Senjata itu Bernama “CINTA”, Mencintai Itu Merampas Dunia Yang Dicintai

0 85
Setiap orang khususnya anak muda pasti mengetahui bahkan pernah mrasakan pacaran. Ketika pacaran telah mantap maka tak jarang berlanjut ke pelaminan. Ketika tidak, maka pastilah bertemu dengan pertengkaran yang bermuara pada perpisahan. Setelah itu mencari lagi pasangan, begitulah kiranya. Dalam hal ini penulis sepakat dengan istilah Georg Wilhelm Friedrich Hegel fil0sof idealis kelahiran Jerman yang mengatakan “ semua yang berwujud adalah dalam keadaan berubah, tidak ada wujud yang tetap”. Begitupun dengan pacaran, tidak ada pacaran yang tidak berubah. Semuanya pasti berubah ke arah yang lebih mantap ataupun sebaliknya. Tergantung bagaimana dinamika yang yang dibangunnya.
Dalam urusan pacaran, tentunya pasti mengenal satu unsur yang namanya cinta, tak ada pacaran kalau tidak ada cinta. Inilah (cinta) yang sering menjadi perbincangan kebanyakan orang dan tak pernah berujung pada sebuah kesimpulan. Namun, banyak sekali orang yang kesulitan ketika mendefinisikan cinta, capakah cinta itu hanya bisa dirasakan sehigga begitu sulitnya untuk didefinisikan ?.
Cinta adalah hukuman. Begitulah stigma yang dilontarkan kawan saya, karena menurutnya cinta dapat mengganggu kestabilan pikiran, mental dan perasaan bahkan tak jarang cintapun mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan abnormal.
Para penganut paham eksistensialis menganggap bahwa cinta adalah bentuk penindasan yang halus. Jean Paul Sartre diantaranya, ia memandang bahwa cinta adalah konflik. Maksudnya ketika kita mencintai seseorang (pastinya dengan kemerdekaan kita) maka pada saat itu pula kita berhadapan langsung dengan kemerdekaan orang yang kita cintai. Menurut Sartre cinta juga adalah salah satu bentuk hegemoni. Karena didalamnya terdapat unsur peng-objek-an terhadap orang lain yang dicintai secara pasrah. Jika meminjam istilah Antonio Gramsci “cinta adalah sebuah kegagalan seseorang dalam mempertahankan kemerdekaan dirinya” sebagai subjek.
Dalam perkembangannya cinta akan membentuk satu bangunan claim dengan motif “memiliki”. Aku milik-mu dan kamu milik-ku begitulah kiranya. Yang mana dalam perjalanannya akan merubah manusia dari subjek menjadi objek. Yang kemudian terbendakan dan membentuk sebuah sifat posesif. Bahwa seseorang akan terus brusaha untuk dicintai pasangannya, dan seseorang akan terus berusaha untuk tetap memiliki maupun dimiliki . Yang mana pada hakikatnya ini merupakan suatu bentuk pengekangan kebebasan dan inilah yang penulis maksud sebagai hegemoni dalam cinta.
Menurut Sartre Dalam relasinya, seseorang yang dicintai memberikan “being” dengan kemerdekaannya yang berasal dari diri saya sendiri. Maka dengan cara inilah saya bereksistensi melalui kemerdekaan orang yang saya cintai. Karena untuk memperoleh sebuah kebenaran manusia memerlukan orang lain, dengan bertolak kepada keadaan umum ini, maka manusia berusaha merencankan kehidupannya dengan relasi atas sesamanya.
Berangkat dari keadaan umum tadi Sarte mencoba membuat suatu hukum moral, karena manusia itu saling terikat dan membutuhkan satu sama lain, maka kebebasan individunya harus selalu memperhitungkan kebebasan manusia lainnya.

 Aku dan Kamu Menjadi Kita

Ketika pacaran maka tak jarang orang membangun sebuah relasi dengan bahasa “aku dan kamu menjadi kita”. Sepintas bahasa itu benar, tetapi pada hakikatnya menurut Sartre itu adalah konflik. Relasi seperti itu hanya akan menjerumuskan manusia kedalam lubang hegemoni. Sebab, orang lain membuat saya sebagai objek dan sayapun meng-objek-kan orang lain. Manusia akan menjadi satu kesatuan dengan terminologi “kita” yang objektif . Itu bisa terjadi ketika manusia bergabung dan melawan pihak ke tiga, melawan kedzaliman misalnya. Konsep aku dan kamu menjadi kita menurut Sartre yaitu konflik karena satu sama lain akan saling meng-objek-kan dan saling mengusai.
Tak pelak Sarte pun mengakataan bahwa orang yang mencintai pada hakikatnya berusaha merampas dunia orang yang dicintainya. Ia meng-objek-kan orang lain lalu meminta untuk menyerahkan seluruh dunia dan dirinya secara pasrah. Inilah keterjebakan pada dunia orang lain (orang yang dicintai) atau berada untuk orang lain, kondisi keterjebakan ini adalah kondisi yang sangat memuakan bagi Sartre. Ada dua pilihan dalam menjalani kehidupan bagi manusia. Yaitu menjalani kehidupan secara otentik atau menjalani kehidupan dengan menegasikan kebebasan diri sendiri (bad faith/mauvaise foi). Manusia yang menjalani kehidupan secara otentik ia akan menghargai dirinya sendiri, meyakini kebebasan atas dirinya dan akan memaknai bahwa dirinya tidak pantas bahkan tidak akan berpura-pura. Sedangkan manusia yang menjalani kehidupan secara “bad faith”,”mauvaise foi” itu sebaliknya, artinya ada kuasa lain di luar dirinya dan menegasikan kebebasan dirinya serta akan penuh ke-pura-puraan.
Mari menjadi manusia otentik dalam menjalani cinta
Komentar
Memuat...