Inspirasi Tanpa Batas

Senyum Para Rantau Kabupaten Tasikmalaya

0 1

Konten Sponsor

Senyum Para Rantau Kabupaten Tasikmalaya. Beberapa bulan terakhir, poto bupati Kabupaten Tasikmalaya tersebar. Terpampang di sudut-sudut Jalan di Jawa Barat. Potonya begitu indah dan menawan. Senyum khasnya muncul dengan batik atau jas warna hijau yang selalu menempel. Tentu peci hitam di atas kepalanya selalu tidak pernah terlewat. Ia ingin menampilkan dirinya sebagai santri-Muslim yang taat dan shaleh.

Belakangan, poto-poto itu muncul, bersama istri dan anaknya. Pakaian rapih yang digunakan istri sang Bupati ini, menunjukkan jati diri dan eksistensinya sebagai keluarga Muslim yang sakinah, mawaddah, warahmah. Dia adalah keluarga UU Ruzhanul Ulum. Bupati dua periode yang diusung partai PPP. Partai mayoritas di Kabupaten Tasikmalaya, sejak jaman Orde Baru

Visi yang dibawanya sangat menyentuh. “Gerbang Desa untuk Jawa Barat”. Tentu ini, suatu visi yang jika benar-benar dilaksanakan, akan menarik banyak perhatian. Mengapa? Sebab selama ini, desa tetaplah kumuh. Karena itu, membangun Negeri dengan menempatkan desa sebagai gerbang utama pembangunan, adalah prospek masa depan bangsa. Gerbang pembangunan negara yang dikonstruks dari masyarakat desa, akan membawa kemakmuran bagi bangsa itu sendiri.

Sikap Warga Tasik di Perantauan

Warga masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, yang ada di perantauan Jawa Barat, yang kebanyakan berasal dari desa itu, akhirnya banyak ditanya oleh warga di mana poto-poto UU Ruzhanul Ulum itu muncul. Pertanyaannya seputar, bagaimana Kabupaten Tasikmalaya dibangun Bupati bersangkutan. Apakah betul desa-desa di Kabupaten Tasikmalaya telah menjadi pintu utama kemajuan daerah?

Tentu masyarakat kabupaten Tasikmalaya di rantau itu, banyak yang tersenyum simpul. Bingung menjawab. Ko bingung menjawab, mengapa? Sebab secara nyata, desa-desa yang paling buruk pengelolaannya, justru di Kabupaten Tasikmalaya.

Desa-desa di Kabupaten Tasikmalaya, jangankan melalukan pembuatan dan perbaikan irigasi sawah, penyediaan pasar-pasar desa yang menjadi soko utama ekonomi, pengelolaan pertanian  dan hasil-hasil pertaniannya, perkebunan dan hasil-hasil olahan kayunya. Hanya sekedar jembatan layak lintas mobil Angkutan Desa saja sulit dimiliki. Sialnya lagi, jalan berbau aspal-pun jauh dari harapan.

Karena itu, kebanyakan perantau Kabupaten Tasikmalaya, hanya mampu tersenyum ketika melihat, mendengar dan menyaksikan UU Ruzhanul Ulum nyalon jadi Gubernur. Terlebih ketika ada pertanyaan kepada mereka. Mereka hanya bisa berbisik, apa mungkin ….. ngurus Jawa Barat? Ngurus Kabupaten Tasikmalaya saja, kayaknya masih jauh dari harapan. Harapan sebagaimana UU membuat visinya. Team Lyceum Indonesia.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar