Sam Poo Kong; Warna-Warni Sejarah Budaya Semarang

0 187

Sam Poo Kong – Bekunjung di kota Semarang memang menawarkan banyak rasa. Dimulai dengan penataan kota yang rapih, bersih, udaranya tyang sejuk serta godaan kulinernya, hingga banyaknya destinasi tersembunyi yang tak bisa Anda temui di tempat lain tersaji di sini. Salah satu cara terbaik menikmati Semarang adalah dengan mencicipi wisata sejarahnya yang cukup menarik.

Seperti yang ditawarkan oleh salah satu Klenteng (rumah ibadah umat Kong Hu Tju) tua bernama Sam Poo Kong, yang akan mengajak Anda menyelami sejarah Semarang dari kaca mata peradaban Tionghoa dan nusantara di masa lampau.

Laksamana Zheng He sedang mengadakan pelayaran menyusuri pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah semenanjung. Karena ada awak kapal yang sakit, ia memerintahkan mendarat dengan menyusuri sebuah sungai yang sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa bernama Simongan.

Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. Zeng He memutuskan menetap untuk sementara waktu ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.

Selama di Simongan, Wang memimpin anak buahnya menggarap lahan, membangun rumah dan bergaul dengan penduduk setempat. Lingkungan sekitar gua jadi berkembang dan makmur karena aktivitas dagang maupun pertanian. Demi menghormati pimpinannya, Wang mendirikan patung Zheng He di gua batu tersebut untuk dihormati dan dikenang masyarakat sekitar. Inilah asal muasal dibangunnya Klenteng Sam Poo Kong di Semarang.

Wang meninggal pada usia 87 tahun dan dimakamkan di sekitar situ. Sejak itu masyarakat menyebutnya sebagai Makam Kyai Juru Mudi. Ketika gua batu runtuh akibat longsor, masyarakat membangun gua buatan yang letaknya bersebelahan dengan Makam Kyai Juru Mudi.

Laksamana Zheng He (Cheng Ho) terlahir dengan nama Ma San Bao. Itulah mengapa klenteng / tempat petilasan untuk Zheng He menggunakan nama Sam Poo Kong. Dalam dialek Hokkian, Sam Poo Kong atau San Bao Dong (Mandarin) artinya adalah gua San Bao.

Dikutip dari bonvoyagejogja.com,Ai??Asal muasal Klenteng Agung Sam Poo Kong adalah ketika armada Zheng He merapat di pantai Simongan ai??i?? Semarang karena juru mudinya, Wang Jing Hong sakit keras. Sebuah gua batu dijadikan tempat beristirahat Zheng He dan mengobati Wang Jing Hong. Sementara juru mudinya menyembuhkan diri, Zheng He melanjutkan pelayaran ke Timur untuk menuntaskan misi perdamaian dan perdagangan keramik serta rempah-rempah.

Yang membangun klenteng ini adalah orang-orang cina, untuk ibadahnya orang cina, yang mana Kong Hu Tju in dianggap atau diartikan sebagai budaya orang Cina, contoh dari tradisi Jawanya yaitu ziarah. Sama halnya dengan orang Cina, yang datan ke klenteng untuk berziarah, lalu mendoakan laksamana Cheng Hoo.

Dalam perjalanannya, Klenteng Agung Sam Poo Kong sudah beberapa kali menjalani pemugaran. Selain karena situasi politik yang tidak menentu pasca kemerdekaan, banjir merupakan masalah utama yang dihadapi Klenteng Agung Sam Poo Kong.

Revitalisasi besar-besaran dilakukan oleh Yayasan Sam Poo Kong pada Januari 2002. Pemugaran selesai pada Agustus 2005, bersamaan dengan perayaan 600 tahun kedatangan Laksamana Zheng He di pulau Jawa.

Peresmian dihadiri oleh Menteri Perdagangan Indonesia ai??i?? Mari Elka Pangestu datang ke Klenteng Agung Sam Poo Kong dan Gubernur Jawa Tengah ai??i?? H. Mardiyanto.

Hingga saat ini ada 5 bangunan Klenteng yang masih berdiri tegak, dari masing-masih bangunan memiliki fungsi dan sejarah tersendiri, berikut penjelasannya :

1 Klenteng Kyai Cundrik Bumi

Di jajaran bangunan pertama yaitu dinamakan Klenteng Dewa bumi. Orang yang datang kesini adalah yang percaya bahwa akan mendapat keberkahan dan panen yang melimpah atas berkat dari dewa bumi.

2 Klenteng Jurumudi

Yang di tengah ada klenteng yang bernama Klenteng Jurumudi, di dalam Klenteng ini terdapat makaam Nahkodanya Zheng He yang bernama Wang Jing Hong. Karena Zheng He pernah berlabuh di Semaramg, ketika itu Nahkoda sedang sakit keras lalu meninggal dan di makamkan di Semarang.

3 Klenteng Sam Poo Kong

Di jajaran yang ketiga terdapat Klenteng yang paling besar dan megah, yaitu Klenten Sam Poo Kong. Arti Sam Poo kong sendiri adalah yang dimuliakan atau yang agung, sebutan ini tentu saja ditujukan untuk Laksamana Zheng He. Bangunan ini dijadikan sebagai icon dari destinasi wisata ini, karena Klenteng Sam Poo Kong dibangun sebagai penghormatan laksamana Zheng He.

Klenteng ini memiliki 3 atap, dan di dalamnya terdapat bedug dan lonceng sebagai toleransi agama, karena Laksamana Zheng He sendiri beragama Islam.

4 Klenteng Kyai Jangkar

Yang keempat ada klenteng yang disebut Klenteng Kyai Jangkar. Maksud kyai di sini bukan berarti ditujukkan kepada sosok guru besar dan penyebar agama, namun lebih ditujukan kepada benda pusaka peninggalan dari Kyai Jangkar, atau yang biasa disebut benda yang dikeramatkan.

Untuk mencapai ke Klenteng ini, kita perlu berjalan lagi ke bawah tangga, karena Klenteng ini tidak tampak dari halaman utama.

5 Klenteng Nyai Tumpeng

Klenteng yang terakhir yaitu Klenteng Nyai Tumpeng, di dalam klenteng ini terdapat makam anak buah Zheng He yang meninggal di Semarang.Ai?? Banyak para prajurit yang singgah di Semarang lalu menikah dengan masyarakat local, dan mereka meninggal dan di makamkan diSemarang.

Kisah persinggahan Laksamana Zheng He ini sendiri diabadikan dalam bentuk patung raksasa yang bisa disaksikan oleh wisatawan saat mengunjungi Klenteng ini. Ditambah lagi, sejarah Cheng Ho semakin hidup ketika mengamati relief yang mengisahkan perjalanan Zheng He hingga tiba di pulau Jawa.

Adapun bangunan utama Klenteng memiliki berbagai ornamen yang didominasi oleh warna merah, mulai dari dinding, tiang, hingga rentetan lampion-lampion berwarna merah juga menghiasi bagian langit-langit bangunan. Dan di dalam klenteng Sam Poo Kong terdapat lonceng dan bedug, hal itu adalah bentuk dari gambaran toleransi agama.

Meski fungsi utamanya untuk tempat ibadah, Klenteng Sam Poo Kong bisa dikunjungi oleh siapapun, tak terbatas oleh agama hingga ras. Klenteng terbuka bagi siapa saja yang ingin menyaksikan sejarah keaneka ragaman masyarakat nusantara di masa lalu.

Komentar
Memuat...