Sejarah Filsafat Metafisika | Part – 2

Peletak teori metafisika
0 737

Sejarah Filsafat Metafisika. Tulisan Jean Hendrik (1996) menarik untuk disimak. Ia menyebut bahwa istilah metafisika untuk pertama kali dipopulerkan Andronicos dari Rhodes. Usia ilmu ini sudah cukup tua. Metafisika telah dipopulerkan sejak sekitar tahun 70 SM.

Sosok ini telah menafsirkan karya-karya Aristoteles tersusun sesudah (meta) buku physika. Menurut Hendrik, metafisika sering diartikan sebagai filsafat kedua setlah fisika. Disebut demikian, karena kajian ini lahir setelah berbagai kajian fisika digelutinya. Jadi, dalam nalar Jean Hendrik, metafisika mengkaji keadaan sesuatu, yang eksistensinya patut diduga berada di luar jangkauan fisik biasa manusia.

Anton Bakker (1992) berpandangan berbeda. Menurutnya, metafisika sebenarnya sudah berkembang jauh sebelum Andronicos memunculkan gagasannya. la menyebut bahwa metafisika sudah berkembang sejak abad ketiga sebelum masehi. Pada awalnya dapat dipakai untuk berbicara mengenai masalah-masalah yang lebih fundamental, mendalam dan substantif dalam berbagai lingkungan kehidupan. Karena itu, ketika sebuah judul muncul dengan istilah metafisika, maka, menurutnya, ia berarti telah menunjukkan bagian filsafat yang harus dikaji setelah physika (filsafat alam- dunia yang fisik dan provan).

Peletak Teori Metafisika

Pemikiran Hendrik sama dengan pemikiran Bakker dalam memahami tokoh penting di balik lahirnya istilah metafisika. Mereka sependapat bahwa yang melahirkan istilah ini adalah Aristoteles. Ia adalah murid cerdas Plato yang sering bertentangan dengan gurunya dalam memahami bidang ini. Kenapa disebut murid cerdas? Sebab tokoh yang satu ini, bukan saja mampu memahami pikiran gurunya, Plato, tetapi ia juga mampu mengembangkan dan melahirkan teori baru yang lebih praksis dan bahkan terkadang bertentangan dengan pemikiran gurunya. Namun harus diakui bahwa melalui pemikiran Aristoteles, filsafat terasa lebih hidup dibandingkan dengan pengaruh pemikiran Plato.

Contoh konkret atas kecerdasan Aristoteles adalah ketika ia mengembangkan pemikiran Plato tentang keadaan atau eksistensi sesuatu. Bagi Plato, eksistensi itu dapat dibagi pada dua kenyataan, yaitu kenyataan fisik yang empiris dan kenyataan yang membelakanginya dan bersifat non fisik yang kemudian disebut metafisik. Pemikiran Plato tadi kemudian disebut metafisika. Pemikiran Plato tadi, dikembangkan Aristoteles yang hasilnya justru mengejutkan. pemikiran Aristoteles berbeda dengan gurunya. Aristoteles lebih menitikberatkan pada aspek “dunia fisik” sebagai yang sebenarnya keadaan. Jadi tidak ada eksistensi yang metafisik [immateril] di balik yang fisik.

Bagi Aristoteles, semua eksistensi terjadi karena dinamika eksistensi itu sendiri. la berdiri dalam kemandiriannya dan terus menerus mengalami perkembangan sesuai dengan sunatullah yang melingkarinya. Perkembangan dimaksud, menurut Aristoles dapat terjadi karena vegetasi atau evolusi. Baginya, tidak ada sesuatu yang non fisik di balik yang fisik.

Kesimpulan “bentuk”. Bentuk disebut Aristoteles sebagai pengganti pengertian idea yang digagas Plato dan berada di balik yang fisik. Bentuk ikut memberikan kenyataan kepada benda. Setiap benda yang terdapat dalam dunia adalah barang yang berbentuk. Barang adalah materi yang mempunyai bangun, substansi belaka yang menempati pokok segalanya (Muhammad Hatta, tt: 127). ***Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.