Serangan Umum 1 Maret 1949 Penentu Keberlangsungan RI

Serangan Umum 1 Maret 1949 Penentu Keberlangsungan RI
0 95

Serangan Umum 1 Maret 1949. Kemerdekaan RI, belum genap empat tahun, jantung Kota Republik Indonesia, Jogjakarta, kembali diduduki Belanda. Pendudukan atas Jogjakarta itu, dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda II. Agresi ini, bukan saja telah berhasil memukul mundur para pemimpin Indonesia, tetapi, juga jatuhnya Jogjakarta sebagai Ibu Kota Negara kepada kolonialis terlama di bumi pertiwi ini. Padahal wilayah ini, sebelumnya, dianggap sebagai daerah paling aman di wilayah RI.

Agresi ini dikenal juga dengan sebutan Operasi Gagak (Operatie Kraai/Belanda). Agresi yang terjadi pada 19 Desember 1948, diawali dengan melakukan serangan terhadap Yogyakarta. Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya, ditangkap. Momentum itu pula, yang menyebabkan Jatuhnya ibu kota negara RI ke tangan Belanda.

Tiga hari setelah kejadian itu, para pemimpin Indonesia seperti: Presiden Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Haji Agus Salim, ditangkap. Mereka diterbangkan ke Medan untuk kemudian diasingkan ke Brastagi dan Parapat. Sementara itu, Mohamad Hatta, RS. Soerjadarma, MR. Assaat, dan MR. AG. Pringgodigdo, diturunkan di pelabuhan udara Kampung Dul Pangkalpinang. Terakhir dengan memakai Truk yang berisi tentara Belanda, mereka dibawa ke Bukit Menumbing Mentok.

Sebelum mereka ditangkap, mereka berhasil menyepakati terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia [PDRI] di Sumatra. Atas permintaan Presiden dengan keputusan seluruh pemimpin Negara, PDRI di Bukit Tinggi itu, dipimpin Sjafruddin Prawiranegara. Dia diberi kewenangan untuk membentuk pemerintahan sementara.

TNI Pergi Bergerilya

Sementara itu, Panglima Tentara Nasional Indonesia, di bawah Jenderal Sudirman, menolak tetap berada di Kota. Ia bersama pasukannya, malah malah pergi ke Hutan untuk melakukan Perang Gerilya.

Gerakan Soedirman inilah, yang kemudian berhasil melakukan serangan 1 Maret 1949. Inilah serang militer yang berimbas pada peta politik internasional. Serangan yang dipimpin Soedirman ini, belakangan dikenal dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret.

Soedirman tidak mengenal kata menyerah dan tidak membiarkan keadaan tetap larut. Dengan cara bergerilya, memimpin pasukan TNI, meski dalam kondisi yang sedang sakit parah. Ia bersama pasukannya, melakukan perlawanan terhadap Belanda di Jogjakarta secara terus menerus. Puncaknya, tanggal 1 Maret 1949, TNI yang menyatu dengan rakyat itu, secara besar-besaran melakukan penyerangan terhadap Yogyakarta.

Serangan ini, tentu saja sangat menguntungkan Indonesia yang baru beberapa tahun menyatakan kemerdekaannya. Melalui serangan ini, para pemimpin Indonesia, berhasil mengangkat posisi tawar di mata dunia. Ia bukan saja berhasil mempermalukan Belanda yang mengklaim jatuhnya pemerintahan Indonesia, tetapi, juga secara langsung menyatakan bahwa Indonesia masih ada. Kita tidak tahu, bagaimana jadinya Indonesia, jika serangan 1 Maret itu tidak pernah terjadi. Team Lyceum dari berbagai Sumber

Komentar
Memuat...