Inspirasi Tanpa Batas

Sarana Penundukan dan Kemajuan Pendidikan

0 13

Sarana Penundukan dan Kemajuan Pendidikan: Realisasi hubungan penundukan antara manusia dengan alam bergantung seluruhnya kepada baiknya penggunaan kualifikasi yang Allah berikan kepada manusia untuk menjalankan hubungan ini, dan sejauhmana kemampuan manusia mengeksplorasi sarana dan langkah-langkah penundukan.

Baiknya eksplorasi kualifikasi manusia, dan untuk memudahkan manusia mempraktekkan hubungan penundukan dengan bentuk yang diberikan oleh filsafat pendidikan Islam yang Allah berikan dengan kualifikasi-kualifikasi yang memberinya kemungkinan untuk merealisasikan hubungan ini. Kualifikasi-kualifikaksi tersebut adalah:

Kemampuan Menerima dan Menemukan Hukum Alam

Allah memberi manusia kemampuan menerima pembelajaran dan kemampuan yang memungkinkannya menemukan hukum alam dan mengenali komponen dan unsurnya. Terhadap kekhususan manusia ini adalah isyarat Qur`an bahwa Allah mengajarkan kepada Adam semua nama-nama, dan bahwa Dia mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya, dan seterusnya.

Kemampuan Akal dan Kemahiran Fisik

Allah mengaruniai manusia dengan kemampuan akal dan kemahiran fisik yang memungkinkannya mentransformasikan hukum alam yang ia temukan untuk aplikasi dan industri yang memungkinkan manusia memanfaatkan unsur dan komponen alam untuk memudahkan kehidupan manusia dan menikmati kebaikan yang tersembunyi dalam alam dan unsurnya ini, dan untuk mengatasi rintangan dan kesulitan yang dihadapinya dalam kehidupan.

Kekhususan Manusia Jenis Ini Dalam Al-Quran

Terhadap kekhususan manusia ini ayat-aat Qur`an menyatakan di antaranya:

 وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu” (Qs. Al Anbiyaa` [21]: 80).

وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا ءَالَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah ni`mat-ni`mat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan” (Qs. Al A’raaf [7]: 74)

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا ءَالَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (Qs. Saba` [34]: 13)

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ(71)وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ(72)وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ(73)

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?” (71), “Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan” (72), “Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (73) (Qs. Yaasiin [36]: 71-73).

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya” (Qs. Al Mulk [67]: 15).

Kemampuan Akal dan Jiwa

Allah mengaruniai manusia dengan kemampuan akal dan jiwa yang memungkinkannya mengaitkan antara hubungan ketundukan dengan hubungan ibadah yang penjelasannya telah diberikan di muka sehingga melaluinya manusia menghubungkan ikatan ini kepada tujuan akhir dari hubungan penundukan yang ayat terdahulu menyebutnya dengan “besyukur kepada Allah”.

Sarana Penundukan Yang Utama Adalah Pendengaran, Penglihatan Dan Akal

Sarana yang utama adalah pendengaran, penglihatan dan akal. Karena dengannya pengetahuan akan hukum yang menyebabkan –hubungan ketundukan- berasal. Orang-orang yang tidak baik dalam menggunakan piranti ini maka alam tidak akan ditundukkan olehnya, oleh karena itu Qur`an mendorong penggunaan dengan baik ketiga piranti ini untuk mengetahui kunci alam.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Qs. Al Israa` [17]: 36).

Piranti Penundukan Kedua Adalah Akurasi Penglihatan Pada Unsur-Unsur Alam

Piranti penundukan kedua adalah akurasi penglihatan pada unsur-unsur alam yang ditunjukkan Qur`an di banyak tempat dengan nama “langit dan bumi”. Perintah Tuhan berulang-ulang di ratusan tempat dari Qur`an tentang kewajiban melihat “apa yang ada di langit dan di bumi” dan yang ada di antara keduanya berupa makhluk-makhluk yang tidak terbatas jumlah dan macamnya. Pandangan yang menembus komponen langit, bumi dan seisinya tidak mungkin sempurna dengan mata telanjang, akan tetapi musti dengan bantuan sarana, perlengakapan dan piranti yang memudahkan dan merealiasasikannya.

Piranti Penundukan Ketiga Adalah Baiknya Pemanfaatan Hasil Penglihatan

Piranti penundukan ketiga adalah baiknya pemanfaatan hasil penglihatan terhadap kandungan langit dan bumi dengan pemanfaatan yang mengarah kepada realisasi tujuan puncak dari penundukan yakni “bersyukur kepada Allah” atas nikmat-nikmat-Nya, karena realisasi syukur ini adalah agar tidak mendurhakai Allah atas nikmat-nikmat-Nya.

Pendidikan Sebagai Sarana Eksplorasi Yang Baik Terhadap Kualifikasi-Kualifikasi Manusia

Pendidikan adalah satu-satunya sarana yang memungkinkan eksplorasi yang baik terhadap kualifikasi-kualifikasi manusia dan baiknya penggunaan sarana penundukan karena melalui pendidikan kemampuan manusia dan kesiapan rasional dan keahlian inderawi cenderung, dan melalui pendidikan manusia dilatih melakukan penggunaan yang benar terhadap pendengaran, penglihatan dan hati dan yang dituntutnya berupa penentuan proses-proses ilmiah dan bidang-bidang ilmiah.

Pendidikan juga merupakan alat yang melaluinya manusia berlatih mengaitkan antara ayat-ayat Allah di kitab dengan ayat-ayat-Nya di alam. Pembicaraan dalam surah Al An’aam dan surah-surah lain mengulang-ulang bahwa kemampuan mempraktekkan hubungan penundukan dan mengaitkan antara ia dengan instruksi yang dibawa oleh wahyu akan menghasilkan keyakinan yang sempurna yang membawa kepada keimanan yang sempurna. Jika tidak terjadi pengaitan ini maka tidak ada gunanya menemukan ayat-ayat alam dan tidak ada gunanya membaca ayat-ayat kitab, karena tanpa keterkaitan ini tidak akan tereaslisir  “tujuan puncak” yakni bersyukur kepada Allah.

Kemajuan juga terkait dengan kemampuan untuk merealisir hubungan ibadah dengan kaitan yang langsung. Orang-orang yang baik dalam merealisasikan hubungan penundukan dengan penjelasan yang telah diberikan di atas menghasilkan kebaikan-kebaikan alam dan memanfaatkan hukum-hukumnya, dan memfungsikan semua itu untuk memajukan masyarakatnya dan membangun peradabannya.

Lemah Dalam Menundukkan Alam, Maka Alam Akan Menundukkannya

Adapaun orang-orang yang tidak mengetahui hubungan ini lemah dalam menundukkan alam dan bahkan sebaliknya alam menundukkan mereka dan membiarkan mereka terpenjara dalam keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan.

Seperti kuda liar tidak patuh kepada pengendaranya, menghukumnya dengan tendangan dan menjatuhkannya ke tanah, mematahkan tulangnya dan melukai anggota badannya, dan seperti sapi liar tidak patuh kepada penggembalanya, maka ia mematahkan alat bajak dan menanduk pembajak kecuali jika penggembala kedua binatang tersebut memahami hukum penjinakan dan penundukan keduanya.

Demikian juga alam tidak akan patuh kepada manusia yang hidup di punggungnya sehingga ia membinasakan dan menghancurkan kemampuan-kemampuannya. Ketika manusia lemah menundukan fenomena alam. Maka angin akan menghancurkan bangunan-bangunan yang dibuatnya. Binatang pengerat, serangga dan kuman menghancurkan tanaman yang ditanamnya. Kemudian paceklik dan penyakit memburunya. Lalu banjir laut dan sungai menenggelamkan kemampuan-kemampuannya.

Gurun, oase, gunung dan laut adalah penyumbat yang menutupi jalan-jalannya dan merintangi mobilitasnya. Terdapat awan pembawa hujan menyerangnya sebagai musuh dan luka yang menyerangnya. Terhadap semua ini manusia terjatuh dalam spekulasi dan melakukan penyimpangan. Sehingga menduga bahwa unsur-unsur alam tidak jinak dan tidak tunduk kepada dewa-dewa. Sehingga memaksa mereka mendekatinya dengan sujud dan memberikan korban-korban agar memberi sebab-sebab kehidupan dan mencegah dari sebab-sebab kehancuran.

Bangsa-bangsa dan unsur-unsur manusia masih tidak baik dalam menundukkan alam. Serta menemukan hukum-hukum keterbelakangan, penyakit dan kebodohan. Sementara bangsa yang baik dalam berbicara dengan alam dengan bahasa yang bisa dijawab olehnya. Bisa menguasai banjir, berlayar di samudera, membongkar gunung yang tinggi dan menundukkan aspek-aspek alam yang arogan. Pendapatan berlipat, kesehatan, kemewahan dan semua aspek-aspek peradaban dan teknologi maju melimpah ruah.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Komentar
Memuat...