Inspirasi Tanpa Batas

Sebuah Aturan dan Kehendak Bebas dalam Kehidupan

0 66

Konten Sponsor

Kehendak Bebas dalam Kehidupan – Di dunia, kita hidup sudah terkukung dalam sebuah aturan. Mulai dari kita lahir, sampai ajal menjemput. Adapun aturan tersebut bisa terbentuk oleh agama, negara, masyarakat, keluarga bahkan aturan yang dibuat oleh diri sendiri. Mengapa harus ada aturan dalam kehidupan? Karena manusia merupakan makhluk yang tidak pernah puas. Jadi untuk membatasi hal itu, dibentuklah sebuah aturan.

Bukan manusia namanya jika tidak punya ambisi kebebasan. Adakalanya manusia menentang sebuah aturan. Penulis pernah mendengar langsung seseorang berkata “Aturan itu untuk di langgar”. Apakah itu rasional? Jika kita hubungkan dengan kehidupan, tak sedikit orang yang memberontak terhadap aturan. Entah itu karena kurang tepat antara aturan dengan kondisi dan situasi atau karena sebagian pihak merasa terkekang.

Kehendak Bebas

Jika kita membahas mengenai kebebasan, penulis pernah membaca dalam sebuah novel mengenai hal itu. Novel tersebut berjudul Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Pertanyaan dari pengarangpun muncul. Apa itu kebebasan? Apa manusia bebas itu ada? Apakah kehendak bebas benar-benar ada ? Kitapun pasti penasaran dengan jawabannya.

Sedikit membahas mengenai novel tersebut. Penulis tertarik dengan kalimat “Seluruh hidupku adalah perangkap”. Rasional memang. Sebab tubuh, pikiran, tradisi, keluarga, norma, agama, ekonomi dan kekuasaan adalah perangkap. Kita terperangkap oleh aturan-aturan yang sudah di tentukan dengan sedemikian rupa.

“Salah satu cara jika kita ingin bebas adalah dengan mengalami kematian” kutipan dari novel. Menurut penulis itu bukan menjadi solusi. Karena setelah mengalami kematian, kita harus menjalankan aturan bahwa apapun yang kita kerjakan di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Aturan dalam Prespektif Agama Islam

Merujuk pada prespektif Islam, sudah pasti aturan berlaku dalam segala aktifitas kita. Mulai dari kita bangun tidur sampai tidur kembali. Hanya saja manusia lagi-lagi mengabaikan hal itu. Mengabaikan hal kecil yang memungkinkan membuat kehidupan orang tersebut bisa lebih baik. Contohnya mengucapkan basmallah di awal aktifitas dan hamdallah di akhir aktifitas.

Disebutkan dalam potongan ayat Q.S An-Nisa : 80 yang artinya : “Barang siapa yang menaati rasul itu sesungguhnya ia telah menaati Allah”. Tafsiran ayat tersebut dalam kalimat mentaati Allah mempunyai makna melaksanakan perintah Allah, yaitu melaksanakan aturan agama. Sedangkan makna dari mentaati Rasul ialah melaksanakan perintah Allah dengan lebih detail dan mudah dipahami manusia. Misalkan mengenai shalat, baik waktu, jumlah rakaat, syarat dan rukunnya.

Analisis Penulis :

Menurut penulis, aturan itu tidak akan pernah terlepas dari manusia dan kehidupan. Baik secara agama ataupun undang-undang Negara. Kehendak bebas itu terbatas bahkan mungkin tidak ada untuk sebagian orang. Seperti pada penjelasan di atas, bahwa kita tidak akan bebas meskipun dari badan kita sendiri. Ruh kita hanya singgah dan menunggu kematian. Aturannya badan kita harus dijaga, dibersihkan, diberi makan dan lain sebagainya.

Sedangkan diluar itu, kita harus melihat aturan atau norma dengan manusia lainnya. Apalagi dengan aturan agama yang sangat-sangat memperhatikan etika. Yang terpenting kita bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat. Sebab pada dasarnya kita tidak bisa terlepas dari kehidupan bermasyarakat.

Kehendak bebas kita dibatasi oleh kehendak bebas orang lain. Sedangkan kehendak bebas orang gila benar-benar bebas, tidak terikat benar dan salah. Sebab mereka memiliki kebebasan yang sebebas, bebas, bebas, bebasnya.

(Sanghiyang Mugni Pancaniti dalam Perpustakaan Kelamin)

Jadi kesimpulannya, jika kalian ingin bebas tanpa adanya keterikatan dengan aturan, silahkan menjadi orang gila.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar