Siapa Yang Mengambil Keuntungan di Balik Fenomena Mudik

0 40

Siapa Yang Mengambil Keuntungan di Balik Fenomena Mudik? | Tahukah anda, sebanyak apa dana yang mengalir ke masyarakat akibat datangnya masa mudik?

Direktur Indonesia Develeopement and Developement Studies [IDEAS], Yusuf Wibisono, di Jakarta 20 Juni 2017, menyebut bahwa mudik menghabiskan anggaran sebesar 200 trilyun. Data ini dilansir Dream.co.id tanggal 21 Juni 2017. Jumlah yang sangat pantastis. Jumlah ini cukup untuk membuat seluruh jalan Tol yang membentang dari Ujung Barat sampai Ujung Timur Pula Jawa baik di Jalur Pantura maupun Jalur Pantai Selatan selesai.

Jika asumsi lembaga IDEAS ini benar, maka, inilah beban ekonomi Indonesia. Sebab dana sebanyak itu, belum menghitung Anggaran dan Belanja Negara untuk keperluan perbaikan jalan darat; bandara dan pelabuhan. Dana dimaksud, juga belum menghitung berapa banyak pihak kepolisian harus dikerahkan. Tentara juga sama belum dihitung berapa banyak mereka yang diminta untuk ikut membantu kelancaran arus mudik dan arus balik.

Kalau dihitung untuk keperluan dimaksud, entah berapa trilyun dana tambahan yang harus disediakan pemerintah dalam setiap tahun. Beban lain yang juga harus ditanggung negara adalah, seberapa banyak pemerintah harus menanggung resiko sosial ketika mudik berlangsung atau pasca mudik. Pertanyaan yang menggelitik kita semua adalah, ke mana dan ada di kantong siapakah dana yang dibawa pemudik ke kampung halamannya masing-masing. Inilah yang tampaknya sampai saat ini belum dianalisa dengan pasti.

Dari Terompet dan Kembang Api Sampai Perbaikan Rumah

Dana yang dibawa pemudik ke kampung halamannya itu, yang paling pertama tentu tersimpan di POM Bensin. Entah berapa Ratus juta barrel bensin yang harus disediakan pemerintah guna memenuhi kebutuhan transportasi jalan darat, laut dan udara. Pemilik POM bensin tentu adalah kelas menengah ke atas. Bukan dimiliki oleh mereka yang menjadi pemudik dengan kelas menengah ke bawah.

Kantong kedua yang berhasil menyimpan dana ratusan trilyun itu adalah supermall, hypermarket, mini market dan atau pasar-pasar kecil di tingkat desa dan kota. Para pemudik umumnya adalah konsumeris baru dan kebanyakan menghabiskan uangnya untuk keperluan pakaian baik untuk dirinya, maupun istri dan anak-anaknya. Persoalannya siapakah yang memiliki perusahaan-perusahaan dalam bidang pakaian serta bahan-bahan pakaian.

Hal inipun tentu yang memilikinya adalah para taypan atau minimal kelas menengah ke atas. Merekalah yang berhasil menyimpan bukan hanya sekedar koin pemudik, tetapi, juga lembaran-lembaran uang kertas. Mudik ternyata membawa dampak bagi penguatan kelompok menengah yang sebenarnya sudah mapan.

Bagian kecil dari dana yang berjumlah ratusan trilyun itu, adalah masuk ke pasar-pasar rakyat di desa atau di kecamatan masing-masing pemudik. Dan sedikit sekali yang kemudian diputarkan di masyarakat untuk keperluan THR atau hanya sekedar berbagai keberkahan di kampung halamannya.

Karena itu, wajar jika kemudian, fenomena mudik malah akan memperkuat basis-basis ekonomi kelas menengah ke atas. Kelompok menengah ke bawah, tentu apalagi kebanyakan pemudik, sebenarnya hanya akan selalu menjadi objek bagi penguasa dan pemilik syah kekuatan ekonomi menengah ke atas. Saya kira ini perlu refleksi mendalam. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...