Sejarah Perkembangan Ilmu Qira’ah

0 1.796

Sejarah Perkembangan Ilmu Qira’ah: Satu hal yang selalu dialami oleh setiap bidang ilmu adalah development process dari yang sangat sederhana (elementer) kemudian berkembang dan berkembang. Begitu juga halnya dengan ilmu qirâ’ah yang secara embrional tentu bermula dari zaman Rasulullah. Kendati belum berbentuk formatnya kini yang telah dibukukan sedemikian rupa. Yang ada ketika itu adalah bentuk dasarnya berupa al-qirâ’ah, al-iqrâ’, al-akhdhu, al-‘arad dan al-riwâyah. Yang menjadi kelebihan dari ilmu ini adalah bahwa ia didukung oleh wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW. yang membawa kalimat qirâ’ah. Suasana qirâ’ah yang biasa terjadi di zaman Rasulullah SAW, sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Jazri: “Ada yang menghapal al-Qur’an secara keseluruhan dan di antara mereka (baca: sahabat) ada yang hafal sebagian saja”.

Selanjutnya, pembahasan tentang sejarah dan perkembangan ilmu qirâ’at dimulai dengan adanya perbedaan pendapat tentang waktu mulai diturunkannya qirâ’at. Ada dua pendapat tentang hal ini; Pertama, qirâ’at mulai diturunkan di Makkah bersamaan dengan turunnya al-Qur’an. Alasannya adalah bahwa sebagian besar surat- surat al-Qur’an adalah Makkiyah. Di mana terdapat juga di dalamnya qirâ,at sebagaimana yang terdapat pada surat- surat Madaniyah. Hal ini menunjukkan bahwa qirâ’at itu sudah mulai diturunkan sejak di Makkah.

Kedua, qirâ’at mulai diturunkan di Madinah sesudah peristiwa hijrah, dimana orang-orang yang masuk Islam sudah banyak dan saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan dialeknya. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, demikian juga Ibn Jarir al-Tabari dalam kitab tafsirnya. Hadits yang panjang tersebut menunjukkan tentang waktu dibolehkannya membaca al-Qur;’an dengan tujuh huruf adalah sesudah hijrah, sebab sumber air Bani Gaffar-yang disebutkan dalam hadits tersebut- terletak di dekat kota Madinah. Kuatnya pendapat yang kedua ini bukan berarti menolak membaca surat-surat yang diturunkan di Makkah dalam tujuh huruf, karena ada hadits yang membicarakan perselisihan dalam bacaan surat al-furqan yang termasuk dalam surat Makkiyah, jadi jelas bahwa dalam surat-surat makkiyah juga dalam tujuh huruf.

Ketika mushaf disalin pada masa Utsman bin Affan, tulisannya sengaja tidak diberi titik dan harakat, sehingga kalimat-kalimatnya dapat menampung lebih dari satu qirâ’at yang berbeda. Jika tidak bisa dicakup oleh satu kalimat, maka ditulis pada mushaf yang lain. Demikian seterusnya, sehingga mushaf Usmani mencakup ahruf sab’ah dan berbagai qirâ’at yang ada.

Periwayatan dan talaqqi (si guru membaca dan murid mengikuti bacaan tersebut) dari orang-orang yang tsiqah dan dipercaya merupakan kunci utama pengambilan qirâ’at al-Qur’an secara benar dan tepat sebagaimana yang diajarkan Rasululah SAW kepada para sahabatnya. Para sahabat berbeda-beda ketika menerima qirâ’at dari Rasulullah. Ketika Usman mengirimkan mushaf-mushaf keberbagai kota Islam, beliau menyertakan orang yang sesuai qirâ’atnya dengan mushaf tersebut. Qirâ’at orang-orang ini berbeda-beda satu sama lain, sebagaimana mereka mengambil qirâ’at dari sahabat yang berbeda pula, sedangkan sahabat juga berbeda-beda dalam mengambil qirâ’at dari Rasulullah SAW.

Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri Islam dengan membawa qirâ’at masing-masing. Hal ini menyebabkan berbeda-beda juga ketika tabi’in mengambil qirâ’at dari para sahabat. Demikian pula dengan tabiut-tabi’in yang berbeda-beda dalam mengambil qirâ’at dari para tabi’in. Keadaan ini terus berlangsung sehingga muncul para imam qirâ’at yang termasyhur. Yang mengkhususkan diri dalam qirâ’at-qirâ’at tertentu dan mengajarkan qirâ’at masing-masing tersebut.

Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya masa pembukuan qirâ’at. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qirâ’at adalah Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam  (w. 224 H). Ia menulis kitab yang diberi nama al-qirâ’at yang menghimpun qirâ’at dari 25 orang perawi. Pendapat lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qirâ’at adalah Husain bin Usman bin Tsabit al-Baghdadi al-Dhahir (w. 378 H). Dengan demikian mulai saat itu qirâ’at menjadi ilmu tersendiri dalam ‘ulûm al-Qur’ân.

Menurut Sya’ban Muhammad Ismail, ke dua pendapat tersebut bisa dikompromikan. Orang yang pertama kali menulis masalah qirâ’at dalam bentuk prosa adalah al-Qasim bin Salam. Sedang orang yang pertama kali menulis tentang qirâ’ah sab’ah dalam bentuk puisi adalah Husain bin Usman al-Baghdadi.

Oleh Ahmad Munir

Bahan Bacaan

Ali Ahmadi, “Al-Qira’at dan Orisinalitas al-Qur’an”, dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan, vol. 1, no. 1 (Jakarta: Gema Insani, 2005)

Sya’ban Muhammad Ismail, al-Qirâ’at Ahkamuha wa Mashdaruha, terj. Agil Husin al-Munawwar dkk. (Semarang: Dina Utama, 1993)

M. Hasbi Ash Shiddieqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1989)

Komentar
Memuat...