Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah Bahasa Indonesia
0 227

Tunggalnya Bahasa Melayu sebagai alat komunikasi di Nusantara, telah menjadi pintu tumbuhnya kesadaran hidup bersama. Tanggal 28 Oktober 1928, menjadi peletak dasar lahirnya bahasa Nasional. Tanggal ini juga menjadi tonggak lahirnya Indonesia. Karena itu, menjadi mudah difahami mengapa teks Proklamasi dan UUD 1945, ditulis dalam bahasa Melayu. Bahasa ini kemudian disyahkan menjadi bahasa Indonesia sejak tanggal 18 Agustus, yakni ketika UUD 1945 resmi menjadi dasar negara Indonesia.

Tulisan ini, berbicara tentang Sejarah Bahasa Indonesia dalam konteks Nusantara. Bagaimana formula dan semangat yang dibawa kaum muda Nusantara dalam rangka mempersatukan bangsa yang terjajah.

Sedikit Sejarah Bahasa Indonesia

Kongres Bahasa Indonesia II di Medan tahun 1954, menyebut bahasa Melayu sudah digunakan para Bhiksu Budhis ketika mengajarkan agama kepada para pemeluknya. BuktiNya terlihat dari Prasasti Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, Kerajaan Gandasuli, di Jawa Tengah dan Prasasti Budha di Bogor, Jawa Barat. Melalui prasasti-prasasti dimaksud, diduga jika bahasa ini telah digunakan sejak abad ke 6 Masehi.

Tempat terhormat bahasa ini kembali berjaya melalui para da’i dan pedagang Muslim Timur Tengah abad ke 14 Masehi. Kelompok ini, menumbuhkan bahasa Melayu sebagai alat komunikasi regional Asia Tenggara. Ia bukan hanya menjadi bahasa agama, tetapi juga menjadi bahasa perdagangan. Tulisan pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh, tahun 1380 M, Syair-syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin dan Bustanussalatin yang disusun pada abad ke 16-17 Masehi, diketahui menggunakan bahasa Melayu.

Penggunaan bahasa Melayu sebagai alat komunikasi dakwah dan dagang itu, dianggap selaras dengan prinsip dasar Islam. Prinsip persamaan hak dan kedudukan di antara sesama manusia, memperoleh tempat berarti melalui penggunaan bahasa ini. Umum diketahui jika bahasa ini dapat diterima sebagai alat komunikasi masyarakat luas, salah satunya karena ia tidak memiliki hirarki bahasa. Mereka yakin bahwa bahasa sejenis ini selaras dengan ajaran Islam yang kuat mengajarkan persamaan hak dan kedudukan di anatara sesama manusia.

Sejarah bahasa Indonesia yang panjang tadi, hari ini seperti ditelan bumi. Hasil survey kecil penulis terhadap beberapa siswa/i SLTP dan SLTA di Kabupaten/Kota Tasikmalaya dan Cirebon, menyimpulkan bahwa, mereka kurang menganggap penting mempelajari apalagi menggunakannya secara benar, dibandingkan dengan keharusannya untuk menguasai bahasa Inggris misalnya.

Nasibnya Bahasa Indonesia di Masa Kini

Sikap orang tua yang acuh, dan kurangnya perhatian sekolah akan kemampuan mereka dalam penguasaan bahasa Indonesia, dibandingkan dengan keharusannya untuk menguasai bahasa asing, telah menjadi faktor utama. Karena itu, menjadi wajar jika mereka lebih bangga mampu mengungkapkan ujaran tertentu dengan menggunakan bahasa asing, ketimbang menggunakan ujaran dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Virus ini, berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, tampak secara tidak langsung didorong kaum akademik, politisi, dan pelaku hiburan Indonesia. Tiga komunitas ini, sering menampilkan kebanggaannya menggabung-gabungkan bahasa asing –meski seringkali salah mengucapkannya— dalam setiap pembicaraan, dibandingkan dengan ketulusannya untuk berkomunikasi secara baik dan benar dengan tutur kata Indonesia. Akibatnya, anak didik kita kehilangan figur bahasa pribuminya.

Pudarnya budaya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di berbagai kalangan tadi, sejatinya telah merapuhkan integritas dan persatuan bangsa. Kondisi ini secara langsung, juga akan menurunkan harga diri bangsa ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Secara tidak sadar kita menyimpan bangsa ini di lapis ke dua setelah bangsa lain. Memori kolektif bangsa ini, akan terus ditimbuni informasi bahwa bahasanya tidak memiliki harga dibandingkan bahasa lain.

Kondisi ini kontras bedanya dengan bangsa lain yang lebih maju. Pengalaman penulis berkunjung ke 21 negara, umumnya angkuh akan bahasa mereka. Ketulusan dan kebanggaan penggunaan bahasa mereka sendiri, telah menafikan kemungkinan penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Inggris. Dapat dimaklumi jika bahasa Inggris misalnya, hanya kuat di negara yang resmi menggunakannya seperti di Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Belanda dan Belgia yang menjadi sekutu mereka, sejauh yang mampu saya amati, sedikit yang memiliki kemampuan bahasa Inggris, karena mereka lebih fokus pada bahasanya sendiri.

Penduduk Italia, Prancis, Paris, Jerman, Jepang dan Korea, jangan tanya. Mereka umumnya asing dengan bahasa lain selain bahasa sendiri. Dalam konteks bahasa Indonesia, sejatinya bangsa ini patut bangga. Mengapa? Sebab bahasa ini, setidaknya dapat difahami di masyarakat Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Timur Leste, sebagian Thailand dan sebagian Filiphina.

Sikap Negara Terhadap Bahasa Indonesia

Butuh ketegasan sikap dari para pengambil kebijakan Republik ini. Indonesia adalah cuplikan Syurga di bumi, yang sulit ditemukan di negeri manapun di dunia. Ini negeri impian yang banyak dirindukan orang. Sudah waktunya, bangsa ini tidak membungkuk kepada siapapun. Biarkan bangsa lain yang datang ke negeri ini, untuk memahami segenap perangkat bangsa ini.

Kita memiliki modal besar untuk mendatangkan siapapun dalam kepentingan investasi dan wisata. Apa yang dilakukan Korea dan Jepang, menjadi contoh bagaimana bangsa lain harus mampu menguasai bahasa dan tulisan mereka misalnya, ketika berkunjung atau berinvestasi di dua negeri itu. Dengan cara itu, mereka tetap hebat dan ajeg serta diakui dunia.

Jika situasi ini mampu ditunaikan, mungkin penolakan 30 orang pribumi hanya untuk menjadi Supir di daerah tertentu di Jawa Barat, kalah oleh bangsa Filipina karena kemampuanya dalam penggunaan bahasa Inggris, tidak akan pernah terjadi. Karena itu, butuh evaluasi kritis yang menyadarkan diri, bahwa Indonesia dengan segenap perangkatnya adalah sejajar dengan bangsa lain.

Sudah waktunya bangsa lain menjadi bagian dari kita dan tidak selalu mengharuskan diri kita sebagai bagian dari diri mereka. Dalam kasus tertentu, plamflet, brosur dan berbagai pengumuman baik di institusi-institusi negeri maupun swasta yang kadung latah menggunakan bahasa asing, patut direnungkan untuk diganti dengan bahasa kita. Sebuah ujaran yang berjasa menyatukan Nusantara dalam satu kesatuan Negara Republik Indonesia. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...