Sang Guru Kejawen Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang)

5 2.061

SYEKH Siti Jenar atau dikenal sebagai “Syekh Lemah Abang” dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa masih dianggap sebagai sosok “guru” yang abadi. Meski ia telah lama mangkat, namun roh ajarannya tetap lekat pada batin mereka. Ia kemudian dianggap sebagai sosok abadi dalam dunia Kejawen.

Bagi kalangan kejawen, “Tuhan” terletak di hati, dan hidup adalah penyembahan terus-menerus kepada Yang Maha  Kuasa. Mereka tak habis mengerti, mengapa orang harus menyembah Tuhan lima kali sekari, atau datang ke gereja, atau mengapa doa-doa  mesti diteriakkan lewat pengeras suara di atas menara masjid. Dalam pemikiran kejawen Tuhan bukanlah sosok hakim yang jauh dan tak terjangkau, sebaliknya “Tuhan” lebih dekat pada manusia ketimbang apapun juga (Mulder,  2001).

Mulder mengutip Geertz (1960),  ritual inti dalam upaya untuk memertahankan. atau perintah “ganti rugi” adalah slametan, yaitu upacara sosial keagamaan komunal, pada upacara itu tetangga bersama beberapa kerabat dan teman-teman berpartisipasi. Slametan tersebut diadakan di seluruh lini kehidupan (dari bulan ke delapan kehamilan sampai hari keseribu setelah kematian).   Dalam kejadian siklus komunal (terutama bersih-bersih desa atau festival desa tahunan disertai dengan ritual pemurnian tertentu), kesejahteraan masyarakat dan keseimbangan telah terganggu. Pada slametan seluruh peserta menikmati status ritual yang sama, setiap orang yang hadir memberikan kontribusi sama untuk potensi spiritual acara. Oleh karena itu slametan seperti berfungsi untuk menunjukkan kesatuan yang harmonis (rukun) di antara para peserta, meminta restu dari para dewa, roh dan nenek moyang, yang secara resmi diundang untuk hadir.

Ritual kunci berfungsi untuk menunjukkan keinginan untuk “slamet” melalui upaya untuk mencapai kontinuitas terganggu atau untuk memerbaiki keseimbangan yang terganggu. Agar kehidupan mereka lebih baik, sekarang atau di akhirat, bahwa manusia dapat berperan aktif dalam pemeliharaan ketertiban ini dan dapat memengaruhi jalannya tertib acara, memerintahkan hubungan sosial menjadi sarana dan kondisi untuk memromosikan keadaan “slamet”. Akibatnya, sulit untuk memisahkan tugas sosial dari kewajiban agama, dan kita harus melihat dalam pandangan dunia dan etika untuk elaborasi agama bermakna lebih lanjut. Hanya kemudian untuk lebih banyak latihan mistis secara  individu yang berpusat pada agama Jawa yang diklarifikasi dan untuk memahami pluralitas ekspresi keagamaan abangan (ibid).

Pencapaian hakikat  mistis harus tanpa tujuan sosial atau egoisme (pamrih), tetapi harus termotivasi untuk hidup selaras dengan kehidupan dan takdir. Kehidupan sosial dan persyaratan ritual, termasuk partisipasi dalam ritual formal, agama “resmi” (sarengat), adalah bentuk-bentuk lahiriah belaka, berguna sebagai semacam latihan disiplin, tetapi mewakili jauh dari bentuk-bentuk yang benar dari ekspresi keagamaan. Ini adalah budidaya individualitas dalam, dari benar saya (ingsun sejati), diputar dari bentuk luar ekspresi sosial, yang merupakan objek dari praktek kebatinan. Dalam praktek yang satu bebas, masyarakat menjadi toleran tentang pemikiran keagamaan individu dan ekspresi. Dalam kebatinan orang berusaha untuk mencapai kesatuan sejati dengan kehidupan, sebagai keseimbangan pribadi melalui praktek pertapaan dan meditasi. Selain itu, praktek ini berfungsi sebagai metode yang sering digunakan sublimasi dari frustrasi (Mulder 1980).

Siapa Syekh Siti Jenar atau Lemah Abang ? Catatan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara  (Wangsakerta, 1670) memberikan keterangan, setelah kedatangan Syekh Lemah Abang di Pulau Jawa, banyak para pemuka agama Islam tidak senang kepadanya, karena walaupun sama-sama Islam namun ia selalu berbuat aib dan selalu menjadi celaan.

Syekh Siti Jenar atau Lemah Abang dilahirkan di Malaka di Sanghyang Hujung, ia bersaudara dengan Syekh Datuk Kahfi, Sunan Ampel Denta, Syarif Hidayat, Pangeran Panjunan, dan para wali lainnya di Pulau Jawa. Ketika kecil bernama Abdul Jalil, pada usia remaja pergi ke Parsi lalu ke Bagdad, di sana ia berguru kepada penganut Syiah Muntadar, oleh karena itu ia penganutnya. Setelah pandai ia pergi ke Ghujarat dan kembali lagi ke Malaka dengan sebutan Ki Syekh Datuk Jabaranta dan beristri dengan perempuan Ghujarat.

Pada perkawinannya beranak Ki Datuk Fardhun/Ki Datuk Bardut. Bersama Syekh Datuk Kahfi, ia tinggal di Gunung Amparan lalu di Cirebon Ghirang dan mendapatkan banyak murid lalu ke Pengging dan Bupati Pengging yaitu Ki Ageung Kebo Kenongo menjadi muridnya lalu ke Panjunan di Cirebon. Maka banyaklah muridnya di sana, ia juga pernah tinggal sebentar di Palembang.

Oleh para Wali yang sembilan ia dimusuhi, karena ia mengucapkan perkataan yang tabu dan berhenti melakukan kewajibannya yaitu syari’at Rasul. Perkataannya itu adalah: “Bahwa saya adalah Tuhan Yang Esa, Tuhan Yang Esa ada di hatiku” maka para wali memusuhinya, apalagi ia bersama Ki Ageung Pengging berkehendak mendirikan kerajaan lalu menyerang Demak. Ia juga berkehendak mengalihpujakan semua anutan menjadi Syiah dan berkehendak menjadi raja di Pulau Jawa.

Lalu Ki Ageung Pengging dibunuh oleh Sunan Kudus, semua murid Syekh Siti Jenar melarikan diri ke Cirebon, sedangkan Syekh Siti Jenar berlindung di Cirebon Ghirang. Berita ini telah terdengar oleh Raden Patah, maka dikirimlah Sunan Kudus berikut bala tentaranya sebanyak 700 orang ke Cirebon untuk menyampaikan surat dari Sultan Demak kepada Sunan Cirebon yang isinya agar Sunan Carbon dapat menangkap dan membunuh Syekh Lemah Abang. Permintaan Sultan Demak tersebut disetujui oleh Sunan Cirebon, lalu Sunan Kudus diperintah oleh Sunan Jati untuk pergi ke Cirebon Ghirang.

Akhirnya Syekh Lemah Abang ditangkap berikut pengikutnya lalu dibawa ke Mesjid Besar Sang Ciptarasa, di dalam mesjid terjadi perang mulut antara Syekh Lemah Abang dengan para Wali hingga marahlah para Wali kepadanya. Maka diputuskanalah, bahwa Syekh Lemah Abang dikenai hukuman mati, lalu Sunan Kudus diperintah untuk membunuhnya.

Setelah Sunan Kudus membunuh Syekh Lemah Abang, jenazahnya dikuburkan di kampung Kemlaten Cirebon, sedangkan semua muridnya dilepaskan dan menjadi pengikut Syekh Syarif Hidayat. Banyak orang yang memuja makam Syekh Lemah Abang, oleh karena itu Sunan Carbon menyuruh pengawalnya untuk memindahkannya ka Gunung Amparan, sedangkan makamnya digantikan dengan Aswa Cemanireng. Lalu para pengikut Syiah dikumpulkan di Kemlaten, mereka meminta kepada Sunan Cirebon agar mayat  Syekh Lemah Abang dimakamkan di Pengging, oleh Sunan Cirebon disetujuinya. (Baca: Awal Kerajaan Cirebon)

Namun sangat terkejutnya para pengikut Syekh Lemah Abang ketika melihat makam berisi Aswa Cemanireng, lalu Sunan Cirebon memberi nasehat kepada mereka semua:  “Janganlah kalian memuja mayat ini, tetapi yang harus dipuja adalah Hyang Widi, ketahuilah keadaan di bumi ini bahwa manusia harus ingat akan kewajibannya yaitu memuja Hyang Widi, karena tidak ada manusia di seluruh dunia ini yang kuasa menandingi kekuasaan-Nya”. Setelah itu banyak murid Syekh Lemah Abang menjadi murid Sunan Cirebon. (hal. 242-265) ***

Oleh: NURDIN M. NOER (Wartawan senior, pemerhati kebudayaan lokal)

Rujukan Pustaka :

Mulder,  Niels Mistisisme Jawa, LkiS,  2001

Wangsakerta (1670), Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara  (alihbasa dan aksara Manasa,  2013).

  1. Arfan berkata

    Bismillah, sebaiknya penulis perbanyak mencari tau siapa sejati Syeh Siti Jenar, jangan asal mengarang cerita Fitnah.

  2. BETTY NOVITA SARI berkata

    Kita tidak bisa langsung mengjudge ajaran syekh siti jenar itu menyimpang atau tidak. Arahan beliau kurang tepat apabila diterapkan pada kebudayaan indonesia khususnya. Dan ketauhidan yang beliau pahami terlalu sulit dimengerti. Dia tidak menganggap Al Quran itu sebagi sumber ajaran yang paling utama. Dan ia menganggap dirinya sebagai tuhan ketika ia sudah memiliki pemikiran yang banyak. Tentu sunan pada saat itu tidak lagi menganggap (syekh siti jenar) termasuk kedalam 9 sunan tersebut. Wallahualam nuhun. #1415104018

  3. Eltendi Dhirgan berkata

    beliau mempunyai kharisma tersendiri, tingkat iman paling tinggi. luar biasa…

  4. ayu heti nursifa berkata

    Jadi pada intinya ajaran syekh siti jenar itu benar tetapi banyak orang yang menganggap ajaranya itu menyesatkan karena dia mengaku sebagai tuhan dan ada pendapat dia juga bahwa al- qur’an itu itu bukan sumber ilmu yang patut di pelajari dan dalam pemahaman ketauhidannya pun sulit untuk di fahami dengan pemikiran kita sebenarnya bisa di fahami namun terlalu rumit untuk memahaminya. oleh karena itu syekh siti jenar tidak di anggap sebagai wali sanga dan di bunuh oleh sunan kudus. tapi ada juga orang yang berpendapat apabila ajaran syekh siti jenar itu di katakan tidak sesat hanya saja tidak cocok apabila di terapkan dalam kultur indonesia. dan selebeihnya wallahu a’lam

    1. Acep Muhammad Lutpi
      Acep Muhammad Lutpi berkata

      Komentar yg bagus..

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.