Sastra Mistik: Semar Mesem, Pelet dan Jawokan

0 419

Sastra Mistik: Guna-guna “Semar mesem” atau mantra “senyum Semar” di mata masyarakat Cirebon dan Indramayu. Dikenal sebagai “jawokan” yang berisi kekuatan magis untuk menarik kecintaan seseorang terhadap lawan jenisnya. Bentuk mantra semacam ini, sebenarnya banyak terdapat dalam buku-buku primbon Jawa atau Cirebon dan biasanya terbuka untuk umum. Kalangan orang tua pada masa lalu seringkali memberikan hadiah mantra kepada anak atau santrinya yang dianggap setia dalam belajar. Di bawah ini, salah satu contoh mantra “Semar mesem”.

Semar Mesem

Niyat isun arep ngguna-guna//dudu guna-guna tangga//isun dudu wong kang kasep maning//isun arep ngemat Sariti anak wadoné mama Jablon//sing keayuwané ora ana bandingané ning sekabéh kabupaten//ayo demen, tekaha kasih sayang//ayo meneng, teka ning adepan//yén lagi turu, tangiknang wayah kiyen//yén lagi tangi, dodoknang //yén lagi ndodok, adegnang //yén lagi ngadeg, mésema//pikirnang isun sekiyen, Sariti, sira wong wadon ayu, mikirnang anaké Sarmin///

(Saya berniat mengguna-guna, bukan mengguna-guna tetangga. Saya bukan lagi lelaki tampan, saya akan mengguna-guna Sariti anak perempuan bapak Jablon, yang kecantikannya tiada banding di seluruh kabupaten. Ayo cinta, datanglah kasih sayang, ayo diam, datanglah di depan. Jika sedang tidur bangunkan, jika bangun dudukan, jika duduk berdirikan, jika sedang berdiri senyumlah. Pikirankan saya, Sariti, kamu perempuan cantik, memikirkan putera Sarmin.)

Mantra lainnya yang sangat dikenal masyarakat Pantura adalah “mantra pengasihan”. Mantra ini konon bisa mendatangkan secara tiba-tiba rasa kasih yang tak terhingga dari orang yang menjadi sasarannya. Biasanya mantra ini digunakan untuk menarik lawan jenis, melamar pekerjaan, meminta sesuatu kepada orang tua atau salah seorang pejabat ngara dan pengasihan lainnya.

Dalam masyarakat Sunda, mantra “Senyum Semar” ini juga dikenal dan diajarkan kalangan orang tua tradisional kepada anak-anak muda yang menurut pandangan bisa dipercaya.

Pengasihan

Asihan aing asihan semar mesem//ingkang semar reyeh-reyah// dina keusik caurik//di imah tinggokah//jantungna ratug inget ka badan awaking/peuting kumalingking//siang matak kapiraray//sih asih asih ka badan awaking///

(Asihanku asihan semar mesem. Sang semar senyum-senyum, di atas pasir menangis, di rumah tinggokah. Jantungnya berdebar-debar ingat padaku. Malam termimpikan, siang terbayang-bayang. Sayanglah, sayang kepadaku. (Jangjawokan, Disparbud Jawa Barat 2012).

Kenapa dalam mantra ini harus Semar? Bukan Arjuna yang tampan. Ada keyakinan dalam masyarakat tradisional, Semar adalah tokoh orang tua bijak yang disenangi banyak pihak. Dalam filosofi wayang, Semar merupakan tokoh panutan tempat memecahkan berbagai masalah pelik, termasuk politik, cinta, rumah tangga dan agama. Dalam khasanah mantra di daerah Pantura Cirebon, mantra pengasihan atau yang lebih dikenal sebagai “Aji Pengasihan” juga banyak dihafal kalangan anak muda untuk memikat lawan jenis atau tujuan-tujuan lain. Salah satu mantra pengasihan yang cukup dikenal masyarakat.

Mantra Pengasihan

Niyat isun matak ajiku//pulung guna pulung sari sun tabukaké petiku sawisi//gemebyar-gebyar marang dadaku//wong sabuwana pada teka welas teka asing marang badanku//asih welas welas asih kersané Allah Gusti taala///

(Saya berniat membaca mantraku//dari hati paling dalam untuk membuka seluruh isi dunia//gemebyar pada nuraniku////manusia se jagat datang kasih saying kepadaku//asih welas welas asih adalah kehendak Allah Taala)

Guna-guna atau jawokan umum digunakan masyarakat, disimpan sebagai karya sastra dan bahkan di”lakoni”. Jenis sastra berupa suluk dan jawokan yang berkembang di wilayah Cirebon-Indramayu merupakan karya sastra kuna atau klasik, yang dalam beberapa hal lekat dengan dimensi sastra dan mistik. Sebagaimana sastra kuna atau klasik, keduanya tidak memiliki latar waktu penulisannya.

Adanya korelasi antara sastra, mistik, dan masyarakat bukanlah sesuatu yang asing pada masyarakat Timur. Sastra sebagai produk kebudayaan manusia, dalam beberapa hal memiliki nilai-nilai transenden antara dunia bawah dengan dunia atas, antara mikrokosmos dengan makokosmos, antara jagat cilik dan jagat gedé, antara manusia dengan kehidupan sosial dan religiusnya dengan Tuhan yang menciptakannya. Hal ini juga berkaitan dengan sistem berpikir orang Timur yang melatarinya.*** Nurdin M Noer (Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC))

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.