Sang Juhud-pun Bertekuk dalam Logika Cinta Rabi’ah dalam Shufi Cinta Part-3

0 38

Suatu hari, suami dari satu-satunya shufi Muslimah, bernama Rabi’ah al-‘Adawiyah wafat, Hasan al Bashri yang dikenal sebagai ahli juhud dan sekaligus guru dari dirinya itu, datang ke rumahnya bersama beberapa juhud lain. Tujuannya tunggal, yakni melamar dirinya tentu setelah masa iddahnya habis. Lalu, Karena Hasan al Bashri dikenal juhud dan tentu ia juga merupakan gurunya, Rabi’ah al-‘Adawiyah membukakan tirai dan duduk di belakang tabir yang dia bukakan.

Kisah ini, dapat juga dibaca dalam kitab Uqud Al-Lujain fi Bayani Huquq-Zaujain. Kitab ini, disusun ulama fiqih terkenal dari Jawa yang lama muqiem di Saudi Arabiyah. Nama ulama pengarang kitab dimaksud adalah Imam Nawawi Al-Bantani, yang belakangan karyanya ini banyak dihujat sebagian masyarakat Muslim pro gerakan gender. Dalam kitab dimaksud, terjadilah dialog ketuhanan antara Rabiatul Adawiyah dengan Hasan al Bashri berikut ini:

Dialog Rabi’ah dengan Hasan al Bashri

Hai … suamimu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Bisakah kamu memilih pengganti suamimu dari di antara kami ini? Di luar dugaan, Rabiatul Adawiyah mejawab dengan kalimat berikut ini. Oke … sejujuenya aku sangat senang dan memuliakan saudara semua. Namun jika diperkenankan, idzinkan saya bertanya, siapakah di antara kalian yang paling alim, sehingga pantas untuk kujadikan sebagai suami baruku. Para sahabat Hasan al Bashri mengatakan, bahwa yang paling alim di antara mereka adalah Hasan al Bashri. Bathin Rabiatul Adawiyah tidak salah. Pasti yang bakal ditunjuk adalah Hasan al Basri.

Oke jika demikian, aku akan meminta jawaban darimu atas empat pertanyaan yang kumiliki. Jika anda bisa menjawab empat pertanyaan ini, aku pastikan bahwa aku dapat menjadi istrimu. Hasan dengan tangkas mengatakan: “Jika Tuhan memberiku petunjuk, maka, aku akan bisa menjawab”.

Apakah aku akan meninggal sebagai seorang Muslimah atau sebagai seorang kafir? Bagaimana menurutmu, Malaikat Munkar dan Nakir ketika bertanya kepadaku, apakah aku akan mampu menjawab pertanyaan mereka atau tidak?” “Aku bersama manusia lain bakal dikumpulkan di alam mahsyar, buku yang mencatat perbuatan manusia berterbangan. Sebagian manusia ada yang diberikan buku amalnya dari sebelah kanan atau dari arah depan. Ini menandakan bahwa dirinya adalah orang Mukmin yang taat. Sedangkan, sebagian lagi ada yang mendapatkan bukunya itu dari sebelah kiri atau dari arah belakang yang menandakan bahwa dirinya adalah orang kafir. Menurutmu, apakah aku akan diberikan buku catatan amal dari sebelah kananku atau dari sebelah kiriku? Jika di Hari Kiamat dipanggil untuk masuk ke dalam surga dan sekelompok lain masuk ke dalam neraka, apakah aku akan termasuk manusia yang dipanggil Syurga atau masuk ke dalam neraka?”

Hasan al Bashri Kalah Telak

Empat pertanyaan itu, tentu tak mampu dijawab Iman Hasan al Bashri. Ia menjawab Masalah kematian berikut tanda-tandanya, bisa atau tidak bisa menjawab pertanyaan Malaikat di Kubur, buku diterima dari tangan kanan atau tangan kiri, menjadi penghuni syurga atau neraka, semuanya adalah masalah ghaib bagi makhluk.”

Lalu Rabi’ah al Adawiyah berkata: Pantaskah seseorang –tentu yang dimaksud adalah dirinya– gelisah terhadap keempat pertanyaan seperti yang saya sampaikan tadi, membutuhkan seorang suami yang bakal menghabiskan waktunya hanya untuk memilih dan melayani suami?” Hasan al Bashri tentu gigit jari dan tak berhasil mendapatkan cintanya. By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.