Shalat Arbain di Masjid Nabawi| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 12

Shalat Arbain di Masjid Nabawi| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 12
1 159

Shalat Arbain di Masjid Nabawi – Satu jam sebelum pesawat mendarat di Bandara King of Abdul Aziz, Jeddah, jama’ah diminta melaksanakan shalat subuh. Tentu shalat itu dilaksanakan dalam pesawat. Alasannya, tidak mungkin shalat itu dilaksanakan di darat. Waktunya pasti keburu habis. Dan karena tidak ada waktu yang dapat menyatukan waktu shalat subuh dengan shalat lainnya, maka, lebih baik melaksanakan shalat dalam pesawat.

Dengan sigap, seluruh jama’ah melaksanakan tayamum dengan cara menempelkan kedua tangan ke jok pesawat. Setelah itu, terlihat mengusap muka dan tangan masing-masing. Mereka hampir serempak melaksanakan tayamum dan shalat dimaksud. Shalat dalam pesawat tentu tidak dilakukan dengan cara berjama’ah. Saat shalat subuh dilangsungkan, hampir tidak ada jama’ah yang hilir mudik ke WC. Semua menempel dalam kursinya masing-masing. Terdengar bunyi kalimat Allahu Akbar, sebagai tanda bahwa pelaksanaan shalat sedang dimulai.

Beberapa saat kemudian, seat bell diminta untuk kembali diikatkan masing-masing penumpang. Suara peraduan seat bell seperti terasa bareng dan menyembulkan bunyi yang serempak. Sreeeek ….  Banyak juga jama’ah yang tidak dapat memakaikan sabuk itu dan meminta bantuan dari pramugari atau dari pasangannya masing-masing. Setelah jama’ah diminta membetulkan posisi kursi duduk. Sehingga berada dalam kesiap siagaan untuk mendarat.Lampu pesawat tanda bahwa akan segera mendaratpun, sudah dinyalakan.

Shofi segera membuka penutup jendela pesawat. Ia ingin melihat awan dari dalam pesawat. Setelah ia melihatnya, lalu berbisik, indah sekali. Gulungan awan yang kalau dilihat dari daratan terkesan seperti rata. Rupanya jika dilihat dari sebelah atasnya, ia mirip seperti gunung-gunung yang sangat tinggi. Awan-awan itu, persis seperti posisi bumi. Ia memiliki daratan, lembah dan pegunungan.

Shofi meminta istrinya untuk menengok ke arah bawah. Siti coba kamu lihat pemandangan ini. Lihatlah seperti aku melihatnya. Saksikan dengan seksama bagaimana awan-awan itu menampilkan dirinya. Awan yang dibalut dalam warna putih, hitam dan bahkan kemerahan, seperti telah memadukan aroma seni warna yang sulit tertandingi. Sangat indah dipandang mata.

Dengan riang Siti berkata: “Subhanallah … luar biasa sekali pemandangan ini. Vetra mengingatkan mertuanya untuk lebih mengecilkan suara keduanya. Khawatir menggangu konsentrasi orang lain. Pesawatpun tampak bolak balik, ke kiri dan kenan, menukik, lalu kadang terasa naik lagi. Sayap-sayap penahan terjangan udara dalam pesawatpun sudah dinyalakan. Shofi melihatnya dengan jelas. Sayap itu, persis seperti sayap burung yang akan hingga di dahan pohon. Ini menjadi pertanda hanya tinggal beberapa menit lagi, pesawat akan landas di Bandara Internasional terpadat di dunia itu.

Sujud Syukur di Bandara

Di tengah liukan pesawat itu, tidak sedikit jama’ah yang membaca kalimat-kalimat thayyibah. Banyak yang beristighfar, memuji Allah, atau mensucikan-Nya. Dalam berbagai bacaan itu, tiba-tiba ban pesawat menempel di aspal bandara dengan suara agak keras, preeek. Pesawat kembali turbulon. Dengingan suara jama’ah dalam rangka memuji Tuhan juga semakin terasa keras terdengar. Mereka tanpa dikomanda, sama-sama mengucapkan kata al hamdulillah. Ketika pesawat benar-benar telah berada dalam landasan pacu bandara, jama’ah tampak berseri dan menunjukkan sikap bahagianya. Sebentar lagi pesawat akan berhenti di terminal sebagaimana telah direncanakan sebelumnya.

Beberapa saat setelah pesawat benar-benar berhenti, satu persatu jama’ah ke luar dari pesawat. Masing-masing membawa Hand Carry yang berisi berbagai perbekalan hidup jama’ah di tanah yang disucikan Allah. Tas dengan bobot yang relatif berat itu, dijinjing atau digendong masing-masing jama’ah. Mereka tampak sedikit repot, terlebih tentu Crhonos dan Vetra. Keduanya harus sama-sama mengapit kedua orang tua yang sudah berusia lanjut. Merekapun dituntut membawa tas kedua orang tuanya, yang karena sudah tua dan sakit, tidak mungkin mereka dibebani untuk membawa tasnya masing-masing.

Crhonos dan keluarganya, mengambil posisi paling akhir ketika ke luar dari pesawat. Mereka ingin ke luar dari pesawat dengan suasana yang sangat lengang. Baru setelah 10 menit berlalu, mereka berempat bangun dari tempat duduknya masing-masing. Mereka ke luar dari pesawat secara pelan.

Begitu sampai di Bandara, hampir seluruh jama’ah bersujud syukur. Merunduk seperti pasukan burung dengan jumlah yang sangat banyak. Bergemalah kalimat-kalimat thayyibah. Ungkapan kedatangan hajipun terkumandangkan dengan begitu merdu. Persis seperti peraduan suara burung di tengah hutan dalam jumlah ratusan jenis burung. Meski secara fisik mereka sudah lelah, karena telah melakukan perjalanan tidak kurang dari 50 jam, mereka tetap dapat berdiri tegak. Crhonis memalingkan mukanya ke Vetra, ia mengatakan terima kasih. Kami juga mohon maaf telah membebanimu. Dengan lembut, Vetra mengatakan: “Tidak perlu begitu. Ini adalah kewajibanku”. Kedua meneteskan air mata; entah bahagia atau apa.

Dengan banyaknya jumlah jama’ah yang mendarat di Bandara itu, maka, sering kali terjadi peraduan suara betis atau peraduan suara tas yang didorong dengan trolly Bandara. Bunyi suara yang timbul karena peraduan itu banyak dan komplek. Suaranya menjadi nyaring seperti suara melodi. Melodi yang menandakan kerinduan manusia pada sesuatu yang paling hakiki. Mungkin inilah bagian dari tanda bertemu dengan Tuhan mereka.

Naik Bus Menuju Medinah

Saat semua sudah sampai di terminal, tempat di mana bus sedang menunggu jama’ah, mereka satu persatu masuk ke dalam bus besar. Di setiap jok mobil telah tersedia nasi kotak yang diperuntukkan untuk masing-masing jama’ah. Mobil awalnya melaju pelan, lalu setelah masuk ke dalam jalan yang sangat besar, kecepatan mobil itu, digas dengan sangat kencang. Jalan raya yang menghubungkan Jeddah dengan Medinah, entah berapa meter lebarnya. Yang pasti, jalan dimaksud sangat lengang. Lengang bukan karena tidak ada kendaraan, tetapi, karena jalannya yang sangat besar. Shofi mengomentari jalan itu. Ia berkata:

“Crhonos … jalan ini sangat lebar. Lurus lagi. Apakah ada jalan semacam ini di Indonesia? Dengan tangkas, Crhonos  mengatakan: “Mungkin sebenarnya ada! Tetapi karena jalan di Indonesia jarang yang teratur, maka, yang seharusnya besar itu, tampak sangat kecil.

Hai anakku: “Bagaimana orang Arab ini bisa makan dan melangsungkan kehidupan di tanah yang sangat tandus seperti ini. Masyaallah … saya kira, tandusnya Mekkah tidak seperti ini. Cetus Shofi dengan semangat.

Wach Bapak sudah lupa ya … Dulu, ketika masih muda, bapak kan suka bercerita tentang bagaimana kehebatan Mekkah padahal kondisinya sangat tandus. Mari kita ingat surat Al Mumtahanah [60]: 4 yang artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu yakni Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.  Ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja …

Dalam surat Ibrahim [14]: 37 juga sama. Misalnya Allah menyatakan: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Dan yang paling akurat soal kesuburan Mekkah di tengah segenap kondisi yang tandus ini, adalah do’a Nabi Ibrahim. Hal dapat dilihat dari Alhajj [22]: 27-28) yang artinya: “ Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang telah Allah berikan kepada mereka. Rezeki itu berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.

Jadi Mekkah adalah kota para Nabi pak. Wajarlah mereka hidup makmur. Meski tidak memiliki tanah subur seperti suburnya tanah Indonesia. Iya aku tahu … tetapi, saya kira tidak setandus seperti ini. Jawab Shofi mantap.

Shalat Arbain di Masjid Nabawi

Matahari terbit dengan bundaran yang sangat besar. Ia menampilkan wajahnya, persis di depan kendaraan yang sedang dihuni para jama’ah di mana Crhonos menaikinya. Matahari itu, terlihat dengan jelas warna kemerahan yang sangat kontras. Gulungan awan yang tersibak sinar mentaripun, perlahan menghilang. Crhonos dan keluarganya yang duduk di barisan paling depan, menyaksikan dengan jelas bagaimana matahari menyinari dan menerangi bumi. Matahari itu, tampak sangat dekat dengan bumi.

Tidak terasa, perjalanan itu, sampai juga di Medinah. Bus berhenti, persis ketika Masjid Nabawi mengumandangkan adzan dhuhur. Para jama’ah seperti kesurupan. Mereka berhamburan dan membiarkan tas mereka tetap berada dalam bus. Vetra dan Crhonos celengak celinguk. Keduanya tidak mengerti ada apa. Rupanya, para jama’ah diberitahu, kalau saat itu, adalah waktu pertama kami melaksanakan shalat arbain di Masjid Nabawi. Mereka yang melaksanakan shalat arbain di masjid Nabawi, akan dibebaskan dari neraka dan kemunafikan.

Mendengar kalimat itu, Shofi malah tersenyum. Ia mengatakan bahwa hadits yang menyatakan: “Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh kali shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari siksa api neraka, keselamatan dari siksaan dan bebas dari kemunafikan” itu, lemah Crhonos. Dulu aku sudah baca di pesantren Bahrul Ulum, Tasikmalaya. Aku bertugas mentakhrij hadits dimaksud. Nanti coba kamu baca di hotel. Insyaallah di Medinah kitab itu ada. Kitab itu, disusun syaikh Al-Albany dalam Silsilah Adh-Dhaifah. Dalam keterangan lain, hadits itu dapat disebut munkar.  Hadits dimaksud tidak layak menjadi hujjah. Kata Shofi mengingatkan Crhonos.”

“Hanya memang Nabi yang menyampaikan hadits qawlynya dalam periwayatan yang disampaikan Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan; kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan. Nah hadit ini shahih. Namun karena kita hanya tinggal di sini 8 hari, kita tawakuf saja. Biarkan jangan kamu komentari kata Shofi pelan. Nanti mengganggu keyakinan orang lain.

Meski demikian, Shofi dan Crhonos juga turun dan melaksanakan shalat pertama di Masjid Nabawi. Tetapi, cara yang ditempuh Shofi dan Crhonos sangat pelan. Keduanya tidak ngoyo. Sementara itu, Vetra dan Siti berjalan bergegas, karena tempat shalat bagi wanita terpisah dari tempat shalat laki-laki. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...