SARA atau Penistaan Agama, Polemik yang Sulit Berujung

1 27

Drama Al Maidah 51, yang menyeret Petahana Gubernur DKI Jakarta –Basuki Cahaya Purnama (AHOK)– dalam kontroversi politik nasional,  sampai saat ini belum berakhir. Drama ini, sedikitpun tidak menunjukkan adanya pembelahan antara Muslim “versus” non Muslim, setidaknya jika ukurannya berbagai pemberiataan media cetak dan elektronik, tetapi, yang terjadi justru Muslim versus Muslim. Umat Islam “berperang” sendiri yang ujungnya agak sulit untuk diterka.

Bagi saya, fenomena ini, lepas dari posisi mana kita berada atau mengambil sikap, fakta menunjukkan bahwa fenomena tadi telah membuat umat Islam kembali gagal menunjukkan jati diri dan eksistensinya sebagai kelompok yang secara teoretik seharusnya gemar melakukan ukhuwah Islamiyah.

Kegagalan itu, bukan saja terlihat dari lemahnya masyarakat Muslim dalam memainkan perannya dalam konteks kontestasi politik, tetapi, kini telah membuat umat ini menjadi demikian terbelah dalam konteks kultural; lepas dari muatan politik masing-masing versus yang melatarbelakanginya.

Situasi ini, bukan saja telah mengganggu hubungan pribadi masayarakat Muslim yang berbeda-beda di Indonesia, tetapi, akan kembali menguji kedewasaan  sikap keberagaman dan keberagamaan masyarakat Muslim itu sendiri. Masing-masing pihak di antara masyarakat Muslim itu, secara dramatis diikuti dengan cucuran air mata masing-masing.

Jika fenomena ini ditarik dalam lanskap sejarah politik Islam Indonesia sejak zaman kemerdekaan sampai sekarang, maka, kita akan menjadi demikian mudah untuk menyimpulkannya. Para pemimpin Indonesia terdahulu, dalam perpektif ini, ternyata sejatinya bukan karena mereka kurang peduli terhadap keinginan umat Islam, tetapi, mereka ragu untuk mengikuti pikiran seperti apa yang harus diikuti atau ditetapkan mereka.

Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurachman Wachid, Megawati, Soesilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, saya kira atau siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini, selalu akan sulit mengambil kebijakan politik nasional, jika direlevansikan dengan karakter masyarakat Muslim ketika akan mengambil sikap dalam kepentingan Muslim itu sendiri, karena, tampaknya sejak dulu, selalu terdapat keragaman pandangan didalamnya yang ekstrem.

Fenomena Al Maidah 51

Sebut misalnya soal isu al Maidah 51. Fenomena dimaksud, saat ini sedang terjadi tarik menarik kekuatan dalam bentuk Psywar antara icon penistaan agama atau ayat suci, dan polemik isu SARA. Menarik untuk disebut bahwayang menyatakan isu SARA atau penistaan agama, sama-sama Muslimnya, tentu dengan logikanya sendiri-sendiri.

Bagi siapapun yang membaca fenomena tadi, tentu akan sangat mudah sekali untuk menebak, di posisi mana umat Islam berada. jika, informasi yang tiada henti membincangkan isu SARA, maka, seolah apa yang dilakukan ribuan Muslim yang dinakhodai beberapa Ormas Islam, termasuk MUI, berada di balik suatu sikap  yang melihat bahwa pernyataan Ahok dimaksud, tidak lebih dari muatan politik yang anti Ahok. Karenanya, isu ini penuh resiko SARA.

Di sisi lain, mereka yang menyatakan bahwa apa yang diucapkan Ahok atas al Maidah 51, sebagai penistaan agama dan ayat suci, sebagai sesuatu yang lepas dari kepentingan politik atau apalagi isu SARA. Mereka berasumsi bahwa, jika-pun yang menyatakan hal dimaksud, dilakukan oleh tokoh Muslim sekalipun, tetap harus dipandang melakukan pelecehan dan penistaan.

Baca Juga : Penistaan Agama Kemana Akhirnya?

Karenanya, soal dimaksud, tidak termasuk ke dalam soal SARA. Tetapi, fakta bahwa isu penistaan agama atas apa yang dilakukan Ahok ini, perlahan tampaknya mulai kehilangan energi. Karenanya, kita tetap sulit meraba, ke mana situasi ini akan berakhir. By…. Prof. Cecep Sumarna

  1. Khavid Khalwani/1415104050/T.IPSB/3/IAIN SNJ CIREBON berkata

    Menurut saya mengenai hal ini yang memang sulit berujung disislain ahok yang begitu kokoh dengan spontanitas argumennya disisi lain masyarakat muslim yang ingin mengklasifikasikan bahwa apa yang di ucapkan ahok itu merupakan bentuk penistaan. Masyarakat bukan kehilangan energi begitu saja masayarakat disini sudah berusaha gencar mengenai kasus ini melalui media, pemerintahan daerah, mui dan lain sebagainya namun disini kurangnya apresiasi diantaranya, disisi lain ada yang menggebuh-gebuh agar adanya tanggapan yang serius mengenai hal ini tetapi disisi lain juga ada oknum muslim juga yang memang mendukung ahok karena mungkin mereka yang mendapatkan keuntungan dari kinerja ahok. Tetapi muslim yang cerdas haruslah lebih cerdas dan perduli terhadap keyakinannnya jangan karena materi semuanya tidak bisa dikendalikan. Kita harus bersikap tegas dan kokoh sekokoh argumen2 ahok yang terus membela bahwa ucapannya tidak perlu diseriuskan. Penistaan agama seperti ini sama halnya mencabik-cabik hati orang yang meyakini agama tersebut. Siapapun itu entah penguasa yang kuat di negara itu kita tidak boleh takut atau segan. Maka dari itu ketegasan adalah kuncinya. Tapi saya jadi berfikir mengenai hal ini sebaiknya kita serahkan kepada masyarakat, kita punya akal dan pandai menilai mana yang baik dan buruk. Toh seandainya kita dipertemukan dengan mereka, mereka tidak aka percaya. Kepada firman Allah aja mereka nistakan. Apalagi kita yang berbicara. Jadi alangkah lebih baiknya jika kita pasrahkan semuanya kepada Allah jika memang faktanya masalah ini pudar begitu saja.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.