Sejarah Logika | Epistemology Part – 11

0 95

Sejarah Logika. Logika [logos] berasal dari bahasa Latin terserap dari bahasa Yunani Kuna Ii??I?I?I?Ii?? (logos). Arti dasarnya perkataan atau sabda.Ai?? Logika dalam pengertian lain sering disebut sebagai hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan melalui sejumlah kata yang tersusun dalam bahasa.Ai?? Logika sering juga diterjemahkan dengan logike episteme (logica scientia/Bahasa Latin).

Logika adalah disiplin ilmu yang mempelajari kecakapan berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Logika juga sering diartikan dengan masuk akal atau menurut ketentuan akal. Kebenaran dengan cara kerja logika, didasarkan pada apa yang disebut dengan kebenaran aqliyah. Dalam pengertian ini, logika sering disebut sebagai cabang Filsafat Ilmu yang paling rumit.

Di kalangan Ilmuan Arab, logika diperkenalkan dengan kata mantiq.Ai?? Terambil dari kata kerja nataqa. Kata mantiq lazim diartikan dengan berkata atau berucap secara benar. Menurut Luis Ma’luf (1973) kata mantiq diartikan sebagai hukum yang memelihara hati nurani dari kesalahan dalam berpikir. Ada juga yang mengartikan Mantiq sebagai ilmu berkata benar atau berpikir benar.

Makna Logika

Richard Jeffrey (1981) mengartikan logika secara istilah dengan: “Logic is the science of deduction. It’s aims to provide systematic means for telling wether given conclusion do or do not follow from given premises, for telling wether inferences are valid or invalid“. [Logika adalah ilmu tentang deduksi. Bertujuan untuk menyediakan cara yang sistemik dalam merumuskan kesimpulan, apakah ujaran itu mengikuti fakta atau tidak. Valid atau tidak valid]

Logika dari segi istilah, dengan demikian, sering diartikan sebagai kumpulan kaidah-kaidah yang memberi jalan (system) berpikir tertib dan teratur sehingga kebenarannya dapat diterima oleh orang lain. Dalam definisi ini, logika berdiri menjadi sebauh disiplin ilmu yang mempelajari cara manusia berpikir dengan sempurna. Logika yang demikian, akan memberi ukuran (norma), yaitu suatu anggapan tentang benar dan salah terhadap sebuah kebenaran. Ukuran kebenarannya adalah keterukuran nalar.

Karena itu, dalam pendekatan filsafat ilmu, logika lebih bersifat normatif dan teoritis. Pekerjaan logika menentukan peraturan- peraturan berpikir yang benar. Logika adalah pengetahuan tentang cara dan seni berpikir secara filosofis (philosophy or art of thinking). Logika dalam pengertian ini, diartikan sebagai metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran.

Selain itu, logika dapat juga diartikan sebagai ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan dalam membedakan penalaran yang benar dan penalaran yang salah. Dengan demikian, cara kerja logika adalah lanjutan dari cara kerja penalaran dalam memperoleh dan menetapkan pengetahuan.

Bertrans Russel (1974) menjelaskan bahwa kata logika untuk pertama kali dipergunakan Zeno dari Citium.Ai?? Ia adalah seorang pemikir Helenistik atau Siprus, meski ada juga yang menyatakan bahwa dia merupakan keturunan dari Venisia. Ia patut diduga merupakan keturunan Phoenician, yang hidup diperkirakan pada tahunAi?? Ai??334 – 262 Sebelum Masehi. Di kalangan para ahli filsafat, Zeno sering digambarkan sebagai pemikir Helenistik. Zeno adalah pendiri sekolah Filsafat Stoa pada kisaran tahun 300 SM.

Sejarah Singkat Logika

Banyak masyarakat yang sinis terhadap gagasan moral yang dikembangkan Zeno, Stoicisme yang sangat menekankan pada kebaikan dan ketenangan pikiran dalam menjalani kehidupan. Kebajikan sejati dalam nalar Zeno pasti sesuai dengan Alam. Gagasan yang seperti inilah, yang telah menyebabkan Sekolah Stoa Zeno, berkembang menjadi salah satu sekolah filsafat utama di masa Helenistik. Bahkan sampai masa Romawi

Meski demikian, menurut Russel, sebelum Zeno sesungguhnya sebelum dia, sudah ada filosof yang konsen terhadap logika. Tokoh itu, siapa lagi kalau bukan Socrates, Plato dan Aristoteles. Dalam kasus tertentu, tiga orang tokoh inilah sesungguhnya yang menjadi perintis lahirnya logika. Bahkan secara khusus, Bertrans Russel menyatakan bahwa Aristoteles memiliki jasa besar dalam melahirkan logika.

Pernyataan Russel tadi, memperoleh bantahan dari K. Bertens (1989). Ia menyatakan bahwa logika untuk pertama kalinya muncul bukan pada era Zeno di Citium tetapi pada era Cicero (abad ke satu sebelum masehi). Menurut Bertens, logika dalam tema ini, sering dimaknai dengan seni berdebat. Pada masa Aristoteles, apalagi masa sebelumnya, menurut Bertens tidak ditemukan ada nama atau istilah logika.

Lagika dalam pengertian sebagai ilmu (ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikira seseorang), bahkan baru muncul pada abad ketiga Masehi, yakni pada saat Alexander Aphrodisias menyusun sebuah teori tentang bagaimana betutur kata yang baik dan benar sehingga dapat meyakinkan masyarakat.

Jikapun logika harus disandingkan dengan Aristoteles, menurut K. Bertens lebih pada sifat yang dibangun oleh logika. Secara artikulatif, Aristoteles menggunakan makna logika dengan kata “analitika”. Ilmu ini bertugas menyelidiki argumentasi-aregumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar.

Istiah lain yang sering digunakan Aristoteles adalah dialektika yang bertugas menyelidiki argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesa atau putusan yang tidak pasti kebenarannya. Namun demikian, dilihat dari sisi fungsi dan kegunaan, analitika dan dialektika yang dipakai Aristoteles, memang mengandung kemungkinan sama dengan istilah logika seperti umum dipakai di zaman sekarang.

Sejarah Logika dalam Sintesa

Berbeda dengan pendapat tadi, Herman Soewandi (2000), tokoh filsafat ilmu baru yang agak kontroversial dari UNPAD Bandung mencoba melihat dialektika logika ini dalam bingkai sejarah. Secara implisit Herman juga menyatakan bahwa logika yang menggunakan cara berpikir induktif dan deduktif, baru terjadi pada abad ke 17, bukan di era Yunani dan Patristik seperti difahami oleh Russel dan Bertens. Cara kerja logika, menurut Herman baru muncul pada abad modern setelah renessaince dan aufklarung berlangsung di Eropa dan Barat.

Lepas dari berbagai pendapat tadi, menurut penulis cara atau model berpikir yang dituntut oleh logika, sebenarnya mungkin telah berlangsung lama. Bahkan mungkin berlangsung sebelum Aristoteles ada, sebagaimana Russel katakan tadi. Tetapi, ketika membincangkan logika sebagai sebuah disiplin ilmu, pikiran Herman tadi mungkin benar juga. Sebab logika yang dianut dan berkembang dalam kajian filsafat, yang modelnya adalah deduksi memang baru muncul ke permukaan pada abad ke 17 setelah kedua model bertarung “memperbutkan” posisi puncak di mata umat manusia. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.