Inspirasi Tanpa Batas

Si Kopet Sang Penakluk | Aku dan Buku Usangku Part-3

0 37

Konten Sponsor

Pagi ini memang enak sekali untuk menikmati kopi hangat, lelah memang setelah semalaman aku begadang, sambil bersantai, aku buka buku usang pemberian kakekku;

Memori 01 Juni, 2014

Kopet nama samaran, nama aslinya Nurmawan, dia orangnya usil, humoris, juga pintar. Pintar berbohong, juga pintar berdialektika, terutama dalam hal menggombal wanita. Banyak cewek-cewek yang suka padanya. Tapi terkadang dia ceroboh dengan kelakuannya, “Lempar batu sembunyi tangan” begitulah dia. Kalau ada masalah orang disekitarnya pasti kena imbasnya, termasuk aku dan kawanku Dzikri. Padahal menurutku mukanya tidak seberapa tampan, hha.. tapi dia memang betul-betul heroik.

Pergaulannya yang tidak memandang sebelah mata orang disekitarnya, membuat dia mudah dikenal di lingkungannya. Cara berkomunikasinya yang unik juga menjadi ciri khas dia bersosial dengan sesama. Aku gak tau sejarahnya kenapa dia bisa dipanggil “Kopet”, tapi yang jelas nama itu aku ketahui setelah perkenalanku waktu di surau bersama pak hasyim.  Terimakasih kau sudah mau berteman dan menambah ceritaku kawan.

Tulisan ini mengingatkanku pada sosok orang gila itu, haha.. Entahlah dimana dia sekarang? Dia memang unik, banyak orang tak suka tapi banyak juga orang yang mencari, bagi ku dia memang benar-benar gila. Bersamanya akupun jadi ikut gila. Hobiku memang tak jauh berbeda dengannya, bila aku suka menulis dia sebaliknya dariku, hobinya suka membaca, “Adik Kakalah”. Dia memang orang terdidik, cerdik, lahir dari keluarga yang berkecukupan, pendidikan yang berkecukupan pula. Tapi hal itu tidak menjadikan jarak baginya dalam berteman. Aku mulai kenal dia semenjak dia pindah dari kota sebrang ke kampungku sekitar dua tahun yang lalu. Kebetulan dia masih saudaranya pak hasyim, dan rumahnya pun berdekatan dengan rumah pak hasyim. Semenjak perpindahannya ke kampungku, semenjak itu pula dia selalu ikut pengajian sore bersamaku disuraunya pak Hasyim. Dari situlah awal pertemananku dengannya.

Dari pertama kenal dekat, aku suka dengan gaya celotehannya yang selalu menghiburku dan kawan sejawatku Dzikri. Memang dia bringas/ usil kalau sudah bicara soal wanita, pernah suatu ketika kopet bercerita, kala itu sekitar jam 10 siang di pinggir sawah dekat surau pak hasyim, aku dan Dzikri berada di bawah dan dia diatas sambil bersender pada sebatang kayu ubi. Aku dan Dzikri selalu menjadi korban pendengar setianya, kita berdua memang orang yang haus akan celotehannya. Tanpa ceritanya seolah hidup seperti nurjana..hha. Memang kopet itu racun, dia selalu meracuniku dan Dzikri dengan kata-katanya yang menggelitik.

“Menaklukkan hati wanita tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. walaupun wanita adalah makhluk yang sangat rumit dan tidak mudah ditebak. Kamu tak usah punya dompet tebal atau wajah yang tampan”. Ujar si Kopet dengan muka sok seriusnya dan gaya bicara seperti detektif.

“Yang pertama harus kamu lakukan, buktikan dengan ketidak jujuran mu”. Karena Interaksi yang tidak dilandasi dengan sikap jujur pada akhirnya akan berujung kekecewaan, dan justru kekecewaan itulah wanita akan mulai suka pada kita, jelasnya.

“Yang ke dua, buat dia seolah-olah wanita paling jelek di kehidupan kita, biar dia tahu bahwa kita adalah orang tampan yang pertama yang mau memilikinya” dan yang terakhir (…..) sambil menghela nafas.. ”terakhir apa pet?” potong Dzikri dengan muka seriusnya… Kamu harus pura-pura punya pacar buaannyak, biar dia percaya kalau kamu bener-bener laku di mata wanita.. cengenges dia sambil menutup mulutnya. “Bwahahahhaa..” Aku sontak tertawa mendengar celotehannya. Memang dari pertama dia bicara aku sudah curiga dengan obrolannya yang ngawur dan dzikri percaya saja pada celotehannya.

Kopet memang orangnya usil, pernah suatu ketika juga ada cewek, dia mengaku bernama Ain dari kampung sebelah yang mengaku pacarnya. Aku dan dzikri diintrogasi habis-habisan, dari mulai sekarang pacaran sama siapa, suka jalan kemana, sampai dia berpesan kalau bertemu dengannya sampaikan salam darinya kata Ain pada kami berdua. Kami memang tahu kalau dia sudah punya gebetan baru, tapi kami gak berani, karena sejelek apapun dia, kopet adalah teman kami. Itulah uniknya si kopet, walau terkadang menjengkelkan tapi kami mau-maunya bela-belain dia.

Kecintaannya pada dunia literasi, terlihat dari cara dia berbicara, tertata rapih walau kadang berbohong, dari satu titik permasalahan ke permasalahan lainnya. Dia juga suka bercerita sejarah pada kami, bagaimana negri ini terbentuk dan berdaulat menjadi sebuah negara. Dari pra sampai zaman modern, dari peran aspek adat, sosial, budaya, dan agama. Dia juga senang bercerita kisah komik yang dia bacanya, cerven, novel, juga berita terupdate. Dan entah kenapa semenjak kenal dengannya, semenjak sering bergaul, semenjak akrab, semenjak itu juga aku suka membaca. Aku teringat perkataan pak Hasyim “ Kita itu tergantung teman di sekitar kita atau pergaulan kita, bila kita bergaul dengan orang baik kita akan di pandang baik, bila bergaul dengan orang jahat kitapun akan di pandang jahat, bila bergaul dengan tukang minyak wangi, kita akan kena jatah wanginyapula”.

Mungkin ini hikmah yang terkandung dari perkataannya, gumamku dalam hati waktu itu Sambil menyuput kopi hangatku. “Ternyata bukan hanya sekedar wanita saja yang dia mampu taklukan, ternyata Akupun telah di taklukan olehnya”.

Sial memang, dia memang lihai, akan ku cari dan ku tunggu kabar kesuksesannya. Bersambung… **Kiki AB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar