ini marah. Ia akhirnya memecat Mantan Direktur FBI yang diangkat Obama, James Comay, karena dianggap membocorkan rahasia negara. Dengan candaan khasnya, Vladmir Puttin malah akan memberi suaka kepada Comey, tentu jika ia mau meminta suaka kepada negaranya, dan jika benar Trump menghukumnya.

Fenomena Comey, dalam anggapan tertentu akan sedikit mirip dengan apa yang menimpa Edward Joseph Snowden. Seorang pria kelahiran USA 1983, yang berprofesi sebagai kontraktor National Security Agency. Ia  dipecat karena membocorkan informasi program mata-mata rahasia NSA kepada pers. Agen CIA ini, tidak berkutik saat pemerintah USA memecat atas ulahnya yang cukup kontroversial ini.

Kali ini, Trump dan Putin direncanakan bakal bertemu di Hamburg, Jerman. Pertemuan keduanya bakal dihelat di sela-sela pertemuan negara-negara maju. Konferensi Tingkat Tinggi [KTT] negara dengan ekonomi kuat di dunia yang berjumlah 20 negara, dikenal dengan istilah G-20, akan menjadi wadah formal keduanya untuk bertemu. Penasihat Keamanan USA sendiri, yakni H.R. Mc. Master, memastikan akan adanya pertemuan kedua pemimpin negara dimaksud. Meski demikian, ia menyebut, belum memastikan waktu persis terjadinya pertemuan dimaksud.

Berbeda dengan Mc. Master, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, memastikan bahwa keduanya memang dijadwalkan untuk bertemu. Ia menyebut bahwa sangat tidak etis, jika upaya yang dilakukan Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel ini, untuk mempertemukan keduanya, tidak direspon dengan baik.

Hubungan Penuh Konflik

Pertemuan kedua pemimpin negara adikuasa ini, memang layak memperoleh berita menarik. Kedua negara tersebut bukan saja selalu memiliki sejarah konflik yang berlangsung panjang, tetapi, juga saat ini sedang vis to vis berbeda haluan dalam menentukan nasib Suriah. Negara dengan sejarah baru, di mana ia dipimpin salah seorang Presiden dengan latar belakang Syi’ah. Hal ini memiliki relevansi sejarah dengan apa yang terjadi di Iran dan Irak.

Diketahui bersama bahwa Rusia, mendukung penuh Presiden Suriah Bashar Al-Assad. Ia mengabaikan tekanan bangsa-bangsa Muslim Timur Tengah yang dipimpin Arab Saudi untuk menggulingkan pemerintahan Suriah yang lebih pro Iran ketimbang Arab Saudi. Padahal Arab Saudi termasuk di antara deretan negara yang selalu mendukung kebijakan Amerika. Karena itu wajar jika Trump berada di barisan negara-negara yang hendak menggulingkan Assad sebagai pemimpin Suriah.

Harapan kita, tentu saja semoga pertemuan ini tidak malah membuat kedua negara ini menjadikan Suriah sebagai Sansak dan adu kekuatan teknologi kedua negara. Semoga pertemuan dimaksud justru malah membawa berkah bagi kemajuan Suriah dan negara-negara Muslim lain di dunia. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka, mungkin tepat jika kita mengucapkan salam untuk keduanya. [Prof. Cecep Sumarna]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.