Senja di Perpustakaan | Cerpen Lyceum Indonesia

0 647

Sore itu, aku sedikit tergesa-gesa menuju perpustakaan. Tempat pavorite yang selalu aku kunjungi setiap hari Senin dan Kamis. Sebagai mahasiswa semester akhir, setelah bimbingan  selaluku sempatkan waktu untuk mengunjungi perpustakaan. Rasanya suasana perpus mampu mengobati segala rasa yang ada. Selain itu, aku betah menyambut senja di perpustakaan dan ngabuburit menyambut waktu berbuka saat berpuasa.

Aku masuk sambil melihat jam di tanganku yang menunjukkan pukul 15:50. Perpustakaan itu, terdiri dari dua lantai dengan interior yang lumayan bagus. Membuat semua orang betah berlama-lama di sana. Selain itu, kamar mandi yang wangi dan mushola tertata dengan rapi. Barisan buku dari setiap rak mempercantik suasana di dalamnya. Warna cat yang tepat membuat suasana perpus begitu sejuk. Aku memilih membaca di lantai dua, pojok kanan dekat kaca. Selain ada tempat charger, di sana juga bisa ku lihat hiruk pikuk dunia luar, bisa menikmati senja sembari membaca buku.

Penjaga perpus biasa mengumumkan waktu pulang sekitar pukul 17:30. Setidaknya masih ada waktu kurang dua jam di perpustakaan itu. Seperti biasa, sebelum duduk mataku terbelalak menuju barisan buku-buku yang tersimpan di masing-masing rak. Di sana tersedia beberapa kelompok buku. Ada novel, dongeng, karya ilmiah, Sekripsi, buku sastra, buku sejarah dan lain-lain. Pandanganku tertuju pada barisan buku sastra bersampul merah. Aku mengambil salah satu buku yang berjudul ” Edgar Allan Poe“.

Ku membaca buku tersebut dan duduk di tempat biasa tanpa melihat kanan atau kiri. Aku rasa buku ini cocok untuk referensi tulisanku. Sebuah buku yang bercerita tentang sastrawan Amerika yang bernama Edgar Allan Peo yang puisi-puisinya sedang ku teliti. Edgar merupakan sastrawan Amerika yang hampir separuh hidupnya dihabiskan hanya untuk menulis. Beberapa puisinya telah dibukukan, dinyanyikan bahkan difilmkan. Semua puisi-puisinya diambil dari kisah nyata dan hampir semua ceritanya sad ending.

Saking asyik membaca, tak mendengar suara petugas mengumumkan waktu pulang. Baru sadar setelah kulihat langit berwarna jingga dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 17:40. Di sana hanya tersisa aku dan seorang laki-laki yang sering kulihat membaca buku di dekat tempat biasa aku membaca. Kutaksir umurnya tidak jauh beda denganku. Dia tersenyum dan terlihat sangat santun. Tak lupa ku balas senyumannya dengan anggukan. Kurasa dia bukan penjaga perpus? Tapi heran, kenapa ia masih disana. Tanyaku dalam hati. tak lama langsung menyimpan buku yang kubaca dan langsung ke lantai bawah untuk pulang.

Di jalan menuju pulang, adzan magrib berkumandang. Karena sedang Puasa akhirnya mampir memilih berbuka puasa di salah satu kedai pinggir jalan yang biasa tempat anak-anak kampus mencari makan.  Ku Pesan makanan dan duduk sendiri di barisan paling depan. Samar-samar terlihat laki-laki yang kutemui di perpus tadi sedang makan juga di sana. Sedikit heran, sambil kuhentikan aktifitasku, “kenapa ia sudah ada di kedai ini? Padahalkan aku yang lebih dulu beranjak dari perpus”  dalam hati. Untuk kali ini, tanpa berpikir panjang ku beranikan diri menoleh dan yang duluan menyambutnya dengan senyuman. Dia membalas senyumku dan melanjutkan makan kemudian langsung pulang kerumah.

Hari-hari berlalu begitu cepat, kesibukan dan kegiatan ekstra kampus memakasa menyita waktu yang kuluangkan untuk Hobyku ini. Karena rindu pojok perpus kupaksakan untuk pergi kesana. selanjutnya saat aku datang ke perpus, laki-laki itu sudah berdiri di depan barisan buku sastra. Aku semakin heran dan penasaran. Tapi aku cuek dan mengambil buku yang sebelumnya aku baca. Ya buku Edgar Allan Peo. Saat membaca buku itu, laki-laki tadi duduk di kursi sebelah kananku, tepat di dekat kaca perpustakaan paforitku. Diam-diam aku menatapnya dan kulihat dia sedang membaca buku yang berjudul “The Bell Jar-Sylvia Plath”. “Pasti mahasiswa sastra” gerutu hatiku “Sebab, buku Sylvia Plath sudah tidak asing dikalangan anak sastra” Pikirku. Setelah petugas mengumumkan pulang, aku bergegas membereskan perlengkapan yang sudah aku keluarkan sebelum membaca.

Senja di Perpustakaan | Cerpen Lyceum Indonesia

Setelah selesai dari perpustakaan aku terjaga di depan pintu masuk. “ah.. hujan deras lagi… gimana Pulangnya?“. Sore itu hujan memang sangat deras, lalu kuputuskan menunggu hujan reda di teras perpustakaan saja. Laki-laki yang kutemui di perpus, lagi-lagi ada di depan mataku. “Orang ini lagi ” kataku dalam hati. Lalu dia mendekatiku dan mengajakku mengobrol.

Suka sastra juga?” Tanya dia sambil membaca buku.
Ia, suka banget“. Jawabku, sambil mengalihkan pandanganku terhadapnya.
Kenapa suka sastra?” Dia bertanya lagi, kali ini sambil menutup buku yang ia baca.
“Bagiku, tak perlu alasan untuk menyukai sastra, sastra itu indah.” Jawabku sederhana dan datar.
“hmmm Buku apa yang kamu suka? Aku liat kamu sering baca buku Edgar.” Selidiknya penasaran.
“Ia, aku lagi meneliti puisi-puisi Edgar” jawabku sambil tersenyum.
“Oh, Sylvia Plath suka gak?” Dia banyak bertanya
“Aku suka semua buku sastra.” Jawabku sedikit jutek.

Mungkin karena jawabanku tadi, laki-laki tadi langsung diam. “Maafkan aku, kamu banyak nanya sih,,” sesalku dalam hati. hujan tak mau berhenti juga, kami masih diam dan berdiri di teras. karena rasa bersalahku atas jawaban pertanya tadi ku beranikan minta maaf.

“maaf yahh” cetusku. Dia menoleh dan tersenyum. “iya gak apa-apa, salahku juga kepoin kamu.. maaf juga yahh”. aku mengangguk saja tanpa berani berani melihatnya. Akhirnya kami ngobrol dan seolah tak terjadi apa-apa.

Sore itu, aku dan dia meghabiskan senja dan hujan dengan mengobrol seputar sastra. Dia membahas semua buku yang pernah ia baca tentang sastra. Oh iya, dia namanya Pandu. Kuliah di jurusan sastra inggris dan sebentar lagi akan wisuda. Tidak terasa, kita mengobrol satu jam. Setelah hujan reda, adzan magribpun tiba. Magrib nih… Pulang yukk. ucapnya. iya magrib, tau lagian siapa yang mau nginep disini  jawabku dengan canda. huhhh dasar… Oh iya Makasih yahh udah ngobrol panjang, ternyata kamu asiyik orangnya yah… aku hanya dapat membalasnya dengan senyum tentu saja aku juga senang. Bagiku dia baik dan sopan.

Hari-hari selanjutnya, saat aku ke perpustakaan, dia selalu menungguku di lantai dua dekat kaca, yang  menjadi tempat pavoritku dan kini menjadi tempat pavorite kita.

Dua minggu setelah itu, aku tak mengunjungi perpustakaan. Keadaanku sibuk karena ayahku sakit. Aku harus merawat ayah di rumah. Aku tak tau bagaimana kabar Pandu, masih seringkah ia mengunjungi perpustakaan. Tanyaku dalam hati. Tapi setelah ayahku sembuh, aku kembali dengan kegiatan rutinku. Perpustakaan aku jadikan sebagai hiburan, kala itu. Tiba di perpustakaan, Pandu sedang membaca seperti biasa di tempat biasa pula. Aku menyapanya dan duduk di kursi sebelahnya. Dia bertanya mengapa aku jarang datang ke perpustakaan. Aku menjelaskan semuanya.

Sore itu, langit terlihat sangat cerah. Sinar matahari memantul ke setiap lorong perpustakaan. Warna jingga di langit membuat suasana cerah. Lagi-lagi aku dan Pandu menghabiskan senja bersama di perpustakaan. Kali ini Pandu mengajakku berdiskusi tentang literasi di Indonesia. Seperti namanya, Pandu memang pintar memandu. Aku semakin betah berdiskusi dengannya. Hari semakin sore, setelah selesai berdiskusi aku dan Pandu bergegas untuk pulang. Pandu menawari untuk mengantarku pulang. Awalnya aku menolak, tapi karena sudah cukup petang, aku mengiyakannya.

Sepanjang perjalanan pulang, Pandu menceramahiku. Dia bilang aku harus rajin membaca dan terus belajar menulis. Dia juga bercerita tentang pengalamannya mengirim beberapa tulisan yang bisa dimuat dibeberapa media. Aku tersenyum dan mengangguk. Tak terasa, aku dan Pandu tiba di depan rumah. Sebelum pulang, Pandu mengeluarkan dua buah buku dari tasnya. Dia menulis emailnya di satu buku dan meminta menuliskan emailku di satu buku lainnya. Dia memberiku buku yang bertuliskan emailnya. Dia bilang, akan selalu mengirimkan surat melalui email buatku. Pandu beranjak pergi sebelum aku bertanya kenapa dan untuk apa.

senja-di-perpustakaan-cerpen-lyceum-indonesia

Dua hari setelah itu, aku tak bertemu Pandu. Aku mencarinya, tapi tak ada tanda-tanda Pandu disana. Aku berfikir Pandu mungkin sedang tidak bisa datang ke Perpustakaan. Namun, hari-hari selanjutnya aku tak melihat Pandu datang membaca ke perpustakaan itu. Aku bingung bagaimana menanyakan kabarnya. Aku tak tahu nomer handphone Pandu. Apalagi BBM dan sebagainya. Aku baru ingat Pandu pernah memberiku buku. Aku membuka setiap halaman di buku itu. Ada alamat email Pandu dan sepucuk surat tulisan tangan Pandu.

haiii Arun,,,

Gadis manja yang ceria, makasih telah menjadi teman bacaku… 

satu kebahagiaan bagiku mengenalmu, tadinya ingin kutelusuri lebih jauh,,, agar kita semakin dekat,,, hmmm namun sepertinya waktu tak mengijinkan saat ini. sudah datang ke tempat pavorite kita? maaf aku tak bisa menemanimu lagi… gak usah kepo nanya alasan kenapa aku tak bisa.

oh iya,,, kamu gak boleh ngerasa sendiri di tempat itu, tetap ada aku di sana,. Datanglah jika kau rindu aku.. ingat  teruslah membaca yahhh… ku kabari lewat e-mail jadi jangan lupa buka e-mail juga.

salam

Pandu

Di dalam suratnya, Pandu memintaku untuk selalu membuka email darinya. Dia juga meminta aku agar tetap berkunjung ke perpustakaan yang biasa aku dan dia kunjungi. Dia menceritakan saat pertama dia melihatku. Dia juga memintaku agar aku menunggunya di perpustakaan. Di dalam suratnya, dia tak bercerita di mana dan kemana ia pergi. Aku melongo saat membaca suratnya. Membayangkan hari yang telah kulalui bersama Pandu. Membayangkan betapa Pandu mampu membuatku tertawa juga memahami apa yang tidak aku pahami.

Aku Arun, sejak itu aku selalu merindukan Pandu. Berharap Pandu segera datang kembali ke kota ini. Menghabiskan senja bersama di perpustakaan. Sekarang, aku dan Pandu bahkan berbeda Negara. Dia melanjutkan studinya ke Harvard University sedangkan aku masih di sini. Hanya Surat yang mampu mengobati rinduku terhadap Pandu. Sekarang, yang kulihat hanya barisan buku di rak perpustakaan, tanpa Pandu yang selalu memencet hidung pesekku dengan gem as. Meskipun dia sering mengirim Surat, tapi aku rindu dengan kehadirannya. Dia selalu mengirimiku email setiap senin dan kamis sore. Sekarang aku benar-benar bersama senja di perpustakaan tercinta itu. Hingga sekarang, aku betah menunggu Pandu dan senja di perpustakaan. Hingga Pandu benar-benar datang menemuiku saat hari mulai senja.

Karya : Ade Puadah

Komentar
Memuat...