Inspirasi Tanpa Batas

Senja di Persimpangan | Aku dan Buku Usangku Part- 2

0 27

Konten Sponsor

Memori 25 maret 2012 – “Musim sepertinya mulai mau berubah. Pohon mahoni sudah ikhlas di tinggal daunnya. Sawah mulai kehausan dengan pengairannya. Burung Bangau terlihat sibuk hizrah meningalkan tandus mencari wilayah benih. Benih dimana terdapat kesuburan dengan syurga tanaman dan sumber airnya.

Dan pikirankupun berubah terbentur dengan mimpinya. Ternyata mimpi itu mudah di fikirkan, terbayang walaupun sekelebat tetapi susah mencari titik awalnya, atau  mimpi itu hanyalah mimpi? tidak nyata?. Hm.. memang keinginanku jadi seorang pembisnis itu kuat, aku ingin  jadi orang kaya supaya aku bisa memberi orang yang kesusahan. Jadi seorang penulispun, aku juga mau.

Tapi aku belum tahu seperti apa tulisan yang baik benar itu dan apa keuntungannya bagi ku, bila hanya sebatas menulis biasa aku bisa, menjadi kuli atau petani aku juga mau tapi rasanya lebih banyak beban yang harus ku pikul, hem.. miris memang mimpiku, darimana aku harus memulai nya.. Haruskah aku juga hijrah seperti burung itu..?” Tulisanku saat itu.

Hanya ada dua pilihan antara harus berjalan atau hanya tetap diam. Sore yang redup, sunyi seperti akan datang gelap surau tetaplah surau, burung mulai hilir mudik kembali pada sarangnya, kicauannya pun tak senyaring kala pagi. Aku tak langsung pulang sambil menunggu pak hasyim datang akupun bergegas mengambil air wudhu. Memang sudah menjadi kebiasaan 20 menit sebelum adzan magrib tiba aku sering bercerita akan mimpi-mimpi ku bersama pak hasyim setelah kakek pergi untuk selamanya, sambil belajar ilmu agama aku pun bertanya ilmu cakrawala, walau tak banyak yang aku dapat.

Pak hasyim adalah pemilik kebun dan sawah di lingkungan Surau itu, awalnya aku hanya sekedar ikut bersandar disuraunya karena tidak begitu jauh dari rumah kakek ku, suasana kebun dan pesawahan yang nyaman dan indah membuat ku senang berkunjung disana. Kakek ku pun kenal betul dengan pak hasyim, selain orangnya ramah dia juga baik hati pada sesama, tidak pelit, dan sombong. kakekku yang pertama kali menyuruhku untuk belajar pada pak hasyim, karena dia (kakekku) tahu kalau pak hasyim pernah sekolah dan menuntut ilmu agama, dan setiap magrib tiba dia suka shalat di suraunya. “Albi coba kamu belajar pada pak hasyim, kakek sudah minta untuk mengajari mu”ujar kakek pada ku kala itu, Semenjak itu aku sering berkunjung ke suraunya tanpa di printah kakek ku.

Sedatangnya pak hasyim di surau aku selalu cium tangannya dan kembali duduk seraya menunggu pak hasyim menghampiriku, sungguh aku bingung kepalang. pada saat itu memang aneh, hari itu rasanya agak berbeda dengan hari-hari biasanya, aku bingung dengan fikiranku  harus memulai cerita darimana.

Pak hasyim memotong lamunanku dengan cerita pendeknya, “tak terasa ya, sudah lama kamu belajar dari ku nak Albi, semoga ilmu mu dapat bermanfaat, ilmuku hanya sebatas pengalamanku yang nanti mungkin nak Albi akan temukan hikmahnya” tuturnya sambil mengusap-ngusap pundakku, iya pak terimaksih telah mau bersabar mengajariku, sahut ku kala itu.

[ Baca Juga : Surau dan kakekku | Aku dan Buku Usangku Part I ]

Saat itupun Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara lewat pertanyaan. Pak bila bumi ini berputar tentu zamanpun terus berkembang ya pak? “Iya nak”  Terus apa maksudnya? Pak hasyim balik bertanya. Saya ingin lebih tahu luasnya cakrawala seperti yang selalu bapak ceritakan. Saya ingin terus belajar, ingin mempunyai pengalaman lebih, tidak hanya mendengarkan cerita bapak saja. Saya ingin berputar maju seperti zaman ini pak, sahut rendah ku padanya.

Pak hasyim sejenak terdiam seperti sudah tahu dan faham maksud dari pertanyaan dan  jawabanku. Lalu dia meminjam pensil dari tangan ku, ini apa nak? Sambil mengacungkan pensilku tanyanya. “Pensil pak” jawab ku. Pensil ini gunanya untuk menulis, membantu ingatan, bisa mencerdaskan karena bacaan dan bermanfaat bagi manusia, tapi ingat pensil juga tajam kadang bisa melukai dan  nyawa bisa melayang, hanya orang yang baik yang tulus yang akan mendapatkan manfaat dari pensil ini, ujar pak hasyim.

Sama halnya dengan mimpimu nak Albi kamu harus bisa menguasainya dengan tenang dengan iklas penuh kesabaran, jangan terburu2 dan harus matang, Sambung pelan pak hasyim pada ku. Akupun terenyuh dengan perkataannya, dan menunduk malu, memang beliau sering mengajariku dengan banyak perumpamaan supernya, dan aku senang bisa belajar terus bersamanya. Adzan Magribpun berkumandang, kami melakukan shalat berjama’ah dan dilanjutkan dengan pengajian.

Selepasnya pengajian aku lanjutkan tulisanku, dengan nada yang tak sama;

“Malam ini gelap tetapi tak segelap harapanku, akan ku terangi kegelapan ini dengan penuh kematangan, biarlah halangan,tantangan,rintangan menjadi bekal tersalurnya mimpiku, maaf untuk kali ini aku tak jadi hizrah seperti burung itu”. Bersambung… ***Kiki AB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar