Take a fresh look at your lifestyle.

Selamat Jalan AM Fatwa Pejuang Kemanusiaan Indonesia

0 40

Selamat Jalan AM Fatwa Pejuang Kemanusiaan Indonesia. Andi Mappetahang  [AM] Fatwa, dalam wikipedia disebut lahir pada 12 Februari 1939 di Bone. Sosok ini bersahaja, meski ia dikenal berasal dari keturunan Kerajaan Bone.  Pria berusia 78 tahun yang dikenal kritis ini, menghembuskan nafas terakhir pada Kamis, 14 Desember 2017 pagi di Rumah Sakit MMC Jakarta.

Banyak pihak tidak yakin, jika aktivis PII dan HMI yang terserang penyakit Kanker hati ini, meninggal dunia. Bagaimana tidak, beberapa saat sebelum nafas terakhirnya berhembus, ia disebut Oesman Sapta masih berkomunikasi dengan baik melalui saluran telepon dengan dirinya.

Di pembicaraannya via telephon dimaksud, ia hanya menitipkan keluarganya. Pamitan mau berobat ke dokter, lalu setelah itu mau minta dirawat di Rumah Sakit.  Tentu, kata Oesman Sapta, saya merasa kehilangan dirinya. Dialah sosok yang memiliki peran besar dalam penentuan dirinya sebagai ketua DPD Republik Indonesia. Tidak ada yang tidak mengenal Fatwa. Ia, dikenal tegas dan lurus, meski memiliki kepribadian yang tulus dan ikhlas. Dialah sejatinya petarung.

Pro Rakyat dan Keadilan Rakyat

Bj. Habibie,  saat datang ke rumah duka, mengungkapkan bahwa dirinya enggan kehilangan sosok seperti AM Fatwa.  “Saya tidak mau berpisah dengan beliau, berpisah dengan pejuang-pejuang bangsa yang hebat.

Pernyataan Habibie ini disampaikannya di rumah duka, Jalan Palem, Kompleks Bappenas, Jakarta. Habibie lebih lanjut menyatakan bahwa Fatwa bersama pejuang lain,  akan selalu hadir dalam dimensi yang lain juga. Mereka ada di antara kita.

Habibie sendiri berpesan dan mengajak banyak pihak untuk melanjutkan perjuangan, sebagaimana mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI tersebut sering dilakukannya.

Fatwa, menurut BJ. Habibie dikenal pro keadilan dan kerakyatan. Fatwa adalah teman seperjuangan. Dia, menurut saya, patut juga disebut sebagai tokoh yang untuk pertama kali tampil memperjuangkan pikiran rakyat, ketika banyak orang justru tertidur lelap. Dia terus memperjuangkan keadilan dan pemerataan ekonomi rakyat.

Ia menjadi ikon perlawanan dan sikap kritis terhadap rezim otoriter Orde Lama dan Orde Baru. Sikap kritis ini, karena itu sudah tertanam sejak dia masih muda. Ia sering mendapat teror dan tindak kekerasan dari aparat intel baik di dua masa rezim otoriter. Itulah yang menyebabkan dia sering ke luar masuk rumah sakit dan sekaligus penjara. Rencananya, Fatwa akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, sore ini. Selamat Jalan Pejuang Kemanusiaan.

Fatwa dalam Tahanan Politik

Palu hakim era Orde Baru memutus AM Fatwa dihukum seumur hidup. Tragedi kemanusiaan Tanjung Priok, 12 September 1984, menyatakan Fatwa bersalah. Ia diduga banyak menghasut atas khutbah-khutbah yang berbau politik. Ia kritis terhadap kebijakan Orde Baru. Setelah berbagai prosesi pengadilan, Fatwa akhirnya divonis 18 tahun, dan menghabiskan waktu dalam kerasnya jeruji besi penjara selama kurang lebih 12 tahun, dan sisanya tahanan luar.

Dia bersama bersama HR Dharsono, berhasil menjadi anak asuh Amnesti Internasional di London. Sebuah lembaga yang banyak mempublikasikan kasus-kasus politiknya ke dunia internasional.

Bahkan dua Anggota Kongres Amerika Serikat, terus menerus mendesak Presiden negeri adidaya itu, George Bush, untuk memberikan perhatian khusus kepada dua tahanan politik Indonesia, yaitu dan AM Fatwa. Dokumen surat kedua anggota kongres tersebut diterima AM Fatwa dari mantan Kapolri yang juga aktivis Petisi 50, Hoegeng. Ketika Dan Quayle, Wapres AS (1989-1993) berkunjung ke Indonesia pada bulan April 1989, tokoh pegiat HAM, HJC Princen dkk langsung menemuinya dan mengingatkan agar lebih memperhatikan nasib dua tahanan politik tersebut.

Wapres Dan Quayle lalu memerintahkan Dubes AS di Jakarta untuk tindak lanjut bentuk perhatian tersebut. Kedutaan AS lantas mengutus Sekretaris Politiknya Mr. Julian Lebourgeois untuk mengunjungi keluarga AM Fatwa di Kramat Pulo Gundul, di pinggir rel kereta dan di samping kali comberan yang hitam.

Fatwa Memaafkan Semuanya

Atas segala penyiksaan yang dialami, ia merupakan satu-satunya warga negara yang pernah menuntut Pangkobkamtib di pengadilan. Tapi setelah terjadi perubahan sistem politik dan rezim pemerintahan melalui gerakan reformasi yang turut dipeloporinya, dengan jiwa besar dan sikap kenegarawanan, ia memaafkan dan menemui tokoh-tokoh yang bertanggung jawab atas penyiksaan dan pemenjaraannya. Lalu, secara manusiawi dan kekeluargaan membina hubungan baik yang berkelanjutan.

Sejak muda AM Fatwa aktif di berbagai organisasi seperti PII, GPII, HMI, dan Muhammadiyah. Ia aktif dari awal terbentuknya Keluarga Besar PII sebagai Penasihat dan kini Dewan Kehormatan. Demikian juga di KAHMI pernah jadi Wakil Ketua di awal terbentuknya, kemudian Dewan Penasihat. Belakangan juga ICMI, terakhir sebagai Dewan Kehormatan

Team Lyceum Indonesia.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar