Sayuti Melik Pengubah Kalimat dan Pengetik Teks Proklamasi

0 755

Sayuti Melik [1908 – 1989[ adalah intelektual Indonesia yang juga cukup brilyan. Melik diminta khusus Soekarno untuk bekerja di Pusat Tenaga Rakyat [PUTERA] yang dibentuk Soekarno, Hatta, Ky Hadjar Dewantara dan Ky Mas Mansur. Permintaan itu ditujukan kepada Pemerintah Jepang yang sedang mengurung Sayuti Melik di Boven Digul.

Melik dibuang ke Boven Digul karena dituduh pemerintah Jepang sebagai sosok intelektual berhaluan sosialis kiri [PKI] yang dengan kasat mata selalu melakukan kritisisme terhadap pemerintahan Jepang. Diketahui bersama bahwa ia bersama istrinya, SK Trimurti, mendirikan Koran Pesat di Semarang pada tahun 1938. Koran dengan oplah 2000 ekselmpar dan dicetak seminggu tiga kali itu, dianggap provokatif karena selalu mendorong kesadaran warga masyarakat pribumi atas pentingnya kemerdekaan bagi Republik Indonesia.

Soekarno yang mengenal Sayuti Melik sejak tahun 1926 di Bandung, tahu benar kapasitas intelektual yang dimiliki anak lurah Sleman Jogjakarta yang lahir pada 22 Nopember 1908 ini. Soekarno juga tahu kalau Melik dididik seorang ulama kharismatik Nusantara yang berhaluan kiri bernama KH. Misbach di Kauman Jogjakarta.

Pengakuan atas intelektualisme Melik, semakin terlihat ketika Melik menerbitkan Koran Pesat. Soekarno hapal kapasitas intelektual Melik. Karena itu, wajar sosok yang selalu bolak balik masuk penjara sejak jaman Belanda itu, mengesankan bagi Soekarno. Ia juga berharap Melik dapat bekerjasama dengannya. Ini juga mungkin yang menyebabkan Soekarno meminta Jepang agar mengeluarkan Melik dari Digul dan menjaminnya bahwa dia tidak akan lagi kritis terhadap Jepang.

Ulah Melik dalam Penyusunan Teks Naskah Proklamasi

Melik yang intelektual itu, tentu memiliki pengaruh besar atas postur dan content teks proklamasi. Karena intelektualismenya juga, Melik menjadi satu-satunya sosok yang didengar pendapatnya oleh Soekarno, Hatta dan Soebardjo ketika mengusulkan pembuatan teks proklamasi. Ketika Soekarno, Hatta dan Soebardjo selesai membuat teks Naskah Proklamasi, banyak pemuda yang mengitari mereka bertiga.

Para pemuda menolak gagasan teks proklamasi susunan Soekarno dan kawan-kawan, karena dianggap mengesankan sepertl dibuat Jepang. Lalu ketiga tokoh itu kembali berunding dan menghasilkan sebuah teks proklamasi. Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik Naskah.  Apa yang dilakukan Melik saat akan mengetik itu? Ia mengubah kalimat yang dibuat Soekarno dan kawan-kawan dari: “wakil-wakil bangsa Indonesia, diganti Melik dengan menyebut “Atas Nama Bangsa Indonesia”. Selesai sudah diketik naskah dimaksud dini hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 dan kemudian dibacakan Soekarno-Hatta di Pegangsaan Timur, Jakarta pada pukul 10 pagi dini hari. By. Prof. Cecep Sumarna –sumber bacaan diambil dari berita antara dan Wikipedia, Rabu, 16/8/2017.10:34

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.