Sejarah dan Tipologi Pondok Pesantren Masa Kini

0 383

Pesantren tumbuh menjadi lembaga pendidikan pertama di Indonesia. Pesantren memiliki sejarah panjang dan tipologi khusus dalam konteks Indonesia. Pendapat ini memang bukan barang baru dan bukan hanya dianggap oleh sedikit pakar. Para pakar pendidikan dan pakar di bidang ilmu sosial kemasyarakatan, secara umum meyakini bahwa pendidikan pesantren telah menjadi jenis pendidikan pertama sekaligus utama di Nusantara [baca Indonesia]. Pesantren telah menunjukkan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang genuin ala Indonesia.

Dengan begitu, tidak salah jika pesantren  telah mengakar di kalangan masyarakat Indonesia hari ini. Asumsi-asumsi ini, didasarkan atas fakta sejarah bahwa masyarakat Hindu-Budha sejak jaman dahulu telah melakukan model pembelajaran. Seperti yang lajim disaksikan dalam masyarakat Muslim dewasa ini melalui kegiatan pendidikan kepesantrenan.

Atas asumsi tadi, secara historis dan filosofis telah menunjukkan bahwa, pendidikan berjenis pesantren sebenarnya tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi ia juga identik dengan keindonesiaan. Dengan kata lain, pendidikan pondok pesantren secara otomatis mengandung makna keaslian Indonesia [Indigenous]. Dalam perspektif ini, komunitas Muslim di Indonesia sebenarnya hanya meneruskan dan melakukan proses islamisasi kelembagaan [model pendidikan] yang telah ada sebelumnya. Proses islamisasi dimaksud utamanya terkait dengan isi [content] kurikulum yang sebelumnya berbasis Hindu-Budha ke basis Islam.

Lima Elemen Penting Pondok Pesantren

Asumsi adanya perubahan paradigma pendidikan pesantren dari model Hindu-Budha ke Islam, memang dapat dipahami. Zamaksyari Dhofier, misalnya menyebut bahwa pesantren dicirikan dengan lima elemen penting. Kelima elemen itu adalah: Pondok [tempat tidur] dan ini sudah biasa digunakan para murid yang belajar di lingkungan Hindu, Pesantren sebagai perubahan dari Pura dan Vihara, Kyai terjemahan lain dari Bhiksu, santri dan adanya pengajian “Kitab Kuning” [kitab-kitab klasik].

Persoalan Pesantren dan Kyai mungkin hanya terjadi perubahan nama, sehingga dapat juga disebut proses Islamisasi, tetapi masuknya elemen terakhir, yakni adanya pengajian kitab klasik yang menjadi ciri sangat penting akan adanya perubahan [baca content] kurikukulum pendidikan kepesantrenan itu semakin nyata. Perubahan ini terjadi menyangkut ciri dan karakter pesantren itu sendiri yang semula sangat tendensius Hindu Budha ke mainstream Islam.

Pendapat ini diamini oleh Ibrahim Bukhari yang menyebut bahwa sejarah dan perkembangan pondok pesantren tidak lepas dari sejarah masuknya Islam sendiri ke Nusantara yang menurut sebagian ahli sejarah, masuk sejak abad ke-7 Masehi yang dibawa oleh para pedagang muslim dari dinasti Tang kerajaan Cina Kuno ke berbagai negeri bagian timur sampai Tiongkok, dengan perjalanan melalui jalan laut, maka setiap kali pedagang tersebut pergi ke Tiongkok harus melewati daerah perairan Indonesia.

Posisi Indonesia yang strategis ini, tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia dijadikan tempat persinggahan untuk tempat beristirahat. Zuhairini, mengatakan bahwa hubungan dagang antara Arab dan Tiongkok sudah berjalan ramai berabad-abad sebelum datangnya Islam, sedang para ulama Tiongkok sudah menjadi khatib dan imam Jum’at di daerah Canton pada abad ke-2 Hijriyah atau abad ke-8 Masehi.

Pesantren dan Kehadiran Islam di Nusantara

Seperti telah dijelaskan bahwa keberadaan pesantren [baca berbasis keislaman] di Indonesia beriringan dengan kehadiran Islam di Nusantara, maka kehadiran pondok pesantren di tanah air erat kaitannya dengan datangnya Islam ke Indonesia itu sendiri. Awal mula berdirinya pesantren adalah kuatnya model adaptasi agama terhadap lingkungan yang ada, yang dilakukan oleh para “misionaris” [ulama] Muslim dalam menyebarkan ajaran agamanya.

Para pedagang plus ulama Muslim umumnya melakukan proses akulturasi antara Islam dengan kebudayaan setempat yang waktu itu menganut ajaran agama Hindu dan Budha. Artinya penyebaran Islam yang dilakukan oleh para pedagang tidak dilakukan dengan cara kekerasan melainkan dengan cara damai atau menurut Uka Tjandrasasmita dilakukan melalui perdagangan, perkawinan, kesenian, politik dan yang paling penting adalah melalui pendidikan [baca kepesantrenan].

Masuknya penjajah Eropa ke Nusantara pada akhir abad ke 16, telah merubah bukan saja geopolitik dan geo ekonomi masyarakat setempat, tetapi yang paling radikal adalah perubahan mekanisme dan model pendidikan [termasuk kurikulumnya] yang telah ada di Nusantara. Pendidikan beralih baik secara substantif maupun parsial dari sebelumnya ala pondokan ke ala klasikal yang beroerientasi model Barat. Sejak saat masuknya Eropa dan Barat ke Nusantara, pendidikan tidak lagi dimonopoli oleh pesantren, tetapi telah pula muncul model dan jenis pendidikan lain, yakni jenis pendidikan persekolahan. Di sisi dalam ruang inilah, istilah dualisme pendidikan di Nusantara sudah mulai terjadi dan sulit untuk dikesampingkan sampai sekarang ini.

Sifat mengakarnya pola pendidikan pondok pesantren di hati masyarakat Indonesia, telah mendorong lembaga pendidikan ini tetap eksis. Eksistensi dan perannya dalam mencerdaskan bangsa Indonesia tetap bertahan. Oleh karena itu, tidak salah jika pondok pesantren telah banyak melahirkan tokoh besar baik dalam kancah politik, ekonomi apalagi dalam kancah sosial budaya.

Proses Kemerdekaan dan Transformasi Nilai dan Pengetahuan Keagamaan

Banyak tokoh besar yang lahir dari rahiem pondok pesantren. Dari kaca mata ini, pesantren setidaknya telah melakukan dua hal penting –dalam konteks Nusantara yang terjajah–. Kedua hal dimaksud yakni: keharusan melakukan transformasi ilmu [agama], sekaligus juga menjadi semacam pendidikan nasionalisme yang melakukan kontra penjajahan. Baik terhadap Portugal, Belanda maupun Jepang. Dalam perspektif yang terakhir ini, pesantren telah berada dalam maintream penting. Hal ini tentu dalam upaya melakukan proses kemerdekaan dan transformasi nilai dan pengetahuan, khususnya pengetahuan keagamaan.

Dominasi pendidikan pesantren mulai menurun –baik secara struktur maupun kultur masyarakat– secara drastis justru setelah penyerahan kedaulatan dari penjajah Belanda ke pemerintah Republik Indonesia pada bulan Desember 1949. Sejak tahun-tahun awal kemerdekaan, pemerintah RI telah mengabsahkan pengembangan pendidikan umum, sebagaimana terjadi di Barat dan Eropa, tidak lagi pendidikan pesantren.

Selain itu, jabatan-jabatan administratif terbuka luas bagi bangsa Indonesia yang terdidik di lembaga-lembaga pendidikan umum. Hal ini berarti memberi ruang kepada mereka yang terdidik persekolahan sejak era penjajahan. Kondisi ini telah mengakibatkan pesantren yang tidak mempersiapkan tenaga administratur ini, kemudian perlahan mengalami pasang surut yang unik bahkan seolah ditinggalkan oleh para pecintanya di zaman dulu.

Kondisi ini telah mengakibatkan menurunya jumlah anak muda yang tertarik pada pendidikan pesantren. Anak-anak usia sekolah lebih suka memilih lembaga pendidikan formal persekolahan yang dipersiapkan pemerintah untuk menjadi administratur dan tenaga ahli di pemerintahan. Atas kondisi ini, perjalanan pesantren menjadi terhambat dan hanya sedikit yang mampu bertahan dan mempertahankan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam seperti semula didirikan.

Respon terhadap kondisi ini, telah mengakibatkan sejumlah pesantren untuk melakukan perubahan orientasi serta motivasi pendiriannya. Perubahan ini dimaksudkan tidak hanya untuk menjadi cagar budaya masyarakat dalam soal pendidikan keislaman. Lebih dari itu, perubahan pesantren dimaksudkan untuk tetap menjaga eksistensi keislaman.

Tipologi Pesantren Masa Kini

Atas kondisi itu, pesantren pada hari ini, tidak lagi memiliki mainstrem tunggal sebagaimana terjadi seperti tempo dulu. Kondisi dan eksistensi pesantren menjadi sangat beragam. Jika mencoba mengkorelasikan kategori pesantren sebagaimana dijelaskan oleh  Departemen Agama RI yang menyebut ada empat jenis atau tipe pondok pesantren di Indonesia. Tipe dimaksud adalah: tipe A, B, C dan D.

Dari keempat typologi ini, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian saja. Kedua kelompok itu adalah: Pertama, pondok pesantren salafi; yaitu pondok pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai inti pendidikan di pesantren. Dalam pembahasan selanjutnya disebut pondok pesantren tradisional dan tetap tidak tergoda untuk membuka lembaga pendidikan formal persekolahan di lingkungan pesantren.

Kedua pondok pesantren khalafi; yaitu pondok pesantren yang telah memasukan pelajaran-pelajaran umum dengan mendirikan lembaga pendidikan formal persekolahan seperti Pesantren yang dikembangkannya. Dalam makna lainnya, membuka tipe sekolah-sekolah umum dalam lingkungan pendidikan pesantren. Selanjutnya pondok pesantren yang demikian disebut pondok pesantren modern. ***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren, Jakarta: Paramadina, 1997.

Karl A. Stenbrink, Pesantren, Madrasah dan Sekolah, Cetakan Pertama, Jakarta:Logos, 1995.

Zamaksyari Dhofier Tradisi Pesantren, Jakarta: LP3ES, 1994

Clifford Geertz, Santri, Abangan dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Cetakan Keempat Jakarta: Pustaka Jaya, 1989.

Wuraji. Sosiologi Pendidikan Sebuah Pendekatan Sosio-Antropolog. Cetakan Pertama, Jakarta: Dirjen PT-PPLPTK, 1988

Zuhairini Dkk. Metode Pendidikan Agama Islam. Surabaya: Usaha Nasional, 1997.

Uka Tjandra Sasmita dalam Marwan Sariji, et. all, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta: Darma Bakti, 1980.

Amin Haedari. Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern.  Jakarta: Diva Pustaka, 2004

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.