Take a fresh look at your lifestyle.

Sekolah Negeri Tidak Harus Favorite

3 7

Konten Sponsor

Sekolah Negeri Tidak Harus Favorite, jenjang pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, kembali memulai  pembelajarannya. Mengakhiri masa libur sekolah yang relatif panjang. Setelah rangkaian libur karena mengitari sejumlah even fenomenal kebangsaan, mulai dari libur Ramadhan bersama iedul fitrinya sampai dengan libur akhir semester genap yang secara umum memang selalu panjang. Tulisan ini akan mengulas tentang keyakinan penulis bahwa sekolah negeri tidak harus favorite

Hari dan tanggal ini pula, dalam konteks ke-Indonesiaan, pemerintah untuk pertama kalinya menghimbau orang tua murid yang memiliki keragaman latar belakang profesi,  untuk mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah. Saya sebagai salah seorang guru senior di salah satu SMPN Kota Cirebon, bukan saja dibikin haru, tetapi, sekaligus memandang kondisi ini sebagai tonggak baru, di mana pendidikan, harus ditempatkan sebagai soko utama segala perubahan. Apa yang dilakukan pemerintah, seharusnya memang mendorong semua elemen untuk mengakui bahwa pendidikan adalah kewajiban bersama, khususnya antara orang tua, sekolah dan pemerintah. Antusiasme yang ditujukan orang tua saat mengantar putra-putrinya ke sekolah hari ini, telah menjadi tonggak baru. Semoga hal ini dapat memicu lahirnya suatu peradaban baru yang lebih manusiawi.

Sekolah Negeri Tidak Harus Favorite: Mengganggu

Di tengah segenap keharuan itu, saya melihat ada pemandangan menarik lain tetapi sangat terkesan ambigu kalau bukan mengganggu. Pemandangan itu tampak dengan kasat mata ketika harus menyaksikan jubelan kendaraan roda dua dan empat di satu sekolah, namun, begitu sepinya sekolah lain. Banyak terdapat sekolah yang halaman sekolahnya tetap sepi dan senyap dari pengunjung karena jumlah murid yang daftar dan diterima di sekolah dimaksud juga sepi. Sekolah yang sepi itu, memang hanya diisi puluhan orang saja atau bahkan hanya dengan murid yang dapat dihitung jari

Setelah ditelisik dan dilakukan penelitian ala kadarnya atas fenomena dimaksud, penulis menyimpulkan bahwa, ternyata jomplangnya jumlah antrian karena jumlah murid tentu saja yang berbeda di beberapa sekolah. –meski jarak antara sekolah dimaksud berdekatan–  karena ternyata masih menguatnya asumsi adanya sekolah “favorit” (kemudian berjubel) di satu sisi dan “bukan favorit” (karenanya sepi) di sisi lainnya. Dalam konteks filsafat pendidikan, pemandangan semacam ini, sebenarnya kontradiktif untuk pengembangan pendidikan yang lebih berkeadaban. Apalagi, secara sosiologis, pendidikan dengan label negeri, sejati dan seharusnya selalu memiliki standar yang sama dan tidak boleh berbeda. Fakta ….?

Cermin Buruknya Pendidikan

Inilah cermin buram dan buruknya pemerataan pendidikan. Saya tidak percaya situasi ini hanya terjadi di daerah. Kondisi ini mungkin terjadi di berbeagai daerah –termasuk di megapolitan– yang diakibatkan salah satunya karena tata kelola pemerintah yang selalu abai terhadap standar pendidikan dalam berbagai jenis dan jenjangnya. Meski dalam pengertian lain, situasi ini muncul karena adanya imbas dari trend baru masyarakat modern yang sering lebih suka mengambil asumsi –termasuk dalam soal sekolah favorite– dibandingkan dengan fakta berbeda.

Tetapi entahlah. Yang jelas, sebagai guru, saya merasa “teriris” jika sekolah dijejali murid di satu sisi –tanpa memperhitungkan standar pelayanan yang karena sesaknya jumlah murid– namun di sisi lainnya ada sekolah yang sulit baik dan tak kuasa mengembangkan, karena kekurangan murid. Saya dan mungkin sejumlah guru lain, harus merasa “tak berdaya” ketika kuantitas mengalahkan kualitas, yang salah satu ukurannya terlihat dari banyaknya jumlah murid tanpa mempertimbangkan rasionalitas. Iis, M.Pd