Sejarah Filsafat Positivisme

Sejarah Filsafat Positivisme
0 390

Deskripsi tentang makna positivism sebagaimana telah penulis gambarkan di teori positivisme (baca: “Mengenal Filsafat Positivisme“), telah mengisyaratkan akan pentingnya pemahaman yang utuh terhadap sejarah dan perkembangan empirisme [induktif/ilmu alam] dan rasionalisme [deduktif/Matematik], serta bagaimana bangunan keilmuan yang dilahirkan oleh dua faham kefilsafatan ini yang kemudian melahirkan paham positivisme.

Paham empirisme pertama kali lahir ketika manusia dikagetkan atas terjadinya hukum keteraturan pada alam. Matahari selalu terbit di pagi hari [pasti di sebelah Timur] dan terbenam di sore hari [pasti di sebelah Barat]. Setiap mau hujan pasti diawali oleh awan mendung, meski tidak semua mendung pasti turun hujan. Gesekan benda padat satu dengan benda padat lainnya, pasti akan memercikkan api.  Atas berbagai gesekan benda padat ini pula, gunung bisa berapi dan berujungdengan ledakkan (meletus). Bahkan ketika makhluk hidup mati, seperti terlukis dalam cerita Ibnu Thufail, filosof dan sastrawan Muslim abad klasik, pasti didahului oleh ketidakberfungsian sebagai alat/organ vital benda hidup, seperti jantung, paru-paru, hati atau ginjal. Semua terjadi dalam pengalaman [empiris] yang factual. Comte menyebut kondisi tadi dengan istilah hukum sebab akibat. Nurcholish Madjid, menyebut kondisi ini dengan istilah teleleologis.

Dialektika Empirisme

Secara historis, banyak ahli menganggap bahwa paham itu lahir dari gagasan Aristoteles. Tokoh ini sering diberi penghormatan sebagai bapak positivisme klasik. Disebut demikian karena ia adalah manusia pertama-tentu berdasarkan catatan sejarah—yang kagum pada hukum keteraturan alam dan mendasari pemikirannya pada aspek-aspek fisik, kebendaan dan keterpenuhan wilayah badani yang landasannya sangat empiris [factual].

Pemikiran Aristoteles pada awalnya dimunculkan dengan semangat pembangkitan manusia dari tidur panjangnya yang selalu mengalah kepada kekuatan alam. Manusia yang telah lama hidup sebagai sub ordinate alam dan tunduk sepenuhnya pada ketentuan alam, dibangunkan secara paksa untuk mengalahkan alam berdasarkan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.

Menurut Aristoteles, manusia adalah penentu alam. Bukan sebaliknya, manusia ditentukan dan harus mengikuti irama alam. Manusia dipandang sebagai ukuran bagi setiap penilaian, dari referensi utama dari setiap kejadian alam semesta. Manusia tidak boleh dianggap sebagai pengunjung bumi (viator mundi ), tetapi ia hidup sebagai pekerja dan pencipta dunia (vabel mundi). Manusia adalah ukuran segala-galanya: untuk hal-hal yang ada sehingga mereka tidak ada. Ia juga menyebut bahwa tidak ada yang mutlak mengenai konsep-konsep, termasuk dalam soal-soal etika, semua dianggapnya relative. Yang baik dan yang jahat tergantung pada kebiasaan sosial manusia dan karena itu berbeda menurut tempat dan waktu di mana manusia mempersepsinya.

Pikiran Aristoteles di atas, telah menempatkan manusia sebagai pusat [antroposentris] segala dinamika alam. Prinsip ini dibangun di atas prinsip bahwa manusia di bawah berada dalam posisi sentral di alam realitas. Seluruh realitas selalu dihubungkan dan dikaitkan dengan tujuan dan praksis hidup manusia. Pengetahuan, seni, moralitas dan bahkan agama, tidak dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi selalu dihubungkan dengan kegunaannya bagi mnusia menuju kehidupan yang lebih baik. Manusia dianggap sebagai individu kongkret ketimbang sebagai manusia yang lajim difahami pada waktu itu, yang justru lebih dominant dimensi adiragawynya. Menurut Aristoteles kekuatan-kekuatan yang datang dan bersumber dari luar manusia yang otoriter dan refresif, tidak dapat menghapus kedudukan manusia. Manusia dapat mengatakan tidak kepada kekuatan-kekuatan itu dan ia mempertegas posisinya sebagai pusat dari dunianya.

Menurut Aristoteles (384 SM) ilmu pengetahuan yang hanya dihasilkan oleh manusia, diberi tugas untuk mencari penyebab objek yang diselidiki. Aristoteles mengomentari pemikiran filosof awal dengan menyebut kegagalannya karena mereka tidak menyelidiki penyebab-penyebab objek yang diselidikinya. Bagi Aristoteles, setiap kejadian pasti memiliki empat penyebab. Keempat penyebab itu adalah: 1). Penyebab efisien (efficient cause), inilah yang disebut sebagai sumber kejadian; 2). Penyebab material (final cause), yaitu tujuan yang menjadi seluruh kejadian; 3). Penyebab material (material cause) yaitu bahan dari mana benda dibikin, dan; 4). Penyebab formal (formal cause), inilah bentuk yang menyusun bahan.

Jika keempat aspek ini diilustrasikan pada pembuatan kursi, maka logika yang dipakai Aristoteles untuk menyebut pemikirannya ini menjadi: penyebab pertama dapat diibaratkan sebagai “tukang kayu” yang membikin sebuah kursi. Penyebab kedua melihat fungsi kursi bagi manusia, yakni sebagai tempat duduk, penyebab yang ketiga dapat diilustrasikan sebagai kayu atau bahan lainnya yang mungkin dapat digunakan tukang kursi untuk membuat kursi. Sedangkan penyebab yang keempat dapat diilustrasi sebagai model kursi. Teori kejadian yang dibangun oleh Aristoteles ini, menunjukkan ada proses materialisasi dari segala dinamika, baik pada alam maupun pada diri manusia sendiri. Kekuatan supranatural, beyond, eternal dan berada di luar kategori historis manusia harus dianggap tidak ada, karena dianggap tidak bersentuhan dengan dunia manusia yang fisik.

Bagi Aristoteles, fungsi organis manusia sangat berhubungan dengan fungsi jiwa, atau sebaliknya. Meski dalam corak ini, jika dilihat dalam perspektif ilmu modern kesannya masih sangat sederhana. Namun di zamannya, pemikiran Aristoteles ini, telah menjadi semacam magma bagi observasi lanjutan dalam melahirkan ilmu pengetahuan. Organism hidup yang ada pada manusia, dipercaya Aristoteles mampu memproduksi, bergerak dan berpikir sendiri karena mereka memiliki jiwa-jiwa vegetative, hewwani dan sekaligus rasional. Di perspektif ini, asumsi akan keberlakuan fungsi material dalam berbagai kejadian, menjadi semakin nyata dalam pikiran Aristoteles. Pendapat Aristoteles ini sekaligus membantah dan menolak pemikiran gurunya, Plato yang membagi manusia dan benda-benda fisik lainnya ke dalam dua dunia, yaitu dunia Idea dan dunia Jasmani. Namun dalam pikiran plato, yang benar-benar eksis justru dimensi jiwa. Sedangkan dimensi fisik, tidak lebih dari sebuah baying-bayang, yang justru bukan merupakan eksistensi sejati.

Aristoteles menyebut bahwa tidak ada ruang yang kosong; seluruh alam semuanya berisi partikel-partikel yang bermacam-macam dalam berbagai bentuk dan gerakan yang bermacam-macam pula. Partikel-partikel dimaksud semuanya bersifat materil seperti api, udara dan tanah. Atas pemikiran seperti ini, maka fungsi-fungsi tradisional mengenai roh-roh vegetatif dan roh-roh hewani dapat dijelaskan secara mekanis. Prinsip dan pemikiran Aristoteles seperti ini, nilainya sama dengan mesin-mesin yang banyak ditemukan di era modern yang bergerak karena pergerakan mekanis. Artinya, perubahan dan dinamika dalam setiap perubahan itu terjadi dengan sendirinya, dan jauh kalau bukan tidak ada sama sekali penggerak utama yang disebut Allah.

Pemikiran Aristoteles ini, jika diteruskan dalam bidang kajian lain, maka akan tampak corak berpikirnya yang mulai radikal dan sangat fisis. Hal ini dapat dibuktikan dengan pemikirannya yang menyebut bahwa physis mempunyai hubungan erat dengan objek penyelidikan fisika. Perkembangan yang terjadi dalam benda-benda alamiyah mempunyai prinsipnya sendiri. Benda fisik mempunyai sumber gerak atau sumber diam dalam dirinya sendiri. Pohon yang semula kecil mengalami perkembangan karena kepentingan pshysisnya. Dengan kata lain, pohon tetap tinggal pohon atau tetap mempertahankan identitasnya sebagai pohon, berkat physisnya atau berkat kodratnya. Dalam bahasa yang agak vulgar, Donald B. Calni menyebut bahwa Aristoteles tidak mengakui hakekat kebaikan (essence of goodnes). Ia menyebut bahwa sesuatu dianggap baik apabila sesuai dengan tujuannya. Prinsip Aristoteles yang demikian, di era modern sangat kuat memepengaruhi filsafat fungsionalisme, yang menganggap kebenaran berada dalam tingkat fungsinya bagi pemenuhan hajat manusia.

Bernard Crick, menyebut pandangan Aristoteles sangat bendawi. Pendapat ini berlaku juga dalam konsep kesenangan. Aristoteles mirip seperti Aristippos yang memandang kesenangan sebagai segala-galanya. Aristoteles menyebut bahwa kesenangan adalah ibu filsafat. Menurut Aristoteles, kesenangan akan diperoleh melalui properti. Tanpa pengetahuan dan nalar yang merupakan buah kesenangan, tidak akan ada seni politik dan pemerintahan. Menurut Crick, model pemikiran Aristoteles yang demikian itulah, yang menyebabkan para pengikutnya hingga hari ini selalu mengejar uang dan keuntungan sensual. Pikiran Aristoteles yang demikian, di era modern sangat kuat mempengaruhi corak filsafat yang berbasis pada materialisme dan pragmatisme.

Rumusan Aristoteles tentang soal ini terlihat dari gagasannya yang tertuang dalam Categories yang mengatakan bahwa suatu benda itu tidak mungkin “sesuatu” dan sekaligus bukan “sesuatu itu” dalam hal yang sama dan waktu yang sama pula. Mustahil bagi suatu benda untuk menjadi hitam sekaligus putih. “A” dan sekaligus “-A”. secara simbolik rumusannya dapat dilihat dalam skema “A bukan –A” atau “A#-A”.

Menurut Aristoteles, kebenaran hanya dapat ditemukan dengan formulasi teori-teori yang isinya adalah pengertian dan bentuknya adalah alat-alat intelektual. Teori semacam ini dianggapnya akan ditemukan dalam logika, fisika dan teologi. Dengan demikian, filsafat dapat dirumuskan berdasarkan matematika, ilmu-ilmu fisika dan teologi. Pikiran Aristoteles tentang jiwa manusia yang vegetative dan materil ini, secara mudah dapat dilacak dan dibaca dari prinsip psikologi modern yang dibangun oleh Sigmund Freud.

Landasan filosofis Aristoteles menurut Donald B. Calni, dibangun berdasarkan prinsip nalar. Ia adalah orang pertama yang secara subjektif merumuskan dan memapankan nalar sebagai sesuatu yang kuasa, mandiri, eksternal dan tertinggi. Nalar dianggapnya sanggup memberi kearifan dan kebaikan. Nalar yang semacam ini, menurut Calni naik tahta ketika Aristoteles menatap alam semesta berdasarkan prinsip penalaran. Kehidupan manusia berdasarkan nalar adalah kehidupan yang terbaik dan paling menyenangkan, karena lebih adari apapun, nalar adalah manusia itu sendiri. Dalam pandangan yang lebih ekstrem, pemikiran Aristoteles ini dimatangkan oleh Cicero dengan menyebut bahwa nalar adalah raja dan sekaligus ratu atas segala hal.

Lebih Lengkap Baca : Positivisme dan Teori Sebab Akibat. ** Prof. Dr. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...