Home » Filsafat » Seni dalam Ekspresi Perasaan Intuisi

Share This Post

Filsafat

Seni dalam Ekspresi Perasaan Intuisi

Seni dan Perasaan Intuisi

Bernedet to Croce memberi penilaian terhadap seni dengan menyebut sebagai implementasi kejiwaan. Croce mendekati masalah estetika dengan jalan melakukan analisis terhadap kegiatan kejiwaan. Dengan demikian, seni tidak dapat dinilai dari aspek fisiknya, tetapi seni harus dilihat dalam makna substansinya. Misalnya, ada seorang pelukis atau photographer yang menggambarkan deretan gunung-gunung landai di Sukabumi dengan seorang wanita desa yang ayu dan mempesona. Gadis dalam lukisan dimaksud, memakai baju biru tua atau hitam, celana dengan wama krem dan rambutnya terurai indah tersibak angin mamiri pegunungan yang sangat indah.

Seni lukis dan seni gambar dimaksud, tentu saja tidak akan terasa indahnya, tidak dapat dinilai dari aspek fisiknya; entah kanfasnya, biolanya wama atau suaranya. Ia hanya dapat dinilai oleh mereka yang memiliki intuisi dan perasaan kejiwaan menyangkut nilai seni. Jika seni hanya dilihat dalam perspektif yang demikian fisik, maka ia akan kehilangan nilai estetikanya dan bahkan kehilangan maknanya.

Keindahan gunung-gunung yang landai dengan pohon- pohon teh yang hijau serta senyuman seorang gadis yang terbayang seperti bidadari tadi, harus dilihat dalam perspektif kejiwaan. Tangkaplah makna serta keindahan dan periksalah garis-garis serta bentuk yang dilukiskan para pelukisnya. Jika itu yang dilakukan, maka sebuah gambar atau lukisan tadi dapat menggambarkan sesuatu yang memberi kenikmatan hakiki bagi manusia. Dengan demikian, karya seni yang baik adalah hasil sebuah kegiatan yang diproduk melalui perasaan dan harus dinikmati melalui perasaan pula. Unsur rasionalitas menjadi abai dalam persoalan ini.

Seni Mengobyektivikasi Keindahan Rasa Nikmat

Dalam teori ini, keindahan bukan kualitas suatu objek. Ia hanya suatu karakter yang bersangkutan dengan perasaan yang memberi penilaian terhadap objek dimaksud. Dalam kehidupan sehari-hari juga, banyak kenikmatan yang tidak merupakan bagian dari citra kita sebagai manusia dalam bentuk wujud yang fisik.

Misalnya, suatu hari saya bangun di pagi hari. Matahari memancarkan sinarnya dengan terang. Saya rnerasa di pagi tersebut sehat dan secara umum rnerasa ada suatu kenikmatan yang luar biasa. Rupanya, malam dimaksud, saya bermimpi memeluk seseorang perempuan yang saya rindukan karena tidak bertemu dalam waktu yang lama. Seorang perempuan yang menurut ukuran saya cantik dan lama hilang dalam hidup saya sementara saya terus merindukannya.

Rekomendasi untuk anda !!   Prosedur Befikir Ilmiah

Lalu saya berkata, “indah sekali pagi ini”. Indah dalam konteks ini, tidk lebih dari hanya sebuah perasaan. Sekali lagi hanya perasaan yang dimiliki saya. Sebab paginya sendiri sebenamya tidak indah, sebab hari dimaksud sama dengan hari lain sebelumnya. Tetapi saya melalui pagi tersebut dengan perasaan nikmat karena malamnya saya bermimpi indah. Dalam kejadian tadi, saya telah memindahkan perasaan saya menjadi sifat objek yang saya rasakan. Padahal sesungguhnya, keindahan pagi dimaksud tetap merupakan perasaan yang hanya dimiliki saya.

Orang lain yang tidur sekamar atau serumah dengan kita saja, melewati pagi dimaksud belum tentu memiliki rasa nikmat seperti saya merasakannya. Jadi rasa nikmat itu, sebenamya tidak lebih dari objektifikasi rasa nikmat yang saya nikmati. Bukan yang orang lain nikmati.

Keindahan sebagai Tangkapan Akali

Akal akan senantiasa gelisah apabila menyadari bahwa dirinya tidak sempurna. Bukan hanya karena pertimbangan agama, tetapi pengakuan tulus kita sebagai manusia, kita memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluk lain. Salah satu kelebihan itu, adalah karena manusia memiliki akal.

Berdasarkan anggapan tersebut, maka salah satu syarat keindahan ialah harus ada keutuhan dan kesempurnaan yang dikonstruk oleh akal pikiran. Apa yang disebut dengan indahnya sesuatu, sejatinya ternyata bukan keindahan yang mutlak, melainkan keindahan yang dirasionalisasi oleh akal pikiran. Dalam term ini, keindahan baru dianggap baik apabila dapat ditangkap dan mampu menimbulkan kesenangan pada akal.

Selain itu, akal juga mengatur persoalan ketertiban. Suatu objek dapat disebut indah karena objek tersebut memiliki kesempurnaan tertentu yang juga dipunyai akal. Secara alami, akal merasa senang pada sesuatu yang teratur. Karena di dalam sesuatu yang teratur itu ada keindahan. Akal akan kembali menemukan dirinya dalam keteraturan yang dibuatnya. Mengenal dirinya kembali dan berhubungan dengan indranya sendiri yang prosesnya disusun oleh cara kerja akal yang tersusun.

Seni sebagai Ekspresi Pengalaman

Pengalaman bukan hanya sekedar akibat, tetapi juga dapat berarti tanda, serta imbalan yang terjadi akibat adanya suatu keadaan yang saling mempengaruhi antara satu organisasi, suatu individu dengan objek lain berupa alam dan lingkungan yang mengitarinya. Apabila keadaan tersebut lahir secara sempurna, maka penyelidikan terhadap bentuk dari suatu keadaan tersebut menjelma menjadi keadaan yang saling mempengaruhi. Ia menjadi ikut serta dalam suatu keguyuban. Pengalaman akan melahirkan kualitas perasaan yang menimbulkan kepuasan. Itulah mengapa nilai seni sering diterjemahkan sebagai ekspresi pengalaman yang dimiliki manusia.

Rekomendasi untuk anda !!   Sejarah Filsafat Metafisika | Part - 2

Di sisi dan di letak ini saya dapat memberi ilustrasi. Kebetulan sewaktu saya masih menjadi mahasiswa SI, selain belajar di IAIN, saya juga sempat menjadi orang yang kursus dalam dunia akting film. Sejauh yang saya fahami, film pada hakikatnya adalah ekspresi dari pengalaman dan penggalan sejarah dari satu. kejadian yang dipotret dalam dunia sineas.

Film dengan demikian, dapat disebut sebagai ekspresi budaya dan kultur yang berkembang dalam kehidupan manusia, di mana film itu dikonstruk. Kemampuan penulis skenario menyusun naskah yang membumi dengan budaya lokal di mana film itu disusun, kemampuan sutradara memperagakan substansi yang terdalam dari susunan skenario, serta kemampuan aktor dan aktris dalam memerankan peran yang diberikan kepadanya, akan memperkuat dan memperat film dimaksud dengan audiensnya.

Hal ini dapat dibuktikan dengan film-film yang muncul belakangan ini dan menyedot jutaan penonton. Misalnya Sinetron si Doel Anak Sekolahan, film Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi dan terakhir Film Sang Pencerah, telah menjadi indikasi nyata bahwa hebatnya film-film dimaksud, karena mereka mampu mengekspresikan sesuatu yang benar-benar terjadi dalam pengalaman empiris ke dalam dunia seni film yang cenderung imajiner.

Film-film tadi, menjadi pemecah atas massif-nya budaya acuh terhadap film lokal Indonesia yang dianggap tidak bermutu dan cenderung urakan. Film-film tersebut berhasil menyedot puluhan juta pemirsa dari berbagai kalangan, tua dan muda karena kemampuan mengangkat tema-tema empiris ke dalam dunia seni. Di sinilah Filsafat Ilmu mengajarkan bahwa memang seni terbaik, harus mampu menyuguhkan sesuatu yang empiris, faktual dan dapat dibuktikan dalam dunia nyata. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Share This Post

1 Comment

  1. Dengan menanggapi tulisan profesor cecep diatas saya jadi berfikir bahwasannya seni itu bisa diartikan sebagai kemampuan kita untuk menceritakan isi hati untuk menarik diri kita dalam dunia yang nyata serta terdapat kualitas di dalamnya sehingga terbawa dalam kenikmatan intuisi. Saya menilai seni merupakan suatu cipta yang memiliki estetika yang sangat tinggi yang menggambarkan akan kenyataan suatu bentuk dan kita akan terbawa suatu imajinasi yang dalam dan menggambarkan kita menebak kebenaran tersebut kemudian seolah-olah akan bercerita mengenai hal yang dipikirkan tadi melalui seni. Orang yang memiliki jiwa seni yang tinggi dapat dengan arif menaklukan segala faktual yang ada melalui caranya sendiri yang kemudian menghasilkan suatu nilai yang tinggi.
    #khavid khalwani
    #1415104050
    #T.IPS-B/SMT-3

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>