Inspirasi Tanpa Batas

Hari Guru Nasional Mengingatkan Sosok Ayah sebagai Guru Sejati

0 41

Konten Sponsor

Mengenang guru, bagiku adalah mengenang bapakku. Mengenang guru bagiku, adalah mengenang telanan air ludah kering saat kami kecil, karena ingin jajan tidak punya uang. Mengenang guru adalah mengenang bagaimana nasihat bapak kami meluncur dari mulutnya yang suci saat dia menghibur agar kami tidak rekreasi seperti anak remaja lain. Kini, kami yang tumbuh menjadi guru dalam berbagai lapisan, sejatinya adalah warisan maha karya Tuhan untuk kami sekeluarga.

Guru dan Tenaga Kependidikan, menurut bapak kami adalah penuh kemuliaan dan padat Karya. Jadi ketika saya membava tema Harii Guru Nasional 2016, sesungguhnya saya ingat bapak saya sendiri. Itulah kalimat yang selalu meluncur dari mulutnya. Tahun 2017 ini kembali ditetapkan tema peringatan hari guru Nasional tahun 2017, yaitu “Membangkitkan Kesadaran Kolektif Guru Dalam Meningkatkan Disiplin dan Etos Kerja untuk Penguatan Pendidikan Karakter”. Berkarakter. Itulah kalimat bapakku 25 tahun lalu. Dia menyebutnya dengan watak.

Selamat dan suskses bagi semua Guru di seluruh Republik Indonesia. Semua jasa-jasa para guru tak dapat terlupakan. Kami sadar tanpa guru republik ini tidak mungkin bisa membangun. Tanpa guru negeri ini tidak mungkin mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara lain di dunia. Tanpa guru Negeri ini tidak mungkin punya generasi bangsa yang hebat. Tanpa guru generasi bangsa akan mengalami kegelapan. Tanpa guru kesejahteraan dan keadilan tak mungkin bisa diwujudkan.

Karena para gurulah semua itu bisa diwujudkan di negeri tercinta ini. Itulah sekelumit perasaan batin saya disaat mendengar kata hari guru. Hal ini bukan berarti mengesampingkan peran-peran yang lain. Tetapi peran apapun yang kita jalani, jabatan apapun yang kita pegang, perusahaan apapun yang kita jalankan saat ini, tentu kita sadar semua pernah mengalami, diajar dan dididik oleh para guru, baik pada jenjang pendidikan formal maupun non-formal, serta tak lupa peran pendidikan informal yang pernah kita lalui.

Guruku dan Orang Tuaku

Saya teringat dengan cerita almarhum ayahanda kami. Namanya, Muslih Suryana seorang guru MI yang mengabdi selama kurang lebih 36 tahun dengan SK pengangkatan pertama dibayar senilai 315 rupiah per bulan. Nilai rupiah tersebut dipandang remeh oleh sebagian besar masyarakat pada saat itu, terutama dikampung halaman kami.

Karena penghasilan sopir truk sekalipun pada saat itu sebulan menghasilkan kurang lebih 5.000 rupiah. Penghasilan almarhum ayahanda kami harus dicukup-cukupkan untuk menghidupi anak dan isteri. Memang pada saat pengangkatan SK pertama sebagai guru MI, anaknya baru 3 orang, hingga tahun 1980 anaknya menjadi 7 orang laki laki semua, dan dua orang diantaranya meninggal dunia, sehingga tersisa tinggal 5 orang.

Hidup dan mengajar di daerah yang termasuk “terpencil” mengutip bahasa saat ini. Karena kampung kami kurang lebih 45 KM dari pusat kota Tasikmalaya, dan lampu listrik pada saat itu pun belum ada.

Memang rumah kami tidak mengalami kegelapan lantaran PLN belum masuk ke desa kami. Tapi dengan segara karya, usaha, kreatifitas yang produktif, alhamdulillah bapak berhasil membuat pembangkit listrik tenaga air, dengan mengandalkan kincir air dan dinamo lilitan kabel kawat bertegangan 150-350 Volt.

Hasil karya itu akhirnya kami pun bisa menonton televisi hitam putih merek National, dengan acar paling favorit di hari minggu ialah Film si Unyil, dan acara yang paling ditunggu oleh bapak adalah liputan Dunia Dalam Berita yang disiarkan TVRI setiap Pukul 21.00 WIB.

Bapakku dan Usaha Istrinya

Menafkahi anak dan isteri dengan segala keluh kesahnya. Kalau tidak karena ditopang sektor pertanian (sawah) meskipun tidak begitu luas (sebagian warisan orang tua) mungkin keluarga kami sulit untuk bertahan. Walau pada akhirnya dengan mengandalkan gaji guru dan hasil tanaman padi yang kadang “hapa” pada saat itu. Tidak jarang kami mengalami kelaparan. Sebagai tambahan makanan pokok kami pada saat itu ialah “oyek”. Oyek terbuat dari bahan dasar singkong yang dibusukkan dalam air lalu diolah dengan cara ditumbuk dan di pres menggunakan papan kayu atau balok kayu. Setelah itu kemudian disaring agar keluar berbentuk seperti beras, lalu dijemur, dikeringkan, kemudian baru dikukus.

Situasi dan kondisi tersebut lama kami alami, kami semua dituntut ikhlas melaluinya. Semangat kedua orang tua kami yang luar biasa mendorong dan menyemangati semua anak-anaknya agar menempuh pendidikan secara formal, bersekolah, bersekolah dan terus bersekolah hingga tuntas kejenjang yang paling tinggi.

Walau hal itu disadari oleh bapak tidak didukung alias kurang disenangi oleh saudara-saudara kandungnya. Karena pada saat itu dianggap memaksakan menyekolahkan anak dengan situasi ekonomi serba kekurangan. Kami selalu terngiang dengan didikan orang tua kami bahkan menjadi wasiat semasa hidupnya:

“…. Tidak mungkin bapak dan ema ini mewariskan harta dan kekayaan kepada kalian. Kalian tahu, bapak dan ema tidak memiliki banyak harta dan kekayaan, beda dengan nenek kamu dari ibumu. Bapak dan ema hanya bisa mewariskan kalian ilmu. Namun aku yakin, dengan dan karena ilmu yang dimiliki kalian, kelak akan membuat kalian memiliki segalanya dalam hidup”. Itulah wasiat almarhum bapak kami (H. Muslih Suryana) yang meninggalkan kami semua pada Januari tahun 2009 silam setelah menunaikan Ibadah Haji.

Kami Hidup dalam Naungan Ketabahan Keluarga

Alhamdulillah berkat ridho dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, kami dapat menuntaskan pendidikan walau tidak semuanya maksimal. Lima bersaudar kami, satu diantaranya hanya sampai jenjang pendidikan menengah atas pertama, yang pada akhirnya pula harus putus sekolah di kelas 2, karena keinginan anaknya yang ingin mesantren.

Kakak kami (Badar Parid), setelah selesai mesantren, lebih memilih membantu bapak bertani. Barangkali hal yang menggantikan kebanggan bapak kami –walau tampak kecewa di raut wajahnya karena anaknya putus sekolah–  terdapat salah seorang yang memperoleh gelar Profesor Dr. Pada bidang Filsafat Ilmu yaitu Cecep Sumarna.

Dua orang bergelar Magister, satu orang sedang dalam proses magister. Itulah salah satu karya terbesar seorang guru MI di kampung Cikuya, desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, kabupaten Tasikmalaya. Semoga almarhum ditempatkan dalam Surganya Allah SWT., dan atau memperoleh tempat  yang mulia disi-Nya. Amin.

Kehidupan dan kesejahteraan guru saat ini insyaallah jauh lebih baik. Dipelopori oleh Presiden Indonesia ke 3 pengganti bapak Soeharo yaitu Bapak Prof. Dr (Hc) Ir. Ing BJ Habibie yang telah berhasil meningkatkan taraf kesejahteraan para Guru di Republik ini.

Insyaallah dengan semua instrumen kesejahteraan Guru saat ini, tanpa ber-status PNS pun —-program sertifikasi—- rasanya tidak mungkin ada anak Guru yang penuh karya akan mengalami lagi kelaparan. Semoga tidak lagi terjadi. Akhir dari tulisan ini saya ingin teriakkan. “Hiduplah Guru ku, Bangkitlah Murid ku”, mari kita raih kejayaan Negeri ini, taklukkanlah dunia dengan Ilmu.

Mengutip bahasa Nelson mandela ‘Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa anda gunakan untuk mengubah dunia’. Tampaknya, bapak kami yang menjadi guru bagi banyak orang di kampung kami, berhasil membuktikan itu semua.  Wallahualam Bissawab. By. Arip Amin, M.Pd

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar