Inspirasi Tanpa Batas

Shofi Menjadi Kenangan| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 30

Shofi Menjadi Kenangan| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 30
0 92

SHOFI Menjadi Kenangan – Shofi tetap terus melarang istrinya, Siti, untuk menceritakan situasi di Mekkah. Ia selalu bilang bahwa hajji adalah ibadah biasa. Tidak perlu didramatisir. Tuhan Yang Tunggal ada di mana-mana. Ia menyatu dengan jiwa dan ruh manusia yang suci. Sucikanlah terus jiwa kita sebagai manusia, agar hakikat Ketuhanan dapat ditemukan. Tuhan tidak mungkin ditemukan kecuali bagi mereka dengan hati yang suci dan bening.

Kepada siapapun yang datang menjenguknya, Shofi selalu mengatakan bahwa sekalipun anda tidak pernah beribadah haji karena tidak mampu, maka, sepanjang kesucian itu dapat dilakukan, maka, Tuhan tetap dapat ditemukan di sini. Ia hanya berdo’a semoga haji-nya mabrur, ditempatkan sebagai bentuk rasa syukur dirinya kepada Tuhan, dan semoga menjadi investasi kebaikan bagi kehidupan keluarga di akhirat kelak. Tentu ia berharap seluruh dosa-dosanya dapat diampuni Tuhan.

Tamu terus berdatangan sampai setelah seminggu Shofi berada di rumahnya. Menjelang hari ketujuh, sakitnya kembali anfal. Kali ini,  tingkat resistensi-nya sangat tinggi. Ia dimasukan ke ICU rumah sakit dan hampir seminggu terdampar didalamnya. Ia kembali normal dan dapat melakukan langkah kaki serta komunikasi verbal yang cukup baik.

Dalam posisi perbaikan, Shofi banyak memberi nasihat-nasihat spiritual yang sangat Islami. Ia meminta seluruh anaknya untuk berkumpul. Ia menyampaikan beberapa pesan yang tampaknya perlu didengar keluarga kecilnya. Nasihat itu adalah sebagai berikut:

“Anak-anakku … pandanganku sudah mengarah “ke depan”. Dan aku tidak mungkin menoleh ke belakang. Meski aku selalu berdo’a agar Tuhan memberiku umur minimal 15 tahun lagi, tetapi, tampaknya, tidak lama lagi aku harus pulang. Aku berharap, kelak suatu hari, kita dapat berkumpul di hawd Muhammad saat berada di Alam Mahsyar dan di Syurga bersama.

Jika suatu hari aku benar-benar pulang, titip istriku. Jagalah dia dengan baik sebagaimana baiknya dia menjaga kalian. Penjagaanya cukup telaten persis seperti apa yang dia lakukan baik saat kalian masih kecil, maupun saat kalian sudah dewasa. Untuk kehidupan pribadinya, dia cukup dengan pensiunku dan beberapa petak sawah dan ladang yang tidak sempat kami jual. Tetapi, peliharalah hatinya dengan baik. Jika kalian mampu menjaganya, maka, tidak ada apapun bagi kalian kecuali syurga.”

Crhonos Sadar Shofi akan Segera Meninggal

Crhonos, anak yang mendampinginya saat keberangkatan haji, tak kuasa menahan air mata. Ia berbeda dengan empat anak lainnya, yang relatif tegar. Entahlah, yang pasti, kelihatannya dia begitu lemah untuk menerima kenyataan betapa sesungguhnya, kesembuhan Shofi ini seperti tidak akan lama. Dalam derai air mata, Shofi kembali berkata:

Anakku … jangan sedih. Kelak suatu hari, kamu juga akan merasakan hal yang sama seperti aku. Aku titip anak Yatim piatu, namanya Ahmad. Cucuku dan ponakan kalian. Didiklah dia dengan baik dan ajari dia dengan segenap kebaikan.

Jagalah tali persaudaraan di antara kalian. Aku dan ibumu tidak pernah mengajari kalian segenap keburukan dan kebencian dalam hidup. Sucikan harta kalian. Bukan hanya melalui zakat, tetapi yang jauh lebih penting dari cara perolehannya. Harta harus selalu halal agar tidak ada darah kotor yang mengalir pada tubuh keturunan kalian. Pulang dan tengoklah kampung kalian. Sebetapapun kalian sibuk. Di sanalah kalian akan mendapatkan energi baru, setiap berhadapan dengan masalah yang dihadapi.

Tentu aku berpesan agar kalian tetap menunggalkan Tuhan. Ikutilah segenap perintah agama sesuai dengan apa yang kalian yakini. Yakinilah bahwa agama adalah jalan menuju Tuhan. Tuhan hanya akan diperoleh melalui cara kita dalam bertindak dan berbuat kebaikan kepada sesama. Baik-baiklah sama istri kalian, sebagaimana aku telah memberi contoh atasnya. Jika kalian membenci atau menyakitinya, sama dengan menyakiti ibumu.

Kalian harus tahu bahwa bekal hidup adalah ilmu. Karena itu, belajarlah terus sekalipun jenjang pendidikanmu sudah berakhir. Namun yang juga tidak boleh kalian lupakan adalah berbuat kebaikan kepada sesama manusia. Karena ilmu jika tidak dibarengi dengan kebaikan, hanya akan membawa dan mendorong dirimu ke lembah kehancuran.

Selesai berwasiat, Shofi memejamkan matanya, lalu dia membaca kalimat-kalimat thayibah. Anak-anaknya sibuk mempersiapkan kepulangan Shofi dari rumah sakit. Ia tampak relatif lebih segar dibandingkan dengan keadaannya di minggu sebelumnya. Beberapa mobil yang terparkir untuk membawanya pulang sudah tersedia. Pulanglah mereka dengan kebahagiaan. Hanya Crhonos yang menangis. Ia memiliki keyakinan bahwa bapaknya akan segera kembali kepada Tuhannya.

Meninggal dengan Kesegenap Kesiapan

Seminggu sudah Shofi kembali berada di rumah. Hari itu, di pagi hari yang masih buta, ia meminta dibelikan minyak rambut. Ia juga meminta anaknya untuk membelikan sillet cukur. Dengan tergegas, Ruslani membeli apapun yang diminta Shofi. Ia tidak menangkap adanya kecurigaan bahwa Shofi sesungguhnya sedang memasuki jam-jam terakhir kehidupannya di dunia. Alam primordial manusia yang prophan akan segera ia tinggalkan.

Suasana itu benar-benar masih pagi. Shofi membereskan kumis dan janggutnya sendiri. Kegiatan itu tidak mau dilakukan siapapun, termasuk anak tertuanya. Ia mengolesi rambutnya dengan minyak wangi ke rambut dan ke tubuhnya. Siti, istrinya seperti biasa memberi makan ikan-ikan di kolam. Yang menemani Shofi berbicara adalah Kyai Adam dan ponakannya kyai Rahmat. Mereka seperti asyik saat itu berbicara.

Dalam suasana yang sedang asyik berbicara, tiba-tiba dia meminta bantuan agar memanggil seluruh keluarganya. Ia meminta istrinya Siti, agar segera menemaninya di kasur. Saat itu juga, berbagai telepon dan Surel melalui Short Message Service mengalir ke anak-anak Shofi yang berada di luar Kota. Mereka langsung pulang. Tentu termasuk Crhonos didalamnya. Ia tanpa lelah membawa seluruh keluarganya untuk kembali ke kampung TURTLE.

Siti dengan tangkas naik dari kolam ke rumahnya yang berada di bukit. Ia segera menemui Shofi yang kelihatannya sangat lemah. Ia meminta istrinya untuk membawanya ke kasur. Ia dibopong Ruslani, Siti, Kyai Adam dan Kyai Rahmat. Ia ditidurkan di kasur abadinya sebagai pasangan suami istri yang dia beli saat mereka menikah.  Ia terus berdzikir dan membaca sesuatu yang tidak dimengerti orang lain.

Berlinanglah air mata Ruslani. Ia sadar kelihatannya, Shofi sedang sakarat al maut. Shofi melihat anak dan istrinya dengan lemah. Ia meminta Ruslani untuk menyambungkan telephon dengan Crhonos. Lalu terjadilah komunikasi di antara keduanya. Shofi berkata:

Anakku .. jagalah ibumu. Aku mohon maaf telah menyusahkanmu. Halalkan dan ikhlashkan semua apa yang kau berikan kepada kami. Sampaikan juga pesan ini kepada istrimu, Vetra. Jika aku meninggal, tolong balutkan pakaian ihram di tubuhku. Balutkan persis seperti aku lagi melaksanakan thawaf atau Sa’i. Kudo’akan semoga kamu selalu bahagia. Crhonos tak menjawab sepatah katapun di telephon itu. … Shofi kembali berkata: “Pulanglah ke sini. Bangunlah rumahmu di dunia untuk anak-anakmu. Besertanya kudo’akan semoga Allah memudahkannya.  Aku yakin kamu bisa.

Allah dalam Hembusan Nafas Terakhir

Crhonos meminta Kholik, supir yang membawa diri dan keluarganya untuk menancap gas. Ia yakin bapaknya, Shofi akan meninggal dunia. Ia mau menyaksikan Shofi, bapak sekaligus gurunya di dunia, pergi. Mobil itupun melaju dengan cepat. Seperjalanan, Crhonos terus menerus menangis tanpa henti.

Di sisi lain, Ruslani, Kyai Adam, Kyai Rahmat dan Siti, tidak tahu harus berbuat apa. Shofi hanya bilang Allah … dan Allah. Kadang-kadang Shofi, meminta istrinya untuk menyampaikan salam dan permohonan maaf kepada seluruh anaknya yang belum sampai ke rumah. Ia juga minta disampaikan permohonan maafnya untuk masyarakat, saudaranya dan handai tolan yang menjadi sahabatnya. Tentu terlebih kepada istrinya sendiri, Siti.

Dengan tersedu, Siti menjawab: “Tentu saja Shofi. Kau sangat baik menjagaku selama hidup di dunia. Justru aku yang minta maaf barangkali dalam 45 tahun perkawinan kita, ada hal-hal yang membuat kamu tidak suka atas apapun yang aku lakukan. Sejujurnya aku sangat bahagia hidup bersamamu. Tak terasa waktu telah mengitari kita dalam durasi yang panjang. Tetapi, aku merasa baru beberapa tahun saja, hidup bersamamu.

Shofi berkata: “Jika aku meninggal, tidak apa-apa kau menikah lagi. Tetapi, jika ada takdir yang membuat diriku dan dirimu masuk ke dalam Syurga kita, dan kita berharap nersatu didalamnya, maka, janganlah kau menikah lagi. Shofi kemudian terus berdzikir. Siti memahami kalimat-kalimat itu biasa. Ia sedikitpun tidak melihat ada kecurigaan berarti. Shofi kemudian menutup mata dan berlinanglah air matanya. Ia berkata Allahu Akbar ….

Mereka berempat tidak tahu kalau ternyata Shofi telah meninggal dunia. Sampai dua menit kemudian tidak ada satu katapun dari mulut Shofi …. Rahmat dan Ruslani menggoyahkan tubuhnya dan ternyata semuanya menjadi ghayah. Mereka berempat serempak mengatakan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un … Rahmat pingsan … Ruslani dan Siti menangis keras. Sementara Adam mengumumkan kematian Shofi di Speaker Masjid Jami kampung.

Selamat Jalan Shofi …. Semoga bidadari Syurga menantimu. Kuyakin hajjimu Mabrur karena usiamu pasca hajji tak mencapai 40 hari. Tak lama kemudian ratusan penduduk datang ke rumah Shofi. Dengan lemah dan derai air mata mereka mengurusi kematian Shofi …

Di jalan Crhonos hanya mengatakan … terima kasih Tuhan. Kau jemput bapakku ke kampungMu dalam kesadarannya sebagai manusia. Terima kasih Kau telah menghadirkannya di muka bumi untuk menjadi orang tua sekaligus guru utamaku. Selamat jalan dan aku akan selalu mengenangmu dengan segenap kebaikan. By. Charli Siera —The End

Komentar
Memuat...