Shalat Afirmasi dan Sesungguhnya Shalat

Shalat Afirmasi dan Sesungguhnya Shalat
0 40

Shalat Afirmasi dan Sesungguhnya Shalat, Tulisan saya sebelumnya menyatakan bahwa manusia yang kompetitif akan memiliki keyakinan atas adanya dua realitas (empiris dan meta empiris), yang ujungnya dia mampu disadarkan pada dua kesadaran yakni kesadaran biologis dan kesadaran realitas. Tulisan ini akan menjadi dasar, bagaimana manusia yang memiliki dua kesadaran ini akan bergerak menuju kesadaran baru dalam apa yang saya sebut sebagai kesadaran sosial. Dalam asumsi saya, tidak mungkin ada manusia yang beriman tanpa berakibat pada kesalehan sosial. Mengapa demikian? Sebab kesalehan sosial adalah cermin dari kesalihan pribadi yang dasarnya adalah keyakinan atau imanitas. Jadi tidak mungkin misalnya, ada manusia yang rajin shalat, rajin tahajud, rajin membaca al Qur’an dan rajin mengikuti kegiatan ritual lainnya, tanpa kemampuannya untuk membangun jiwa sosial dalam kehidupan sehari-harinya.

Inilah mungkin mengapa nabi Muhammad menyatakan bahwa tak ada pahala bagi mereka yang biasa mengerjakan tahajud di malam hari, puasa di siang harinya, tetapi, mereka tidak memiliki kepedulian kepada sesama. Dalam lakon lain, Nabi Muhammad justru memberi penghargaan kepada mereka yang secara kasat mata tidak memiliki ketaatan lebih dalam konteks spiritual, tetapi, baginya dijanjikan Tuhan sebagai pemilik Syurga Agung di akhirat, hanya karena ketika akan tidur dia selalu mendoakan umat manusia dan memberi maaf secara verbal kepada siapapun yang telah melukai hatinya di siang hari; baik di sengaja maupun tidak disengaja.

Dalam bentuk apa kesadaran sosial itu terbentuk. Jika saya memperhatikan ayat al Qur’an, khususnya dalam surat al Baqarah [2]: 3, yang saya imani sebagai pedoman hidup manusia beriman di dunia, maka, kitab ini mengajarkan bahwa yang dimaksud dengan kesadaran sosial itu adalah mereka yang mendirikan shalat dan mampu memberikan sebagian dari rezeki yang diberi Allah kepada mereka kepada berhak menerimanya.

Shalat seperti apakah yang disebut dengan mereka yang memiliki kesadaran sosial itu? Menurut saya yang dimaksud dengan shalat dalam pengertian ini, adalah mereka yang menempatkan Tuhan dalam segenap keadaan. Ia mengasumsikan bahwa dalam setiap perbuatan yang dia lakukan, seolah-olah ia melihat Allah. Jika ternyata ia tidak mampu melihat Allah, maka, manusia sejenis ini akan berkeyakinan bahwa Allah pasti melihat dirinya. Lalu shalat yang lima waktu harus ditempatkan di mana?

Shalat lima waktu harus ditempatkan sebagai media pelatihan kita agar dalam segenap waktu yang kita miliki mampu mencerminkan sikap sebagai seorang yang shalat. Shalat dalam pengertian ini adalah shalat afirmasi, bukan shalat yang sesungguhnya. Shalat yang sesungguhnya justru terletak pada waktu-waktu di antara waktu shalat itu. Shalat yang sesungguhnya shalat adalah sikap tawadlu karena Ia sadar yang tidak perlu tawadlu itu hanya Allah. Karena dia bukan Allah, maka, hidupnya akan selalu bersimetri secara kemanusiaan. **Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...