Santri Bertipikal Khusus

0 11

Suatu hari, ada seorang alumni sekaligus aktivis HMI Cabang Cirebon asal Ciamis datang ke Cirebon. Hari ini, dia menjadi Sekretaris PC NU Kabupaten Ciamis dan menjadi Ketua KPU. Kedatangannya tentu dikerubuti mahasiswa priangan yang ada di Cirebon. Ia pantas dikerubuti karena memenuhi syarat untuk disebut sebagai santri bertipikal khusus.

Pertemuan dengan Santri Bertipikal Khusus

Di sini, mereka sama dengan diri dan teman-temannya yang lain, secara umum mengambil studi di IAIN, Unswagati, IKMI, Institut Agama Islam Bunga Bangsa dan UMC. Selain sebagai mahasiswa aktif, mereka mengikuti kegiatan ekstra kurikuler di HMI, KAMMI, PMII dan GMNI.

Latar belakang mereka sebelum menjadi mahasiswa, umumnya santri. Mereka mengikuti pendidikan di Haur Koneng, Cipasung, Sukahideng, Miftahul Huda Manonjaya, Al Hasan, Cijantung, Darussalam, Athahiriyah Cikatomas dan Bahrul Ulum. Dengan latar belakang pondok pesantren seperti itu, dapat dipastikan kalau mereka itu nyantri dengan baik dan benar dipesantrennya masing-masing.

Dalam pertemuan itu, ada sebagian di antara mereka yang bingung kalau bukan kaget karena untuk pertama kalinya, harus berhadapan dengan rumusan baru bahwa kalau alumni pesantren harus masuk organisasi tertentu saja.

Bingung bukan karena enggan mengikuti, tetapi, ada apa sesungguhnya dengan fenomena keislaman ini? Maklum, senior mereka dari pesantren dimaksud, yang belajar S1 di Jakarta, Jogjakarta, Bandung dan Cirebon, ketika mengunjungi pesantrennya untuk mengikuti re-uni-an, kebanyakan mengikuti organisasi ekstra kampus seperti mereka hari ini. Ketika mereka melakukan re-uni-an di pesantrennya masing-masing, kyai sepuh dan ustadz-ustdz yang ada di pesantren itupun, tidak pernah mempersoalkan kegiatan apa yang diikuti alumni pesantrennya itu setelah ke luar dari pesantren mereka. Akhirnya, alumni itu tetap enjoy dan tetap diakui sebagai santri yang baik meski tidak mengikuti organisasi tertentu.

Kyai kami tidak pernah memperkenalkan organisasi massa kepada kami. Celetuk seorang peserta pertemuan. Yang lain mengamini. Kami juga selama tiga sampai enam tahun mondok di pesantren, tidak pernah diajarkan kekerasan, tidak pernah diajari sikap intoleran apalagi menyalahkan yang lain. Kami fokus ngaji saja. Kami tetap hanya membaca kitab-kitab salaf yang kami imani sebagai sebuah kebenaran.

Kyai kami tetap menjadi makmum sekalipun sama kami, ketika suatu waktu shalat dia datang terlambat yang menyebabkan kami terpaksa menjadi imam. Kyai kami tetap memberi kami harapan bahwa Islam itu selalu rahman dan selalu rahiim. Hanya dengan dua sipat inilah, kata kyai kami, Islam dapat dipertahankan. Perbedaan sepanjang bersipat furu’iyah, tetap dijamin kebolehannya untuk diikuti.

Santri Bertipikal Khusus adalah Toleran

Tetapi, mengapa di sini, santri atau mereka yang bekas santri seolah-olah  harus hanya mengikuti satu organisasi ekstra kampus saja? Mengapa tidak boleh kepada yang lain? Kata seorang jebolan pesantren ternama di Ciamis. Yang lain mengomentari lagi, mengapa jika tidak mengikuti alur itu, kami dianggap sesat dan dianggap tidak layak tinggal di pesantren.

Ada lagi seorang peserta yang kesan-nya lebih vulgar. Dia mempertanyakan, mengapa kami dihalangi, karena kami mengikuti pendidikan pesantren di sini untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler lain selain yang dianjurkan pimpinan Pesantren.

Saat seorang alumni pesantren dari Cijantung itu berbicara, semua peserta diam. Karena mereka juga tidak mengerti. Kami bukan ingin diakui sebagai santri di sini, tetapi, santri seharusnya menjadi bagian penting mentransformasi Islam kaffah yang toleran terhadap yang lain. Dan menurut kami, hanya dengan sosok seperti itulah, seseorang  layak disebut santri. Team lyceum.id

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.