Sang Guru Kejawen Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang)

0 2.686

SYEKH Siti Jenar atau dikenal sebagai “Syekh Lemah Abang” dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa masih dianggap sebagai sosok “guru” yang abadi. Meski ia telah lama mangkat, namun roh ajarannya tetap lekat pada batin mereka. Ia kemudian dianggap sebagai sosok abadi dalam dunia Kejawen.

Bagi kalangan kejawen, “Tuhan” terletak di hati, dan hidup adalah penyembahan terus-menerus kepada Yang Maha  Kuasa. Mereka tak habis mengerti, mengapa orang harus menyembah Tuhan lima kali sekari, atau datang ke gereja, atau mengapa doa-doa  mesti diteriakkan lewat pengeras suara di atas menara masjid. Dalam pemikiran kejawen Tuhan bukanlah sosok hakim yang jauh dan tak terjangkau, sebaliknya “Tuhan” lebih dekat pada manusia ketimbang apapun juga (Mulder,  2001).

Mulder mengutip Geertz (1960),  ritual inti dalam upaya untuk memertahankan. atau perintah “ganti rugi” adalah slametan, yaitu upacara sosial keagamaan komunal, pada upacara itu tetangga bersama beberapa kerabat dan teman-teman berpartisipasi. Slametan tersebut diadakan di seluruh lini kehidupan (dari bulan ke delapan kehamilan sampai hari keseribu setelah kematian).   Dalam kejadian siklus komunal (terutama bersih-bersih desa atau festival desa tahunan disertai dengan ritual pemurnian tertentu), kesejahteraan masyarakat dan keseimbangan telah terganggu. Pada slametan seluruh peserta menikmati status ritual yang sama, setiap orang yang hadir memberikan kontribusi sama untuk potensi spiritual acara. Oleh karena itu slametan seperti berfungsi untuk menunjukkan kesatuan yang harmonis (rukun) di antara para peserta, meminta restu dari para dewa, roh dan nenek moyang, yang secara resmi diundang untuk hadir.

Ritual kunci berfungsi untuk menunjukkan keinginan untuk “slamet” melalui upaya untuk mencapai kontinuitas terganggu atau untuk memerbaiki keseimbangan yang terganggu. Agar kehidupan mereka lebih baik, sekarang atau di akhirat, bahwa manusia dapat berperan aktif dalam pemeliharaan ketertiban ini dan dapat memengaruhi jalannya tertib acara, memerintahkan hubungan sosial menjadi sarana dan kondisi untuk memromosikan keadaan “slamet”. Akibatnya, sulit untuk memisahkan tugas sosial dari kewajiban agama, dan kita harus melihat dalam pandangan dunia dan etika untuk elaborasi agama bermakna lebih lanjut. Hanya kemudian untuk lebih banyak latihan mistis secara  individu yang berpusat pada agama Jawa yang diklarifikasi dan untuk memahami pluralitas ekspresi keagamaan abangan (ibid).

Pencapaian hakikat  mistis harus tanpa tujuan sosial atau egoisme (pamrih), tetapi harus termotivasi untuk hidup selaras dengan kehidupan dan takdir. Kehidupan sosial dan persyaratan ritual, termasuk partisipasi dalam ritual formal, agama “resmi” (sarengat), adalah bentuk-bentuk lahiriah belaka, berguna sebagai semacam latihan disiplin, tetapi mewakili jauh dari bentuk-bentuk yang benar dari ekspresi keagamaan. Ini adalah budidaya individualitas dalam, dari benar saya (ingsun sejati), diputar dari bentuk luar ekspresi sosial, yang merupakan objek dari praktek kebatinan. Dalam praktek yang satu bebas, masyarakat menjadi toleran tentang pemikiran keagamaan individu dan ekspresi. Dalam kebatinan orang berusaha untuk mencapai kesatuan sejati dengan kehidupan, sebagai keseimbangan pribadi melalui praktek pertapaan dan meditasi. Selain itu, praktek ini berfungsi sebagai metode yang sering digunakan sublimasi dari frustrasi (Mulder 1980).

Siapa Syekh Siti Jenar atau Lemah Abang ? Catatan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara  (Wangsakerta, 1670) memberikan keterangan, setelah kedatangan Syekh Lemah Abang di Pulau Jawa, banyak para pemuka agama Islam tidak senang kepadanya, karena walaupun sama-sama Islam namun ia selalu berbuat aib dan selalu menjadi celaan.

Syekh Siti Jenar atau Lemah Abang dilahirkan di Malaka di Sanghyang Hujung, ia bersaudara dengan Syekh Datuk Kahfi, Sunan Ampel Denta, Syarif Hidayat, Pangeran Panjunan, dan para wali lainnya di Pulau Jawa. Ketika kecil bernama Abdul Jalil, pada usia remaja pergi ke Parsi lalu ke Bagdad, di sana ia berguru kepada penganut Syiah Muntadar, oleh karena itu ia penganutnya. Setelah pandai ia pergi ke Ghujarat dan kembali lagi ke Malaka dengan sebutan Ki Syekh Datuk Jabaranta dan beristri dengan perempuan Ghujarat.

Pada perkawinannya beranak Ki Datuk Fardhun/Ki Datuk Bardut. Bersama Syekh Datuk Kahfi, ia tinggal di Gunung Amparan lalu di Cirebon Ghirang dan mendapatkan banyak murid lalu ke Pengging dan Bupati Pengging yaitu Ki Ageung Kebo Kenongo menjadi muridnya lalu ke Panjunan di Cirebon. Maka banyaklah muridnya di sana, ia juga pernah tinggal sebentar di Palembang.

Oleh para Wali yang sembilan ia dimusuhi, karena ia mengucapkan perkataan yang tabu dan berhenti melakukan kewajibannya yaitu syari’at Rasul. Perkataannya itu adalah: “Bahwa saya adalah Tuhan Yang Esa, Tuhan Yang Esa ada di hatiku” maka para wali memusuhinya, apalagi ia bersama Ki Ageung Pengging berkehendak mendirikan kerajaan lalu menyerang Demak. Ia juga berkehendak mengalihpujakan semua anutan menjadi Syiah dan berkehendak menjadi raja di Pulau Jawa.

Lalu Ki Ageung Pengging dibunuh oleh Sunan Kudus, semua murid Syekh Siti Jenar melarikan diri ke Cirebon, sedangkan Syekh Siti Jenar berlindung di Cirebon Ghirang. Berita ini telah terdengar oleh Raden Patah, maka dikirimlah Sunan Kudus berikut bala tentaranya sebanyak 700 orang ke Cirebon untuk menyampaikan surat dari Sultan Demak kepada Sunan Cirebon yang isinya agar Sunan Carbon dapat menangkap dan membunuh Syekh Lemah Abang. Permintaan Sultan Demak tersebut disetujui oleh Sunan Cirebon, lalu Sunan Kudus diperintah oleh Sunan Jati untuk pergi ke Cirebon Ghirang.

Akhirnya Syekh Lemah Abang ditangkap berikut pengikutnya lalu dibawa ke Mesjid Besar Sang Ciptarasa, di dalam mesjid terjadi perang mulut antara Syekh Lemah Abang dengan para Wali hingga marahlah para Wali kepadanya. Maka diputuskanalah, bahwa Syekh Lemah Abang dikenai hukuman mati, lalu Sunan Kudus diperintah untuk membunuhnya.

Setelah Sunan Kudus membunuh Syekh Lemah Abang, jenazahnya dikuburkan di kampung Kemlaten Cirebon, sedangkan semua muridnya dilepaskan dan menjadi pengikut Syekh Syarif Hidayat. Banyak orang yang memuja makam Syekh Lemah Abang, oleh karena itu Sunan Carbon menyuruh pengawalnya untuk memindahkannya ka Gunung Amparan, sedangkan makamnya digantikan dengan Aswa Cemanireng. Lalu para pengikut Syiah dikumpulkan di Kemlaten, mereka meminta kepada Sunan Cirebon agar mayat  Syekh Lemah Abang dimakamkan di Pengging, oleh Sunan Cirebon disetujuinya. (Baca: Awal Kerajaan Cirebon)

Namun sangat terkejutnya para pengikut Syekh Lemah Abang ketika melihat makam berisi Aswa Cemanireng, lalu Sunan Cirebon memberi nasehat kepada mereka semua:  “Janganlah kalian memuja mayat ini, tetapi yang harus dipuja adalah Hyang Widi, ketahuilah keadaan di bumi ini bahwa manusia harus ingat akan kewajibannya yaitu memuja Hyang Widi, karena tidak ada manusia di seluruh dunia ini yang kuasa menandingi kekuasaan-Nya”. Setelah itu banyak murid Syekh Lemah Abang menjadi murid Sunan Cirebon. (hal. 242-265) ***

Oleh: NURDIN M. NOER (Wartawan senior, pemerhati kebudayaan lokal)

Rujukan Pustaka :

Mulder,  Niels Mistisisme Jawa, LkiS,  2001

Wangsakerta (1670), Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara  (alihbasa dan aksara Manasa,  2013).

Komentar
Memuat...