Take a fresh look at your lifestyle.

Mantra Semar Mesem di Mata Matthew Isaac Cohen

0 54

Konten Sponsor

TARLING,  di mata antropolog Matthew Isaac Cohen ternyata memiliki nilai  yang sangat tinggi. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga pengajaran magis, seperti bagaimana membangun guna-guna untuk kepentingan cinta yang tertolak. Sebagai bagian dari budaya Jawa, wilayah Cirebon tak lepas dari pengaruh tersebut. Di antara pengaruh itu adalah mantra-mantra yang dihasilkan masyarakat tradisional yang memercayai kekuatan kata dalam mantra seperti halnya Mantra Semar Mesem.

Mantra merupakan bagian dari karya sastra masa lalu yang dianggap bertuah oleh kalangan tertentu hingga saat ini. Jenis sastra berupa jawokan yang berkembang di wilayah Cerbon-Dermayu merupakan karya sastra kuna atau klasik. Dalam beberapa hal, sastra dimaksud lekat dengan dimensi sastra dan mistik. Sebagaimana sastra kuna atau klasik, keduanya tidak memiliki latar waktu penulisannya.

Adanya korelasi antara sastra, mistik, dan masyarakat bukanlah sesuatu yang asing pada masyarakat Timur. Sastra sebagai produk kebudayaan manusia, dalam beberapa hal memiliki nilai-nilai transenden. Nilai transenden dimaksud, yakni antara dunia bawah dengan dunia atas, antara mikrokosmos dengan makokosmos, antara jagat cilik dan jagat gede, antara manusia dengan kehidupan sosial dan religiusnya dengan Tuhan yang menciptakannya. Hal ini juga berkaitan dengan sistem berpikir orang Timur yang melatarinya. Sastra lisan berupa suluk dan jawokan banyak berkembang di tengah-tengah masyarakat Cerbon- Dermayu. Sastra dimaksud, menjadi wahana ekspresi dalam mengungkapkan etika, estetika, dan nilai-nilai transenden dalam alam sosial maupun religi yang lebih mendalam.

Cirebon Dalam Pandangan Cohen

Dalam kaitan ini Matheew Isaac Cohen dalam penelitiannya (1999) menyatakan, wilayah Cirebon dari utara-pantai Jawa Barat, bentangan pesisir utara Jawa menggabungkan Kabupaten Indramayu dan Cirebon dan bagian utara dari Kabupaten Majalengka dan Subang, adalah daerah kekayaan seni yang luar biasa. Kekayaan ini mencerminkan pembiasan sejarah panjang daerah ini dari kosmopolitanisme budaya. Cirebon, dengan posisinya yang strategis merupakan tempat pertemuan aliran banyak pengaruh budaya. Daerah budaya ini pada masa lalu di bawah kekuasaan kesultanan Islam yang berpusat di sekitar pelabuhan-Cirebon (dikenal dalam dialek lokal sebagai Cerbon). Daerah ini didirikan pada akhir abad kelima belas oleh seorang pria suci Islam. Menurut legenda, ia adalah anak seorang sayyid dari Mesir dan seorang putri dari dataran tinggi Sunda Jawa Barat  (Cohen, 1999).

Mantra Semar Mesem

Semar dalam pandangan masyarakat Cirebon sebagai sosok yang sakti, Tak alang kepalang senyumnya pun malah dibuat mantra untuk menggunai-gunai lawan jenisnya. Biasanya sasaran guna-guna tersebut adalah perempuan yang dicintai, namun ditolak. Bunyi mantranya sederhana :

Niat isun ngemat ceg si ajiku semar mesem grajag grejeg kluyuè ki semar ireng aji pengasian kang ora ono wong bagus jodo aku, ora bisa turu yèn durung ketemu aku yèn ketemu turu tangeno yen ketemu tange adegno yen ketemu ngadeg lakono urung mlungkung kurun edan lan gendeng yen durung ketemu aku sido atot katut manuk perkutut si jabang bayine kun fayakun saking kersaning gusti Allah.

(Saya berniat mengguna-guna, silakan mantraku semar mesem, jalan halus ki semar ireng mantra pengasihan yang tak ada orang tampan/cantik yang menjadi jodohku, tak bisa tidur jika belum bertemu aku, jika bertemu dalam tidur bangunkan, jika bertemu sedang terjaga suruh dia berdiri, jika bertemu berdiri dia suruh berjalan seperti orang gila dan sinting,  jika belum ketemu aku jadi otot ikut burung perkutut si jabang bayinya, jadilah, karena izin Gusti Allah).

Mantra ini hampir sama bunyinya dengan guna-guna “Jaran Guyang”. Dalam kemat “Jarang Guyang”  pada kisah Baridin dan Ratminah karya H.Abdul Adjib lebih menekankan pada nama perempuan yang diguna-gunainya.

“Niyat isun arep ngguna-ngguna//dudu ngguna-guna jaran wesi//dudu ngguna-guna kebo tatu//dudu ngguna-guna sapi édan//dudu ngguna-guna jin atawa sétan//nanging isun arep ngguna-guna anak menusa//kang aran Ratminah, anak tunggalé bapak Dam//lamun déwéké turu, tangéknang//lamun déwéké tangi, dodoknang//lamun déwéké ndodok, kongkon ngadeg//lamun déwéké ngadeg, kongkon mlaku lan……..mlayu-mlayu//kaya jaran képét///

(Aku berniat mengguna-guna//bukan mengguna-guna kuda besi//bukan pula mengguna-guna kerbau luka//bukan pula mengguna-guna sapi gila//bukan pula mengguna-guna jin atau setan//tetapi aku akan mengguna-guna anak manusia//bernama Ratminah, anak bapak Dam//kalau ia tidur, bangunkan//kalau ia bangun, dudukkan//kalau ia duduk, suruh berdiri//kalau ia berdiri, suruh jalan dan…………….lari-lari//seperti kuda belum mandi//gila……..gila……….gila……….///)

Titik Tolak Kemampun Transedental dan Supranatural

Kekuatan kata dan sugesti menjadi titik tolak kemampun seseorang untuk melakukan tindakan transedental dengan kekuatan supranatural. Karena itu untuk membangun suasana mencekam,  pertunjukkan “Baridin dan Ratminah” atau “Guna-guna Semar Mesem” dimainkan lepas pukul 00.00  WIB hingga pagi hari.

Pertunjukkan drama (tarling) dilakukan  antara pukul 12:00 tengah malam dan 03:00 diawali satu jam acara “bodoran” (guyon khas Cirebon) dilakukan dua atau lebih bodor (komedian).. Bodor ini biasanya memainkan peran sebagai pelayan atau pembantu rumah tangga (memasak, jongos, tukang kebun) dalam drama berikut (ibid,Cohen)..

Menurut Cohen, banyak kekayaan teater Indonesia belum mendapat perhatian yang memadai oleh para sarjana. “Mantra Semar Mesem” memberikan pengenalan ke salah satu genre – tarling, dilakukan terutama di jalur Pantai Utara Jawa Barat. Ini merupakan melodrama musik dengan teks, lirik, dan musik oleh Pepen Effendi. Melodrama ini dirilis oleh perusahaan kaset Prima pada tahun 1994. Hal ini merupakan perkembangan baru dalam sejarah bentuk teater. Operet Pepen Effendi dengan cinta yang dicampakkan dan balas dendam magis hampir sepenuhnya dikemas dan musik secara tenang.***

Oleh: NURDIN M.NOER

Rujukan :

  • Cohen, Matthew Isaac, Asian Theatre Journal 16.2 (1999) 139-193.
  • Noer, Nurdin M, Suluk dan Jawokan (DisporabudJabar, 2015).
  • Pertunjukkan tarling H.Abdul Adjib dan Pepen Effendi.