Inspirasi Tanpa Batas

Nisfu Sya’ban : Sedih atau Gembira Saat Buku Kita Digantikan

Nisfu sya'ban
0 26

Sedih atau Gembira Saat Buku Kita Digantikan. Nisfu Sya’ban [pertengahan bulan sya’ban] sedang ramai kita jalani. Masjid sedikit lebih ramai dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Bacaan al Qur’an bergema menyontakkan sekaligus mengingatkan kita akan suatu peristiwa herois. Peritiwa yang seharusnya mendengupkan jantung. Apakah nilai raport kita biru atau merah.Saya hanya berharap, meski banyak merahnya, tetapi terselip catatan Tuhan untuk kita, bahwa Dia telah mengampuni kita.

Diketahi bersama bahwa, di kalangan sebagian masyarakat Muslim Indonesia, malam ini dipandang sebagai sesuatu yang istimewa. Malam di mana, buku tahun sebelumnya ditutup. Ia akan digantikan dengan buku baru. Malam inilah, Tuhan dianggapnya akan menentukan nasib manusia untuk hari ini sampai satu tahun kemudian. Bagaimanakah raport kita di tahun ini? Telah dicatat Tuhan dengan sempurna.

Karena itu, tidak sedikit di antara umat Muslim, beramai-ramai datang ke Masjid. Mereka umumnya hendak shalat yang dianggapnya sunnah Muthlak. Suatu shalat dengan dua rakaat yang dilaksanakan setelah shalat maghrib atau isya. Bisa juga dilakukan setelah melaksanakan shalat sunnah muakadah.

Mengapa demikian? Karena pada malam ini, banyak di antara umat Islam merasa penting untuk memohon kepada Allah guna dipanjangkan umurnya, diperbanyak rezekinya, dihalalkan dan dithayibbahkan segala rezeki yang dimilikinya.

Kegiatan sejenis ini, sebenarnya tidak terdapat dalam hadits Nabi yang rajih. Tentu apalagi dalam dalam ayat al Qur’an. Tetapi, kegiatan ini tetap saja banyak dilakukan umat Islam tentu bersamanya, harapan tumbuh bagai magma yang menyedot iman kita.

Landasan Pelaksanaan Nisfu Sya’ban

Landasan yang dianggap kuat untuk menetapkan malam nisfu Sya’ban dalam kegiatan seperti ini, merujuk kepada Kitab Durrah al Nasihin, karya Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Suatu kitab yang oleh kritikus hadits dianggap banyak menyimpan hadits-hadits mursal. Tetapi, inilah Kitab fenomenal yang paling banyak digunakan umat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan sunnah. Menurut para kritikus hadits, shalat malam yang dilakukan Rasulullah, selalu dilakukan di setiap malam secara marathan. Tidak ada perbedaan antara awal, pertengahan dan akhir bulan.

Lalu jika demikian, landasan apa yang digunakan? Ternyata, hal ini mengacu kepada hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Majah dalam Kitab Sunan-nya. Bunyi hadit dimaksud adalah: ”Apabila malam nisfu sya’ban tiba, maka, shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya”. Menurut kritikus hadits, hadits dimaksud  dianggap lemah sanadnya

Dalam hadits lain yang juga dianggap lemah, disebutkan bahwa, pada malam nisfu Sya’ban, Allah turun hingga ke langit dunia pada saat tenggelam matahari. Saat suasana itu datang, Allah mengatakan.”Ketahuilah wahai orang yang memohon ampunan, maka, Aku telah mengampuninya. Ketahuilah wahai orang yang meminta rezeki, maka, Aku berikan rezeki. Ketahuilah wahai orang yang sedang terkena musibah, maka, Aku selamatkan. Ketahuilah ini ketahuilah itu hingga terbit fajar.”

Sebagian para suluk, memandang bahwa meski dua hadits di atas lemah, tetapi, untuk kepentingan amaliah, tidak mengapa untuk dilakukan baik secara sendiri-sendiri, maupun secara bersama-sama. Pertanyaan pentingnya adalah: Apa yang anda rasakan saat malam ini tiba. Jika anda merasa banyak merah-nya sehingga anda bersedih karenanya, maka, pertanda anda sedang mendapatkan ampunan Tuhan. Semoga buku baru kita, tentu jika benar, hanya diisi dengan pensil berwarna biru. Amiin …. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...