Sepi Yang Memaksa Aku Bahagia

0 60

Pagi ini 30 menit belalu begitu saja, entah mengapa tiba-tiba aku teringat sepenggal kisahku yang sebenarnya sudah kusimpan dalam-dalam. Menyimpannya rapat bukan karena sebuah aib bagiku melainkan dengan disimpanlah kisah itu menjadi baik. Sepenggal kisahku yang menjadikanku seperti saat ini, hidup dalam kebahagiaan dan penuh dengan kompromi.

Usiaku sekarang 37 tahun bersama dua orang anak, hidup di sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang penuh dengan tanaman, sudah kutempati lebih dari 10 tahun. Rumah yang aku idamkan sejak lama. Sesekali orang tuaku mengunjungi untuk sekedar melepas lelah diusianya yang menginjak senja, atau mungkin menipiskan rindu padaku. Bagiku rumah ini surga, aku bisa melihat anak-anakku tumbuh dan berkembang dengan baik, bisa menikmati pekarangan yang hijau, sesekali memetic mangga di musimnya, dan kegiatan lain selayaknya ibu rumah tangga.

Aku sangat menikmati hidup di kota ini, kota yang menjadikanku seperti sekarang ini, kota yang mengajarkanku arti hidup, kota yang telah kuarungi lebih dari 19 tahun, kota yang menjadi saksi sepenggal kisah itu berawal. Ya, sepenggal kisah yang akan tetap abadi di hatiku, bahkan masih ingin kupinta pada-Nya meski di dimensi dan alam yang berbeda, kisah yang menjadi harap dan pijakkanku berdiri sampai saat ini.

Kisah itu berawal dari pertemuan itu, pertemuan cukup singkat yang kulupa tetapi menjadikan awal rasa simpatinya. Pertemuan yang melahirkan pertemuan-pertemuan kami selanjutnya, di hari spesialnya pagi itu, pertemuan pertama kami untuk sebuah proyek tempat kami masing-masing berkerja. Karena pribadiku yang lugu, dia begitu mudah membaca karakterku sedangkan aku yang acuh hanya menganggapnya hal itu sepele dan berlalu begitu saja. Pada saat itu setiap pertemuan dengan lawan jenis adalah sama, tidak ada yang special, bagiku saat itu lelaki sama saja hanya bisa menyakiti. Lelaki itu mengejar kemudian meninggalkan, berjuang kemudian mencampakkan, dan berjanji kemudian mengingkari. Itu pikirku, karena seluruh pengalaman yang telah aku lalui.

Karena proyek inilah kami jadi sering bertemu. Ntah alasan apa Tuhan memberikan perasaan itu, karena sampai saat ini aku masih bertanya hikmah ini semua. Perasaan itu datang padaku begitu saja, setelah kusadari dalam beberapa waktu terakhir ternyata perlakuan dia memang berbeda. Hingga akhirnya pada suatu malam dia mengakui memiliki perasaan lain padaku, perasaan yang membuat otak kanan bekerja lebih optimal, perasaan yang menjadikan hidupnya lebih berhasrat, perasaan yang ternyata tidak bertepuk sebelah tangan, akupun begitu.

Kami tahu keadaan kami masing-masing, usiaku yang baru menginjak dua puluhan masih terbilang sangat muda pikirnya sedangkan dia yang sudah matang  menjadi hal tersendiri yang membuat kami mengalihkan persaan itu pada relasi yang lebih bermanfaat bagi kami. Namun, proses itu tidak selamanya sesuai dengan harapan, pada perjalanannya aku sering kali terperangkap pada perasaan-perasaan dramatis. Ya, perasaan itu, berbalut rindu dan berhias cemburu. Sering kali kami berdiskusi apik tentang kehidupan hingga akhirnya membawa suasana pada cengkrama-cengkrama perasaan, di senja bahkan malam, di terik bahkan hujan kami melewati diskusi-diskusi penuh tawa dan kebahagiaan.

Waktu mengajak lebih dalam memahami satu sama lain, terkadang kami tak bersuara namun seolah saling memahami, terkadang kami tak bertatap tapi seolah saling melihat. Seperti sudah tidak perlu mata untuk saling memandang, tidak perlu lisan untuk saling berbicara, hati dan jiwa kami saling terikat.

Waktu pula yang menyadarkanku bahwa siapa aku sebenarnya. Dimana posisiku sejatinya meski pikiran menolak, hati selalu penuh kejujuran bahwa perasaan ini  hanya akan menjadi “sebatas” perasaan. Langit dan bumi telah menggariskan bahwa jalan kami berbeda, namun perasaan ini tidak berhenti untuk keberbedaan itu, aku tetap menyimpannya meski harus jungkir balik berkompromi melihat dia bersama sejatinya, beratus kali memdengar kebahagiaan dan kesuksesan dia dengan jalannya, dan itu bukan denganku yang meski setiap malam harus menangisi kecemburuan, mengeluhkan harapan pada Tuhan, dan menyadarkan diri dari kegilaan bahwa ini hanya sebatas perasaan meski berbalas. Waktulah yang menggiring kebahagiaanku mejadi lebih sederhana, sesederhana melihat dia bahagia dan membahagiakan orang-orang yang dia sayangi, dan  sekali lagi bukan denganku.

Bukan pada pelukanku dia merebahkan lelah, bukan pada pangkuanku dia tidurkan keluh, bukan tanganku yang menghapus air matanya, bukan padaku dia ikrarkan janji sehidup semati, dan bukan dari rahimku anak-anaknya lahir. Sekali lagi bukan, meski aku pernah merasakan hangatnya, lembutnya, dan manisnya berbalut rindu dengannya.

Berbulan, bertahun, dan perasaan itu tetap terjaga, perjalanan kamipun tetap bersama. Meski dia tetap dengan jalannya dan akupun dengan jalanku. Karena tidak sedikitpun terbesit dihatiku untuk memintanya mengiringiku di jalanku, doaku adalah dia tetap pada jalannya. Bukan jalanku, dia perlahan menarik diri dariku. Kembali pada keutuhan yang semestinya.

Dan waktupun menuntunku pada usia dimana akupun harus bersama, ntah dengan siapa, ntah bagaimana aku harus bersama. Pikirku waktu itu, aku juga pasti bisa meski persaan dengannya telah mengakar kuat. Semakin ku coba, nasihat orang tua telah menjadi menu khusus disetiap waktu, dan ragakupun semakin termakan usia. Hingga pada akhirnya aku memberanikan diri untuk berkata “tidak” pada setiap permintaan yang menuntutku untuk bersama.

Sangat sulit dan ini menyakiti kedua orang tuaku. Pilihan untuk “tidak” ini adalah sesuatu yang tidak lazim dengan berbagai alibi dan alasan pikiranku aku tetap menolak. Hingga akhirnya orang tuaku mulai menerima keputusanku, aku alihakna seluruh perhatianku pada pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang menjadi hobiku. Aku berusaha membunuh setiap rindu dan asa yang tertuju padanya, bersyukur beberapa usahaku sedikit membantuku. Hingga pada usia 30 tahun aku sudah memiliki apa yang patut aku miliki, tercukupi seluruh kebutuhanku dan orang tuaku.

Sepi Yang Memaksa

Pada usia 30 juga aku merasakan keinginan untuk memiliki anak dan merasakan sepi selepas pulang berkerja. Sejujurnya, keinginan itu muncul juga karena aku melihat dia menjemput anaknya di tempat bermain anak-anak binaanku. Bersyukur selain berkerja separuh waktuku aku habiskan bersama anak-anak, aku membuka perpustakaan kecil dan tempat bermain anak. Secara kebetulan anak yang biasa bermain di tempatku mengajak teman sekolahnya dan ternyata temannya itu adalah anaknya. Anak dari orang yang membuatku memilih jalan ini, memilih sendiri. Kejadian itulah yang membuatku semakin bertekad untuk memiliki anak. Namun aku kembali membersihkan niatku, berusaha keinginan memiliki anak itu bukan karena dendam perasaan yang aku miliki padanya.

Tuhanpun mengiyakan harapanku, aku diamanahi Rei dan Prada pada usiaku yang ke-30. Rei adalah anak dari saudara jauh ibuku sedangkan Prada adalah anak temanku yang tanpa harus aku ceritakan mengapa dia berada disisiku saat ini, yang terpenting adalah Rei dan Prada sekarang adalah anakku. Tidak mudah dan penuh dengan cemooh memang, tapi aku merasa butuh untuk melakukan ini, dan aku mampu.

Anaknya lebih sering mengunjungi perpustakaanku, hal ini sedikit membuatku tidak nyaman. Pernah suatu hari, anaknya menunggu jemputan dan menangis karena teman-temannya telah pulang, aku mendekatinya dan menyapanya. Ya Tuhan, aku melihat tatapannya pada mata anak itu, aku melihat keningnya, melihat kebiasaanya pada anak itu. Aku berusaha untuk tetap biasa, menemaninya bermain. Anak itu seperti tidak sungkan, seperti ada ikatan meski baru-baru ini aku bertemu dengannya. Selepas itu anak itupun dijemput, beruntung bukan oleh dia.

Karena waktu juga aku semakin terbiasa. Aku semakin kebal dengan seluruh kompromi, terus meminta pada Tuhan agar hatiku dipenuhi dengan keikhlasan, dengan penerimaan yang tulus, dengan pikiran yang jernih dalam menghadapi perjalanan ini. Namun setelah bertahun-tahun dengan penerimaan ini, mengapa aku teringat lagi. Semoga ini hanya untuk penjagaan agar aku tetap konsisten dengan jalanku, semoga ini segera berlalu. Aku bahagia karena dia bahagia.***Intan Nurazizah Islami

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.