Inspirasi Tanpa Batas

Selain Tuhan Pasti Banyak dan Relatif | Belajar Menjadi Kekasih Allah Part-7

0 1

Konten Sponsor

Selain Tuhan Pasti Banyak dan Relatif. Banyak orang menganggap bahwa, hidup di bumi berada dalam segenap keterbatasan. Sering kemudian muncul suatu sikap buruk sangka kepada Tuhan kita. Padahal yang membuat kita terbatas itu bukan bumi. Apalagi Tuhan. Tetapi ternyata persepsi diri kita sendiri.

Secara filosofi, bumi adalah sipat sekaligus ekspresi Tuhan. Karena dia merupakan sipat dan ekspresi Tuhan, maka, segalanya menjadi tidak terbatas dan berada dalam jumlah yang tidak dapat dihitung menurut ukuran manusia.

Lalu apa yang membuat diri kita merasa terbatas. Ternyata jawabannya adalah sikap pandang, perilaku dan pengalaman kita yang dikonstruks sendiri. Faktornya mungkin karena kita telah memilih jalan yang salah.

Salah satu jalan yang kita pilih itu salah, adalah pandangan kita bahwa apa yang ada di sekitar kita itu tunggal dan terbatas. Padahal secara teologis, yang boleh tunggal dan mutlak itu  hanya Tuhan. Selain Tuhan semuanya pasti banyak dan relatif.

Sebut misalnya sumber ekonomi kebutuhan hidup kita. Kalau kita menganggap bahwa misalnya menjadi PNS, menjadi honorer, menjadi pegawai Pemda dan pegawai lain itu adalah satu-satunya cara memperoleh rezeki, maka, tempat di mana kita bekerja itu, akan menjadi thagut yang menyengsarakan diri kita sendiri.

Mengapa demikian? Karena tempat di mana bekerja itu, pasti banyak [tidak tunggal] dan pasti juga relatif. Teorinya, jika kita memutlakan sesuatu yang seharusnya tidak mutlak, atau menunggalkan sesuatu yang seharusnya tidak tunggal, maka, yang kita mutlakkan dan kita tunggalkan itu, pasti akan menjadi thagut.

Teks Nash tentang Thagut

Allah berjanji kepada mereka yang menjadikan selain Tuhan sebagai pelindung, maka, yang melindungi mereka selain Allah, pasti akan menjerumuskannya menuju jalan penuh kesesatan.

Al Qur’an surat al Baqarah [2]: 257 menyatakan:

Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia Pasti mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) menuju kecahayaan.  Sebaliknya, orang-orang kafir, menjadikan pelindung mereka ialah thagut. Thagut selalu  mengeluarkan manusia dari cahaya menuju ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka pasti kekal dalam kegelapan itu.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al Qur’an al Adzim 1/68 menginterpretasikan ayat di atas dengan menyatakan: “Allah akan selalu memberi jalan dan petunjuk kepada orang yang mengikuti-Nya. Yakni mereka yang mengikuti jalan keselamatan.

Umat yang beriman menurut Ibnu Katsir berdasarkan ayat di atas, pasti akan ke luar dari kegelapan, kekufuran dan keraguan. Ia akan bergerak menuju titik cahaya kebenaran yang jelas atau nyata. Sebaliknya, orang kafir yang menjadikan thagut [syeitan] sebagai pelindung mereka, akan membawanya kepada sikap hidup yang bodoh dan sesat. Thagut akan menyimpangkan manusia dari jalan yang baik dan benar ke arah jalan yang salah dan keliru. Karena itu, wajar jika mereka akan menjadi penghuni neraka secara abadi.

Jadi, kalau kita sedang belajar menjadi kekasih Allah, maka, kita harus belajar memperbanyak sesuatu selain-Nya. Kita harus selalu membuka ruang-ruang baru dalam hidup. Yang selalu membuka ruang baru, pasti dia sedang berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang sedang belajar dicinta Allah. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar