Sejarah Perkembangan dan Bentuk-bentuk Logika

0 1.119

Bertrans Russel (1974) menjelaskan bahwa kata logika untuk pertama kali dipergunakan oleh Zeno dari Citium. Ia juga menjelaskan bahwa Socrates, Plato dan Aristoteles dapat disebut sebagai perintis lahirnya logika sebagai sebuah ilmu. Bahkan secara khusus, Bertrans Russel menyatakan bahwa Aristoteles memiliki jasa besar dalam melahirkan ilmu logika.

Pernyataan Russel di atas mendapat sanggahan dari K. Bertens. K. Bertens (1989) menyatakan bahwa logika untuk pertama kalinya muncul bukan pada era Zeno di Citium tetapi pada era Cicero (abad ke satu sebelum masehi). Menurut Bertend logika dimaknai sebagai arti seni berdebat. Pada masa Aristoteles, apalagi masa sebelumnya, menurut Bertens tidak dapat nama atau istiiah logika.

Logika dalam pengertian sebagai ilmu (ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikira seseorang), bahkan baru muncul pada abad ketiga Masehi, yakni pada saat Alexander Aphrodisias menyusun sebuah teori tentang bagaimana betutur kata yang baik dan benar sehingga dapat meyakinkan masyarakat.

Jikapun logika harus disandingkan dengan Aristoteles, menurut K. Bertens lebih pada sifat yang dibangun oleh logika. Secara artikulatif, Aristoteles menggunakan makna logika dengan kata “analitika”. Ilmu ini bertugas menyelidiki argumentasi- areumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar. Istiah lain yang sering digunakan Aristoteles adalah dialektika yang bertugas menyelidiki argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesa atau putusan yang tidak pasti kebenarannya. Namun demikian, dilihat dari sisi fungsi dan kegunaan, analitika dan dialektika yang dipakai Aristoteles, memang mengandung kemungkinan sama dengan istilah logika seperti umum dipakai di zaman sekarang ini;

Herman Soewandi (2000), tokoh filsafat ilmu baru yang agak kontroversial dari UNPAD Bandung mencoba melihat dialektika logika ini dalam bingkai sejarah. Secara implisit Herman juga menyatakan bahwa logika yang menggunakan cara berpikir induktif dan deduktif, baru terjadi pada abad ke 17, bukan di era Yunani dan Patristik seperti difahami oleh Russel dan Bertens. Cara kerja logika, menurut Herman baru muncul pada abad modern setelah renessaince dan ciufklarung berlangsung di Eropa dan Barat.

Lepas dari berbagai pendapat tadi, menurut penulis cara atau model berpikir yang dituntut oleh logika, sebenarnya mungkin telah berlangsung lama. Bahkan mungkin berlangsung sebelum Aristoteles ada, sebagaimana Russel katakan tadi. Tetapi, ketika membincangkan logika sebagai sebuah disiplin ilmu, pikiran Herman tadi mungkin benar juga. Sebab logika yang dianut dan berkembang dalam kajian filsafat, yang objeknya induksi dan deduksi memang baru muncul ke permukaan pada abad ke 17 setelah kedua model bertarung “memperbutkan” posisi puncak di mata umat manusia.

Cara Kerja Logika

Filsafat ilmu membagi cara kerja logika dalam dua bentuk. Kedua bentuk cara berlogika dimaksud adalah: Logika Matematika dan Logika Statistika. Berikut adalah dua cara kerja logika.

  • Logika Matematika

Cara berpikir ilmiah yang pertama adalah logika matematika. Logika ini melambangkan serangkai makna dari pernyataan yang disampaikan. Lambang matematika bersifat artificial yang baru mempunyai makna setelah manusia memberikan arti terhadapnya. Tanpa ada penafsiran atau pemaknaan terhadap lambang- lambang yang dimiliki matematika, gambaran dimaksud hanya akan berisi rumus-rumus mati dan sepi tanpa makna.

Matematika biasanya menggunakan bahasa numeric yang menafikan unsur emosi, kabur dan majemuk seperti yang terdapat dalam bahasa biasa. Melalui unsur ini, manusia dapat melakukan pengukuran secara kuantitatif yang tidak diperoleh dalam bahasa yang selalu memberi kemungkinan menggunakan perasaan yang bersifat kualitatif.

Manusia, misalnya dapat mengatakan bahwa apabila logam dipanaskan akan memuai. Tetapi manusia tidak dapat mengetahui secara tepat besar pertambahan panjang logam yang dipanaskan tanpa ada ukuran, Akurasi pembesaran logam akibat dipanaskan tadi, hanya dapat diketahui melalui logika matematika. Karena itu, penjelasan bahwa bahasa verbal menjadi tidak eksak, kurang cermat dan kurang tepat memperoleh bukti dalam hal ini.

Sementara itu, untuk mengatasi persoalan tadi, matematika justru hadir dengan teorinya tentang pengukuran. Melalui teori pengukuran, manusia dapat mengetahui seberapa panjang logam yang dipanaskan dan seberapa banyak tambahan panjangnya logam dimaksud apabila dipanaskan. Melalui sifat matematika yang demikian, manusia dapat meningkatkan daya prediktif dan melakukan control terhadap ilmu. Oleh karena ihi matematika dapat berfungsi sebagai alat berfikir logis.

Matematika, menurut Jujun S. Suriasumantri (1982) adalah puncak kegemilangan intelektual manusia. Matematika selain menjadi ilmu pengetahuan tersendiri, juga ia merupakan bahasa, proses dan teori yang memberi kepada ilmu suatu bentuk dan kekuasaan untuk melakukan proses kerja intelektualnya. Perhitungan matematik menjadi dasar bagi lahimya ilmu teknika, memberi inspirasi kepada pemikir di bidang ilmu sosial dan ilmu ekonomi, memberi warna kepada kegiatan seni lukis, arsitektur dan pegiat musik.

Jatuh bangunnya suatu Negara saat ini, juga akan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya Negara itu menguasai matematik. Matematik dengan demikian, telah menjadi satu kekuatan utama dalam membentuk konsepsi tentang alam, serta hakikat dan tujuan manusia menduduki alam dalam berkehidupan ini. Persoalannya kemudian, kenapa ilmu ini menjadi demikian signifikan maknanya dalam kehidupan manusia.

Jawaban atas pertanyaan ini, karena matematika selain menjadi ilmu tertentu, ia juga memiliki ciri (utama) sebagai metode berpikir dalam wujud penalaran (reasoning). Penalaran baik secara induksi dan analogi membutuhkan pengamatan dan bahkan percobaan, untuk memperoleh fakta yang dapat dipakai sebagai dasar argumentasi. Tetapi pancaindra manusia sangat terbatas dan terkadang tidak teliti. Untuk menghindari kesalahan yang demikian, ilmuwan menggunakan metode dan alat berfikir yang dinamakan dengan penalaran matematik.

Umpamanya, jika ada fakta bahwa x3 = 7, maka untuk mencari nilai x, ilmuwan matematik merumuskannya pada: jika

angka 3 ditambahkan kepada kedua ruas persamaan, maka dia akan memperoleh bahwa matematika dengan demikian akan menghasilkan suatu kesimpulan teorema, karena ia menggunakan model deduksi yang meiighasilkan kesimpulan yang dapat dipercaya dan bersifat mpngikat.

Lalu, apa hubungannya antara teorema matematik ini ke dalam ilmu-ilmu di luar objek dan jangkauan ilmu matematik, misalnya, ilmu-ilmu sosial. Menurut Jujun S. Suriasumantri, kepentirvgan ilmu sosial (atau yang berada di luar abjek matematik, pen.), teorema matematik berguna paling tidak pada: Pertmna, bahasa dan logika matematika merupakan suatu cara yang paling mudah dalam memformulasikan hipotesa keilmuan, Cara ini memaksa ilmuwan untuk memformulasikan hipotesa keilmuan dalam bentuk yang persis dan jelas; Kedua, teorema yang dikembangkan dalam bidang ini telah tersedia untuk digunakan sebagai dasar ramalan. Karena aksioma dari sistem matematika, jika diinterpretasikan, akan menjadi teori keilmuan yang tadi sebut dapat digeneralisasi.

  • Logika Statistika

Logika berfikir ilmiah yang kedua adalah logika statistika. Logika ini hampir sama dengan logika matematik. Logika statistika selain mewujudkan logikanya pada angka-angka, ia juga merupakan bidang keilmuan yang memberi arti dari lambang, formula dan teorema. Ia seperti tata buku, selain merupakan kumpulan berbagai prinsip dan metode, namun ia juga berarti rekening, ireraca dan perhitungan pendapatan. Bidang keilmuan statistika adalah sekumpulan metode untuk memperoleh dan menganalisa data dalam mengambil suatu kesimpulan.

Perbedaan antara logika matematika dan logika statistika terletak pada cara kerja logika yang digunakan. Logika matematika menggunakan deduksi/rasio, sedangkan logika statistika menggunakan induksi/ empirik, Logika statistika, dengan demikian sering juga disebut sebagai logika induktif yang tidak memberikan kepastian namun memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan, dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. Langkah yang ditempuh dalam logika induktif ini adalah 1) Observasi dan eksperimen; 2) Munculnya hipotesis ilmiah; 3) Verifikasi dan pengukuran; dan 4) Sebuah teori dan hukum ilmiah.

Misalnya, untuk mengetahui tinggi badan rata-rata umur 10 tahun anak Indonesia, seorang peneliti tidak perlu mengukur semua manusia dengan umur yang sama dari Sabang sampai Merauke, satu persatu. la cukup melakukan pengukuran terhadap sebagian anak saja yang dijadikan sampel. Tentu saja penarikan kesimpulan ini didasarkan atas sejumlah sampel yang diambil dengan model tertentu dari jumlah populasi yang ada.

Kesimpulan yang dihasilkan dari pengukuran tinggi badan anak Indonesia, tentu saja tidak akan seteliti kesimpulan yang dihasilkan berdasarkan basil sensus, namun dalam teori keilmuan yang bersifat pragmatis, kesadaran akan kesulitan pencapaian pada kebenaran absolute, hasilnya tidak mutlak namun dapat dipertanggung-jawabkan dan sudah memenuhi syarat.

Contoh lainnya adalah, berdasarkan hasil observasi dan eksperimen diketahui bahwa: anak yang dirumahnya dibesarkan dalam kehidupan rumah tangga yang pecah (broken home), ternyata menumbuhkan anak yang agresif. Observasi dan eksperimen terhadap persoalan ini terus diujicobakan dalam keluarga-keluarga yang juga sama-sama broken home melalui verifikasi dan uji coba.

Setelah pengujicobaan ini dilakukan, maka seorang observer dapat merumuskan suatu hipotesa yang menyebutkan bahwa, “semakin rukun dan tertib sebuah rumah tangga, maka akan besar pula peluang keluarga dimaksud menghasilkan anak yang tertib dan rajin. Tetapi sebaliknya. Semakin tidak tertib sebuah rumah tangga itu dibangun, maka akan semakin kecil pula kemungkinan keluarga dimaksud melakukan penertiban terhadap anak”.

Setelah hipotesis ini dimunculkan, maka peneliti melakukan verifikasi ulang dengan melakukan uji coba terhadap data dan fakta di lapangan. Dan misalnya, ternyata hasilnya sama. Berdasarkan berbagai pengkajian itu, maka dapat dirumuskan suatu konsep atau teori hukum, di mana dapat disebutkan bahwa: Rumah tangga yang baik berpeluang menghasilkan anak yang baik dan tertib. Tetapi sebaliknya, rumah tangga yang broken home kecil sekali peluangnya untuk memperoleh anak yang baik.

Oleh karena itu, logika statistika, sering disebut sebagai teori peluang. Teori peluang adalah cabang dari matematika. Menurut bidang pengkajiannya, statistika dapat dibedakan sebagai statistika teoritis dan statistika terapan. Statistika teoritis ialah pengetahuan yang mengkaji dasar teoritis statistik. Sedangkan statistika terapan adalah penggunaan statistika teoritis yang disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya.

Penjelasan tadi mengisyaratkan bahwa logika statistika merupakan kumpulan dari pengetahuan yang memungkinkan seseorang untuk menghitung tingkat peluang dengan eksak. Ia juga dapat berguna bagi penarikan kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi.

Prolog ini juga menujukkan bahwa dengan logika statistika, penarikan kesimpulan memungkinkan seseorang untuk melakukan kegiatan ilmiah secara ekonomis. Karakteristik yang dipunyai statistika sering kurang dikenal dengan baik yang menyebabkan orang sering melupakan pentingnya statistika dalam penelaahan keilmuwan. *** Oleh: Prof. Dr. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.