Shalat Hajat di Raudhah | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 13

Shalat Hajat di Raudhah | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 13
0 243

Sehabis melaksanakan shalat dhuhur berjama’ah pertama di Masjid Nabawi, Shofi dan Crhonos duduk di barisan paling belakang. Keduanya berbincang dengan pelan. Mendiskusikan sesuatu tentang bagaimana istri mereka masing-masing yang melaksanakan shalat secara terpisah. Crhonos mengatakan bahwa dirinya telah mengirimkan short message service (SMS) kepada Vetra, bahwa ia tidak akan ke hotel, sampai melaksanakan shalat ashar. Vetra dan Siti juga sama. Keduanya tidak akan pulang, sampai habis waktu ashar.

Keluarga ini, sama-sama ingin meneruskan tinggal di Masjid, sampai waktu ashar tiba. Shofi meminta anaknya untuk membaca al Qur’an. Dengan mata yang semakin sayu, Shofi menatap anaknya dengan tajam. Ia mendengarkan seluruh lantunan ayat suci yang dibacakannya.

Setelah kurang lebih satu jam membaca al Qur’an, di mana Shofi langsung mengingatkan jika ada ayat yang salah dibaca, Crhonos dan Shofi diam. Mereka kemudian menatap ke langit Masjid Nabawi yang kuning keemasan. Semula Crhonos berpikir bahwa yang kuning itu emas. Namun setelah diselidiki, ternyata itu Kuningan. Puslah mereka menatap Masjid.

Shofi sendiri mulai kelihatan agak sedikit fresh. Ia diajak Crhonos untuk mengelilingi interior Masjid. Keduanya bangkit. Shofi dipapah sama Crhonos dengan sangat hati-hati. Decak kagum keluar dari mulut Shofi dan Crhonos. Indah sekali Masjid ini. Masjid yang menunjukkan suatu negeri penuh kedamaian. Semua berhiaskan takhta kerajaan Tuhan yang tak berhingga.

Keduanya kadang berhenti. Tersaksikan oleh keduanya, bagaimana petugas Masjid Nabawi membersihkan Masjid ini, dengan teknologi yang sangat canggih. Shofi dan Crhonos sering mengisi botol aquanya dengan air zam-zam yang tersedia dalam ratusan galon di sekitar mereka. Sekali-kali Shofi membasuhkan mukanya dengan air dimaksud.

Perjalan mereka tidak terasa. Keduanya tiba-tiba menyaksikan bagaimana Jama’ah melingkari sebuah tempat dengan karpet hijau. Ruangan itu sangat terbatas. Semua jama’ah berdesak-desakan masuk dan sangat sedikit yang ke luar. Terlihat oleh keduanya bagaimana askar-askar Masjid mengeraskan suara, agar jama’ah yang sudah lama di dalam tempat itu, segera ke luar.

Beranjak menuju Raudhah

Crhonos bertanya kepada Shafi. Tempat apakah itu? Shofi menjawab, mungkin itu raudhah. Suatu tempat teristimewa yang dimiliki Masjid ini. Itulah tempat di mana banyak ulama Muslim, menganggapnya sebagai tempat (maqam) mustajabah.Maqam Mustajabah itu, adalah tempat di mana jika anda berdo’a, kemungkinan dikabulnya oleh Tuhan sangat tinggi.

Shofi, lantas menyampaikan salah satu hadits yang diriwayatkan At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib. Dalam keterangan dimaksud, Rasulullah telah bersabda: “Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga”. Hadits ini shahih Crhonos. Kedudukannya hasan. Kata Shofi mantap. Dalam periwayatan Muslim dan Ahmad ibnu hanbal, hadits ini ada kata tambahan, yakni: “…. dan mimbarku ini, (kelak) akan berada di atas telagaku.

Itulah tempat yang memiliki kemuliaan khusus. Ia juga mengandung makna keutamaan. Karena itu, banyak di antara para salikin, yang berupaya untuk shalat di tempat ini. Ia seolah sedang duduk di taman yang menampilkan gaya dari taman syurga. Dalam keterangan lain, para ulama bahkan ada yang menyebut bahwa keutamaan shalat di tempat ini, pahalanya 1000 kali lipat dibandingkan dengan shalat di tempat lain.

Bapak mau nggak melaksanakan shalat di tempat itu? Tanya Crhonos mantap. Tentu dan pasti jawab Shofi. Tetapi nanti kita tunggu beberapa saat. Kita berharap, tempat itu bisa sedikit kosong.

Keduanya, kemudian berjalan dengan sangat pelan mendekati raudhah. Badan tinggi besar yang menjaga masuk ke tempat itu, dengan mengacung-ngacungkan cambuk hitam begitu jelas terlihat. Semula Crhonos agak sedikit ketakutan atas situasi itu. Tetapi, dengan begitu pelannya, Shofi dan Crhonos masuk ke dalam “lubang jarum” itu. Aneh memang, karena askar-askar itu, seperti tidak melihat mereka sedang masuk.

Shofi terus dijaga Crhonos. Mereka tidak melaksanakan shalat di barisan tengah, apalagi belakang di maqam ini. Shofi meminta melaksanakan shalat persis didekat mimbar Nabi. Akhirnya, Crhonos dengan cara yang sangat sembunyi-sembunyi, setapak demi setapak, setahap demi setahap, mendekati tempat itu.

Setelah sampai persis di mimbar Nabi, keduanya berhenti. Berdiri dan meminta Shofi untuk memulai shalat. Karena waktu ashar belum tiba, Crhonos bertanya kepada Shofi, shalat sunnah apa yang harus kita lakukan. Shofi kemudian menjawab: “kita shalat sunnah hajat saja”. Keduanya, kemudian mengatakan Allahu Akbar.

Shalat Hajat di Raudhah

Crhonos dan Shofi tampak sangat khusu’ melaksanakan shalat sunnah hajat. Shofi bahkan terkesan sangat melankolis. Sosok laki-laki yang saat masih muda sangat kekar itu, tiba-tiba berderaian air mata. Ia mengingat segenap perjalanan hidupnya. Ia juga membayangkan bagaimana jika pelaksanaan ibadah ini, dilakukan saat dirinya masih relatif muda.

Setelah pelaksanaan shalat selesai. Shofi berdo’a dengan do’a yang sangat lama dan panjang. Ia mengangkat kedua tangannya sambil terus berderaian air mata. Sekali-kali ia berpaling ke sebelah kiri. Ia melambaikan tangan kanannya dan mengucapkan assalamu’alaikum ya rasulullah. Wassalamu alaika min ashdiqaina. Lalu dengan deraian air mata, Shofi berdo’a. Do’a itu dikuping sama Crhonos dengan penuh seksama. Do’a itu berbunyi sebagai berikut:

Ya Allah, hari ini aku datang ke tempat di mana Nabi kebanggan-Mu menyebarkan ajarannya di sini. Ya di sini … Kini aku duduk dan berdiri di tempat makhluk Yang Agung. Di mimbar inilah, saat ini sedang kubayangkan bagaimana beliau (Nabi Muhammad) berdiri menyampaikan wahyu-Mu kepada umatnya.

Ya Allah … dengan menyebut nama-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kasihanilah dan sayangilah kami. Hanya dengan kasih sayang-Mulah, kami dapat memperoleh kemuliaan. Tanpa kasih sayang-Mu, aku tak kan mungkin memperoleh apapun di muka bumi ini.

Ya Allah ya Tuhanku … segala puji milik-Mu. Telah kulumatkan seluruh pujian makhluk kepadaku. Karena aku takut tak ada ruang untuk mendapatkan pujian dari-Mu. Karena itu, aku hanya ingin mendapatkan tempat di maqam-Mu yang terpuji. Ya Allah … aku dan anakku sadar, bahwa segala pujian itu hanya milik-Mu. Diri-Mu bukan hanya mulia dari sisi Dzat-Nya, tetapi juga kebesaran kekuasaan-Mu yang tak mungkin tertandingi apapun.

Ya Allah ya Rabby … keberkahan dan keselamatan tentu selalu kupanjatkan untuk Nabi Besarku Muhammad. Semoga pula keberkahan dan keselamatan itu, berlaku bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya. Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, dan semua kaum kerabatku, saudara-saudaraku dan guru-guruku. Ya Allah, aku tahu, sesungguhnya firman-Mu adalah benar. Karenanya aku beriman atas apapun yang Kau tetapkan melalui kitab-Mu al Qur’an.

Ya Allah perkenankan kami menyampaikan salam tulus kami kepada Nabi-Mu Muhammad. Salam ini, telah kupikul juga dari seluruh sahabat-sahabatku sesama Muslim di kampung halamanku. Kami berharap, seluruh titah perjalanan ini, dapat Kau terima sebagai bentuk rasa syukur kami kepada-Mu.

Terima kasih ya Allah … Kau perkenankan kami, dapat menyaksikan keagungan-Mu di sini. Di maqam Muhammad yang sangat diagungkan. Jagalah kami dari sikap syirik dan riya.

Selesai berdoa’a keduanya bangkit. berjalan ke luar dari ruang itu dan bergerak melewati maqam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar dan Usman Keduanya bershalawat kepada Nabinya, Muhammad. Beberapa detik, keduanya menyaksikan bagaiamana maqam itu, menyematkan aroma ruhani yang sangat tinggi. By. Charly Siera –bersambung …

Komentar
Memuat...