Saracen Adakah yang Mampu Melindungi.?

0 24

Saracen itulah tema antik baru media massa dalam dua hari terakhir di Indonesia. Situs yang diduga telah mengembangkan dan menyebarkan ujaran kebencian dan dianggap dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Ujaran-ujaran yang dipostingkan Sarachen, dianggap mendorong masyarakat Indonesia untuk bertindak anarkis dengan latar belakang SARA.

Hari Jum’at 25 Agustus 2017, pihak kepolisian telah menangkap tokoh-tokoh penting Saracen di tempat yang berbeda satu sama lain. Polisi misalnya menangkap Jas Riyadi [32] di Pekan Baru, Riau. Ia adalah Ketua Sindikat yang memimpin Saracen. Muhamad Faizal Tonong [43] ditangkap di Koja Jakarta Utara. Sosok ini dikenal di sebagai Ketua bidang Media Informasi. Sementara itu, Sri Rahayu Ningsih [32], yang berposisi sebagai Koordinator Group Wilayah Jawa Barat, ditangkap di Cianjur. Ketiganya disangkakan telah melakukan hate speech dan informasi hoax di Media Sosial.

Ketika pihak kepoilisian menangkap dan memeriksa tokoh-tokoh kunci dimaksud, dengan tuduhan melanggar UU Nomor 11/2008 tentang lnformasi dan Transaksi Eletronik,terdapat beberapa hal yang patut dianalisa dengan seksama. Misalnya, kita melihat bagaimana pihak kepolisian melalu Analisa Kebijakan Madya Bidang Penmas Divhumas Polri, Komisaris Besar Sulistyo Pudjo Hartono [26/8/2017] yang mengatakan: Tidak mudah mengorganisir ribuan akun media sosial dan menata para pengikut (follower) yang jumlahnya ratusan ribu kalau tidak ada tokoh utama di balik semua fenomena yang ada.

Saracen dan Fenomena Media Sosial Indonesia

Pujo mengatakan, tidak mungkin kegiatan semacam ini, dilakukan orang dengan tingkat kecerdasan yang hanya rata-rata. Faktanya selain bisa baca, berarti bisa tentukan pangsa pasar, kemudian topik apa yang paling top hari ini. Mana yang bisa diakumulasikan dan dikapitalisasikan dengan yang mendukung pesanan tadi. Pernyataan Pujo ini disampaikannya pada diskusi bertajuk ‘Saracen dan Wajah Medsos kita‘  yang berlangsung di Cikini, Jakarta, pada hari Sabtu 26 Agustus 2017.

Menurut Pudjo, kelompok Saracen sangat cerdas. Mereka menguasi tekonologi informasi dan kemampuannya dalam meretas atau membajak akun media sosial milik orang lain yang memiliki pengikut banyak, sehingga menjadi pengikut mereka. kecerdasan lainnya menurut Pujo adalah kemampuan manajemen yang dikembangkan mereka sehingga mampu mengakumulasi pendukung [follower] secara konstan dengan input-input tertentu sehingga para follower tadi jadi benar-benar militan.

Ketika informasi adanya penangkapan terhadap petinggi Saracen, beredar informasi bahwa yang menjadi aktor intelektual group ini, salah satunya adalah Sunny Tanu Widjaja. Sosok ini sebelumnya dikenal sebagai orang terdekat sekaligus Staf Basuki Tjahaya Purnama [Ahok] saat yang bersangkutan masih menjadi Gubernur Jakarta.

Sunny adalah Doktor Jebolah salah satu Universitas di Amerika Serikat. Bidang keilmuannya adalah ilmu politik. Entah benar atau tidak informasi dimaksud, tetapi beredar kabar kalau sosok yang sempat dicegah ke luar negeri karena diduga terkait dengan kasus suap proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta ini, diduga menjadi otak dan sekaliguis pendiri situs ini.

Setelah kasus Saracen ditangani polisi, banyak informasi yang berkembang bahwa Sunny meminta kepada para donatur yang membiayainya, agar tidak mengarahkan kasus ini tentu saja kepada dirinya itu. Masih berdasar informasi, Sunny membentuk grup Saracen dengan maksud agar pemberitaan utang negara, isu korupsi di pemerintahan, termasuk tentu saja kebobrokan pemerintah dapat ditutupi. Penelusuran Team Lyceum Indonesia sumber: tribunnews.com dan liputan6.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.