SARA atau Penistaan Agama, Polemik yang Sulit Berujung

0 34

Drama Al Maidah 51, yang menyeret Petahana Gubernur DKI Jakarta –Basuki Cahaya Purnama (AHOK)– dalam kontroversi politik nasional,  sampai saat ini belum berakhir. Drama ini, sedikitpun tidak menunjukkan adanya pembelahan antara Muslim “versus” non Muslim, setidaknya jika ukurannya berbagai pemberiataan media cetak dan elektronik, tetapi, yang terjadi justru Muslim versus Muslim. Umat Islam “berperang” sendiri yang ujungnya agak sulit untuk diterka.

Bagi saya, fenomena ini, lepas dari posisi mana kita berada atau mengambil sikap, fakta menunjukkan bahwa fenomena tadi telah membuat umat Islam kembali gagal menunjukkan jati diri dan eksistensinya sebagai kelompok yang secara teoretik seharusnya gemar melakukan ukhuwah Islamiyah.

Kegagalan itu, bukan saja terlihat dari lemahnya masyarakat Muslim dalam memainkan perannya dalam konteks kontestasi politik, tetapi, kini telah membuat umat ini menjadi demikian terbelah dalam konteks kultural; lepas dari muatan politik masing-masing versus yang melatarbelakanginya.

Situasi ini, bukan saja telah mengganggu hubungan pribadi masayarakat Muslim yang berbeda-beda di Indonesia, tetapi, akan kembali menguji kedewasaan  sikap keberagaman dan keberagamaan masyarakat Muslim itu sendiri. Masing-masing pihak di antara masyarakat Muslim itu, secara dramatis diikuti dengan cucuran air mata masing-masing.

Jika fenomena ini ditarik dalam lanskap sejarah politik Islam Indonesia sejak zaman kemerdekaan sampai sekarang, maka, kita akan menjadi demikian mudah untuk menyimpulkannya. Para pemimpin Indonesia terdahulu, dalam perpektif ini, ternyata sejatinya bukan karena mereka kurang peduli terhadap keinginan umat Islam, tetapi, mereka ragu untuk mengikuti pikiran seperti apa yang harus diikuti atau ditetapkan mereka.

Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurachman Wachid, Megawati, Soesilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, saya kira atau siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini, selalu akan sulit mengambil kebijakan politik nasional, jika direlevansikan dengan karakter masyarakat Muslim ketika akan mengambil sikap dalam kepentingan Muslim itu sendiri, karena, tampaknya sejak dulu, selalu terdapat keragaman pandangan didalamnya yang ekstrem.

Fenomena Al Maidah 51

Sebut misalnya soal isu al Maidah 51. Fenomena dimaksud, saat ini sedang terjadi tarik menarik kekuatan dalam bentuk Psywar antara icon penistaan agama atau ayat suci, dan polemik isu SARA. Menarik untuk disebut bahwayang menyatakan isu SARA atau penistaan agama, sama-sama Muslimnya, tentu dengan logikanya sendiri-sendiri.

Bagi siapapun yang membaca fenomena tadi, tentu akan sangat mudah sekali untuk menebak, di posisi mana umat Islam berada. jika, informasi yang tiada henti membincangkan isu SARA, maka, seolah apa yang dilakukan ribuan Muslim yang dinakhodai beberapa Ormas Islam, termasuk MUI, berada di balik suatu sikap  yang melihat bahwa pernyataan Ahok dimaksud, tidak lebih dari muatan politik yang anti Ahok. Karenanya, isu ini penuh resiko SARA.

Di sisi lain, mereka yang menyatakan bahwa apa yang diucapkan Ahok atas al Maidah 51, sebagai penistaan agama dan ayat suci, sebagai sesuatu yang lepas dari kepentingan politik atau apalagi isu SARA. Mereka berasumsi bahwa, jika-pun yang menyatakan hal dimaksud, dilakukan oleh tokoh Muslim sekalipun, tetap harus dipandang melakukan pelecehan dan penistaan.

Baca Juga : Penistaan Agama Kemana Akhirnya?

Karenanya, soal dimaksud, tidak termasuk ke dalam soal SARA. Tetapi, fakta bahwa isu penistaan agama atas apa yang dilakukan Ahok ini, perlahan tampaknya mulai kehilangan energi. Karenanya, kita tetap sulit meraba, ke mana situasi ini akan berakhir. By…. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...