Sejarah Singkat Pemberlakuan Dua Sistem Ekonomi di Indonesia.

0 114

Ekonomi pada akhir masa penjajah Jepang atau awal kemerdekaan, tengah mengalami krisis yang sangat memprihatinkan. Hal tersebut terjadi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah harga barang yang melambung tinggi, inflasi semakin parah, mata uang Jepang yang beredar luas di Indonesia. Sementara pemerintah tidak bisa menghentikannya. Dari sini, pemerintah memberikan dua kebijakan, yakni memberlakukan mata uang Jepang dan hindia Belanda atau dikenal sebagai de Javasche Belanda.

Tetapi sayang, pemberlakuan mata uang hindia belanda tersebut, belum benar-benar menjadi solusi yang baik dikala itu. Mengingat masalah-masalah yang baru, muncul kembali dan menjadi penghambat ekonomi Indonesia.

Diantara masalah-masalah tersebut adalah pemblokadean laut yang dilakukan oleh Belanda. Sehingga Indonesia sulit mendapatkan barang-barang yang hanya bisa didapatkan dari luar negeri, begitu juga barang-barang Indonesia sulit diekspor ke luar negeri. Kemudian masalah peredaran uang Belanda yakni NICA yang sulit untuk dikendalikan Indonesia.

Solusi-solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut lalu hadir dengan penuh harapan. Seperti diadakannya obligasi atau peminjaman uang yang dilakukan pemerintah kepada masyarakatnya dan pemberlakuan Oeang Rakyat Indonesia untuk menggantikan mata uang Jepang. Kemudian menyusul dengan pengusulan sebuah kebijakan membangun Bank milik negara Indonesia.

Setelah sekian banyak perjuangan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Akhirnya de Javasche Bank berhasil diambil alih oleh Indonesia yang otomatis namanya diganti dengan Bank Indonesia dan langsung di ketuai Syarifudin Prawiranegara pada bulan Juli 1951.

Sistem Ekonomi Benteng.

Bank Indonesia tersebut lahir untuk memperbaiki tatanan ekonomi Indonesia pada masa itu dengan berbagai macam cara. Seperti dengan cara mengadakan sistem ekonomi benteng yang diperkenalkan Dr Sumirto Djojohanikusumo.

Ekonomi benteng tersebut lahir untuk mencipatakan dan membina pengusaha-pengusaha pribumi yang mampu bersaing dengan kalangan asing. Tetapi sayang, karena sikap pribumi tersebut yang sebagian besar ingin memperoleh hasil dengan cepat dan tidak sanggup bersaing dengan kalangan asing, maka tujuan dari sistem ekonomi benteng tersebut gagal.

Sistem Ekonomi Ali Baba.

Ekonomi Ali Baba ini dilaksanakan pada masa kabinet Sastroamijoyo. Orang pertama yang memprakarasai sistem ekonomi tersebut adalah Mr Isqaq Tjokroadisurjo.

Nama Ali tersebut diambil sesuai dengan tujuannya yakni agar pengusaha pribumi mampu bersaing seperti layaknya Ali dengan pengusaha non pribumi yang digambarkan oleh baba sebagai golongan etnis Tionghoa. Tetapi lagi-lagi, sistem ini mengalami kegagalan yang tidak berbeda jauh dengan sistem ekonomi sebelumnya. Bedanya, pada saat sistem ekonomi Ali Baba ini diberlakukan, pengusaha asing terlibat dalam indikator kegagalannya. Bisa dilihat ketika pengusaha pribumi didapati menjadi alat pengusaha asing untuk memperoleh kredit uang dari Bank Indonesia.

Sumber : Marlupi. 2000. ai???Sejarahai???. Bandung : Lubuk Agung.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.