Shalat dan Pembentukan Karakter Sosial

0 32

Shalat dan Pembentukan Karakter Sosial
Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Prof. Dr. H Cecep SumarnaImplementasi shalat yang sesungguhnya karena itu, adalah tindakan dan perbuatan sosial. Karena itu mengapa dalam al Qur’an surat al Baqarah [2]: 3 Allah menyandingkan kata mendirikan shalat dengan memberikan sebagian kekayaan yang dianugerahkan-Nya kepada mereka yang membutuhkannya. Di letak ini, ekali lagi tidak ada disparietas antara keshalehan pribadi dengan keshalihan sosial. Tidak mungkin seseorang disebut shaleh secara pribadi, tetepi, misalnya pelit terhadap orang lain, atau tidak peduli terhadap nasib yang menimpa manusia yang lainnya.

Dalam soal ini, saya teringat akan dialog antara Hasan dan Husein –cucu Nabi Muhammad– saat kakanya menegur adiknya, yang melaksanakan shalat cukup lama, padahal diserambi Masjid terdengar ada suara anak kecil menangis keras. Hasan mengatakan: Bahwa shalat yang dilakukan Husein tidak jauh lebih tinggi derajat pahalanya dibandingkan dengan keharusannya untuk menolong anak yang menangis itu.

Dalam sessi lain, jauh sebelum kejadian Hasan dan Husein di atas, Nabi Muhammad pernah menyampaikan bahwa ibadah shalat semalam yang dilakukan seseorang, sehingga membuat kakinya  menjadi bengkak akibat lamanya berdiri, ruku dan bersujud saat melaksanakan shalat tahajud, tidak memiliki relevansi pahala yang baik di mata Allah, ketika orang tersebut membiarkan perut tetangganya kelaparan. Betapa dalam soal ini, Islam begitu konsen memperhatikan nasib manusia lemah dan kurang mampu untuk ditolong manusia lain yang layak disebut memiliki kemampuan.

Pancaran keimanan karena itu, bukan hanya harus diletakkan dalam kedudukannya yang dalam, tetapi, justru harus mampu dipantulkan dalam kehidupan sehari-hari. Iman itu, akan membentuk overt behavior. Jadi agak musykil misalnya, jika covert diri seseorang, termasuk dalam soal keimanan yang tidak mampu dipantulkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam makna lain, bicara soal keimanan, saya melihat dalam perspektif lain bahwa, umat Islam dituntut able dalam menguasai sektor-sektor kehidupan yang lebih fungsional, misalnya dalam penguasaan aset ekonomi. Karena itu, menjadi dapat difahami mengapa Allah menyatakan bahwa manusia yang beriman akan meletakkan Allah sebagai pemimpinnya dan mendorong dirinya ke luar dari dunia gelap menuju dunia yang lebih terang. Dalam perspektif ini, menjadi mukni pada akhirnya harus mampu tercerahkan baik secara pribadi maupun secara sosial.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.