Sejarah Panjang Bagi Perkembangan Hak Cipta

0 35

Sejarah Panjang Bagi Perkembangan Hak Cipta – Hak paten memiliki sejarah yang amat panjang. Dunia penerbitan pada abad pertengahan hanya mengenal konsep kepemilikan sebuah karya (dalam hal ini buku) dan juga sama sekali belum memberikan perlindungan terhadap berbagai hak para penulis. Sehingga jika seseorang ingin menyalin sebuah buku, yang ia harus lakukan adalah hanya meminjam dan membayar kepada sang pemilik buku. Kala itu belum terbersit sedikit pun untuk memberikan kompensasi kepada pengarang atau penulis buku.

Dunia penerbitan belum berkembang dengan pesat. Hampir semua reproduksi buku serta karya-karya monumental dilakukan oleh pihak gereja. Di tahun 1440, terjadilah revolusi dalam dunia penerbitan, ditandai dengan diciptakannya mesin cetak jenis moveable oleh Johannes Gutenberg. Mesin ciptaan Gutenberg mampu menghasilkan tak hanya ratusan tetapi ribuan eksemplar per hari. Di abad XV hal ini dianggap sangatlah fenomenal, mengingat reproduksi buku adalah sebuah kegiatan yang sangat mahal dan juga sangat lama (karena hanya dilakukan secara manual oleh manusia).

Hak paten belum dikenal sampai tahun 1770. Pada tahun tersebut, Parlemen Britania Raya menetapkan sebuah perundang-undangan yang memiliki tujuan utama melindungi hak-hak para penulis dan juga penerbit. Beberapa bagian dari undang-undang tersebut memiliki banyak kesamaan dengan undang-undang hak cipta di masa kini, misalnya pengakuan terhadap hak-hak pengarang atau penulis. Jangka waktu berlaku hak cipta selama 28 tahun, kewajiban untuk penulis untuk mendaftarkan secara terbuka klaim mereka atas karya yang dihasilkan, dan lain sebagainya.

Hukum Hak Cipta Pertama disahkan

Tahun 1787 merupakan tonggak bersejarah berikutnya untuk perkembangan hak cipta. Pemerintah AS kala itu menetapkan dalam Konstitusi AS bahwa Kongres memiliki kewenangan untuk memberikan hak eksklusif untuk para penulis dan penemu sehubungan dengan tulisan serta temuan mereka. Tiga tahun kemudian (1790), hukum hak cipta pertama disahkan. Undang-undang hak cipta AS ini memiliki banyak kemiripan dengan undang-undang serupa yang sebelumnya pernah diterbitkan di Britania Raya. Sayangnya undang-undang tersebut hanya melindungi barang-barang cetak dan juga belum menyentuh komoditas lainnya, contohnya musik. UU Hak Cipta pertama ini telah menerapkan hukuman untuk para pelanggar. Misalnya penyitaan dan kewajiban membayar sejumlah uang sebagai denda.

Beberapa tokoh pendukung penegakan hukum hak cipta yaitu Noah Webster, James Madison, George Washington, serta Thomas Edison. Webster menyusun beberapa buku terkenal seperti The American Spelling Book 1783 dan The American Dictionary of the English Language. Sementara, James Madison, George Washington, dan Thomas Edison adalah beberapa jurnalis produktif yang turut serta dalam usaha Noah Webster untuk menuntut perlindungan dalam hak-hak pengarang/ penulis.

Sepanjang abad XX, hak cipta yang semula hanya meliputi barang cetak telah diperluas cakupannya menjadi foto, rekaman musik (yang tak hanya mencakup komposisinya), piranti lunak komputer, serta atas karya arsitektur.

Ditetapkan Perundangan Baru yaitu Copyright

Pada tahun 1976 ditetapkan sebuah undang-undang baru bernama Copyright Act of 1976. Di dalam UU tersebut disebut dengan sebuah istilah bernama “fair use” (penggunaan yang adil). Istilah ini mengacu kepada pembuatan salinan atau juga pengutipan karya orang lain dalam koridor kebebasan berbicara dan juga demi meningkatkan wacana intelektual. Menyalin karya orang lain selama tak melebihi setengah lusin eksemplar (maksimal 6 eksemplar) tidak dianggap dengan pelanggaran hak cipta. Dan hanya digolongkan sebagai penggunaan yang adil (fair use). Penggunaan yang adil juga dapat dilakukan oleh perpustakaan dan juga lembaga-lembaga arsip yang membuat salinan dengan tujuan untuk memperbanyak karya tersebut hingga dapat mempublikasikannya ke masyarakat umum.

Di tahun 1998, seiring dengan perkembangan teknologi serta naiknya pamor internet. Kongres AS memperbaharui perangkat hukum hak cipta dengan menerbitkan UU baru bernama “the Digital Millenium Copyright Act”. Di masa kini hak cipta tak hanya melindungi dari pelanggaran yang tampak nyata serta jelas. Tetapi juga usaha untuk menyalin atau usaha lain untuk membuat reproduksi atau salinan dari gaya atau penampilan secara umum dari suatu sampul majalah atau juga layar komputer.

Komentar
Memuat...