Sejarah tentang Pentingnya Nilai dan Etika| Teori Nilai Part – 4

Sejarah tentang Pentingnya Nilai dan Etika| Teori Nilai Part - 4
0 474

Nilai dan Etika. Secara historis, pentingnya nilai dalam pengetahuan sebenarya telah ada sejak jaman Yunani Kuna. Hal ini diawali Socrates dan muridnya Plato yang menyatakan, “Summum Bonum” (kebaikan tertinggi). Peryataan ini mengisyaratkan bahwa nilai itu ada dan keberadaannya tersusun di balik yang fisik. Pemikiran Plato ini dianggap error oleh muridnya, Aristoteles. Ia, menyebut menyebut gurunya memiliki logical error. Sebab baginya nilai inheren dengan aspek fisik. Ia tidak berada di luar dari suatu subtansi.

Tetapi pemikiran tentang pentingnya nilai dalam berbagai bangunan keilmuan dan perilaku hidup keseharian, di zaman sesudahnya, dibangun kembali Thomas Aquinus. Pemikiran Plato yang menganggap pentingnya nilai tertinggi sebagai penyebab final (causa prima) dalam berbagai segi kehidupan termasuk bingkai keilmuan, bahkan terkesan menjadi ajaran yang praktis. Nilai tertinggi itu disebut Aquinus sebagai wujud diri Tuhan yang menjadi kebenaran kehidupan, keabadian dan kebaikan tertinggi.

Di abad pertengahan, pentingnya nilai kembali dimapankan Spinozoa. Ia berpendapat sama, bahwa nilai mendasarkan diii pada aspek metafisik. Berbagai nilai diselidiki secara terpisah dari ilmu pengetahuan. Immanuel Kant (tokoh pen ting nufklnrung) telah mampu memperlihatkan hubungan antara pengetahuan dengan moral, estetika dan religinsitas. Tetapi perdebatan tentang penting-tidaknya nilai dalam bingkai ilmu, tetap saja tidak mencapai titik final.

Ada sekelompok ilmuan yang menganggap bahwa nilai harus diidealisir. Nilai dianggapnya eksis dan dapat mempengaruhi berbagai wacana yang ada dalam konteks kehidupan. Hal ini tentu berbeda dengan mereka yang dianggap nilai itu ideal dan bersifat ide-ide. Ia abstrak dan tidak dapat disentuh pancaindra. Nilai berbeda dengan fakta. Sebab fakta dapat diketahui sedangkan nilai hanya dapat dirasakan (npriori cinosioiml). Karena itu, persoalan nilai tidak terietak pada benar dan salah, tetapi lebih pada soal dikehendaki dan tidak dikehendaki.

Ciri dan Letak Nilai

Di mana dan dalam bentuk apa nilai etik harus diterapkan. Nilai memiliki ciri dan karakter khusus. Setidaknya dalam catatan Filsafat Ilmu, nilai memiliki tiga ciri. Ketiga ciri itu adalah:

Objek dan Subjek Nilai

Subjek menjadi penentu dalam memberikan penilaian. Baik bumknya sesuatu bergantung pada diri dan dimensi subjek yang memberi penilaian atas suatu objek. Kalau tidak ada subjek, maka tidak ada yang menilai, Tanpa kehadiran manusia sebagai subjek, gunung misalnya mungkin saja meledak. Tetapi untuk menilai apakah dengan ledakan gunung itu dapat merugikan atau tidak? Merugikan atau menguntungkan atas ledakan gunung itu, sangat tergantung terhadap kehadiran subjek yang menilai, yakni manusia.

Pada saat gunung dapat meletus, manusia mtmgkin merasa telah dirugikan. Tetapi, ahli pertanian akan menganggap bahwa letusan gunung justru akan menguntungkan manusia setidaknya dalam jangka waktu panjang yang akan datang. Sebab dengan meletusnya gunung dan terhampamya pasir serta debu, kondisi tanah yang telah matt, akan hidup kembali dan mencitrakan tanah sebagai wujud sejatinya.

Peta berpikir semacam ini, juga berlaku dalam rumus salah- benarnya suatu organisasi atau aliran dalam pemahaman keagamaan. Misalnya, soal Ahmadiyah. Benar salahnya pemikiran keagamaan mereka akan sangat tergantung dari sudut pandang penilai (subjek) terhadapnya.

Bagi mereka yang melihat persoalan Ahmadiyah dalam sudut pandang teologi agama, dengan model pendekatan tekstualis, akan sangat mudah menjustifikasi aliran ini sebagai sesat dan menyesatkan karena muncul anggapan bahwa organisasi ini tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul yang final dan akhir. Pintu menuju kemusliman seseorang dalam Islam, diawali dari pernyataan bahwa Allah itu Esa, dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir.

Filsafat dan Budaya

Berbeda dengan kelompok semacam tadi, mereka yang melihat dari sudut pandang sosiologi, filsafat dan budaya mumi, pasti akan memiliki kesimpulan yang berbeda karena sejumlah metodologi dan perangkat aat lainnya berbeda dengan kelompok pertama. Logika yane digunakan juga berbeda. Misalnya mereka menyatakan bahwa Muhammad bukan akhir dari Nabi dengan alasan: Pertama, secara sosiologis, Muhammad turun hampir lima belas abad yang lalu. Pokok persoalan yang dihadapi umat manusia pasti berbeda dan berubah dengan tingkat perubahan yang sangat signifikan.

Persoalannya, mungkinkah tidak ada ruang untuk munculnya Nabi atau Rasul baru dalam kepentingan menjawab persoalan umat yang berkembang di era mutakhir? Atau setidaknya, mungkinkah tidak akan ada orang yang memiliki fungsi kenabian dan kerasulan setelah Muhammad.

Kedua, penyebutan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul yang akhir, tidak lebih hanya merupakan arbiter ulama-ulama salaf yang dibenarkan mayoritas ulama khalaf. Didasarkan atas firman Allah: “Bukanlah Muhammad itu bapak dari anak-anak mereka, tetapi ia juga Rasul dan Nabi yang terakhir”. Ayat ini, difahami kelompok kedua, mengandung isyarat bahwa yang menjadi akhir itu adalah kenabian. Sedangkan fungsi kerasulan masih mungkin terjadi karena tidak spesifik disebut al Qur’an. Aspek lain, secara hermeneutik, kata khatam, dapat pula ditulis khatim.

Ada pergeseran makna dari makna akhir ke makna cincin. Jadi, ada ruang untuk lahirya Rasul atau bahkan nabi lain, setelah kenabian dan kerasulan Muhammad. Muhammad sendiri hanya berposisi sebagai cincinnya para Nabi. Bagi saya sendiri, persoalan Ahmadiyah anggap saja benar secara filosofis, sosiologis dan sekaligus teologis-agamis. Tetapi, seharusnya, dimensi epistemologi keagamaan mereka juga dipenuhi. Misalnya, ketika mereka menganggap telah memiliki nabi selain Muhammad, maka posisi Muhammad anggap saja persis seperti Isa dan nabi-nabi yang lain. Tetapi, bukan berarti Islam tidak memiliki genuitasnya sebagai sistem nilai sebuah agama.

Konflik karena Teori Benar Salah

Konflik benar salahnya Ahmadiyah, saya yakin tidak dapat diselesaikan manusia dengan cara dogmatis seperti selama ini diperagakan kaum agamawan Muslim. Biarlah itu, mahkamah Tuhan yang menentukan. Tetapi, seharusnya piranti keagamaan Ahmadiyah juga dipenuhi. Misalnya, jika benar Mirza Ghulam Ahmad Nabi, kitab suci mereka apa? Jadi kalau mengaku Nabi dan atau mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad, yang dapat meyakinkan bahwa dirinya itu betul atau tidak sebagai pembawa agama adalah kitab suci?

Konsekwensinya, kalau mereka mampu menunjukkan kitab suci ya jangan mengatasnamakan Islam. Dan jika mereka menggunakan kitab suci Islam, ya harusnya mengikuti prinsip agama Islam -yang salah satunya mengakui kerasulan dan kenabian Muhamad yang akhir— Jika itu mampu dilakukan, saya yakin tidak akan ada trust claim. Konflik yang berkepanjangan yang belakangan telah melahirkan huru-hara sosial di antara ormas-ormas Islam sendiri seringkali tidak jelas. Ahmadiyah dengan demikian bukan agama, karena, ia tidak memenuhi persyaratan keagamaan.

Sikap Praktis

Nilai tampil dalam suatu konteks yang sangat praktis, yakni subjek hendak membantu sesuatu. Dalam konteks ini, pendekatan yang semata-mata teoritis, tidak akan ada nilai. Artinya, nilai baru dianggap bermanfaat andaikan nilai itu memberi corak praktis dalam kehidupan. Aliran semacam ini, biasanya sangat praktis sekaligus pragmatis. Utilitas dan kenikmatan duniawi yang pragmatis dan terukur, selalu menjadi acuan utama.

Pandang Subjektif

Nilai menyangkut sifat yang ditambah subjek mengenai sifat- sifat yang dimiliki objek. Nilai tidak dimiliki objek pada dirinya. Konteks nilai yang demikian harus dijelaskan sebab objek yang sarna dapat melahirkan penilaian yang berbeda dari subjek yang berbeda pula. Misalnya, jika ada seorang ibu yang telah memiliki anak tiga, bahkan anaknya sudah hampir remaja, akan dianggap aneh oleh orang jika ia disebut mu tiara karena kecantikannya.

Tetapi, bagi subjek lain yang memiliki kesan indah hidup bersamanya, lama merindukan karena wanita itu telah berpisah dengannya dalam jangka waktu yang panjang sewaktu ia masih gadis atau sejak ibu dimaksud remaja bersama seorang pemuda yang juga remaja, kesan lama tentang kecantikannya tidak mempengaruhi cara pandang kekiniannya untuk menyebut bahwa ibu dimaksud cantik, dan sekaligus menantang untuk disebut sebagai idol-nya, sepanjang masa. Nilai cantik dalam perspektif ini menjadi bergeser dari makna simbolik ke makna kesan-subtantif yang subjektif

Nilai di Antara Intrinsik dan Ekstrinsik

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa nilai terletak di antara persoalan intristik dan ekstrinsik. Nilai intrisik artinya adalah, nilai itu berada di dalam objek itu sendiri. Sedangkan nilai ekstrinsik menyangkut keberadaan nilai yang bergantung pada penghargaan subjek. Persoalan ini dalam perkembangan kemudian akan melahirkan perdebatan di kalangan filosof, yakni an tar a mereka yang menganggap bahwa ilmu bebas nilai (karena ilmu memiliki nilainya sendiri), dan mereka yang menganggap bahwa nilai berdiri di luar ilmu, dan karenanya, ilmu semestinya ditopang oleh nilai.

Menurut saya, nilai adalah persoalan epresiasi. Positif-negatif tergantung pada disposisi subjek serta hubungan antara subjek dengan objek. Perbedaan penghargaan terhadap objek akan sangat tergantung, kepada bajat, naluri, pendidikan, sejarah, ruang, waktu, selera, pengetahuan dan lain-lain. Selain itu, disposisi individu sangat dipengaruhi kebudayaan, agama dan adat istiadat masyarakat.

Di sisi lain, harus juga dijelaskan bahwa melakukan penilaian juga butuh alat. Jika alat kebenaran adalah budi dengan cara kerjanya berfikir, maka konsekwensi pada tuntutan melakukan persesuaian antara pengetahuan dan objeknya yang kemudian menentukan pengetahuan itu benar atau salah. Dengan demikian, benar salahnya sesuatu selalu terletak pada fakta empiris dan hasil olah pikiran objek yang melihat dan menilainya.

Maka, konsekwensinya, alat untuk menilai bukanlah budi, melainkan perasaan atau merasa. Apakah sesuatu dianggap benilai atau tidak, yang memutuskannya adalah perasaan. Akal budi menjadi demikian terabai. Beberapa contoh di atas dapat menjadi lukisan dari kondisi nilai seperti yang saya sebutkan tadi. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...