Sifat Tuhan adalah Produk Filosof| Kajian Ulang Metafisika Part ai??i?? 4

0 77

Mencermati nalar-nalar yang digambarkan di bagian lalu, memungkinkan munculnya suatu perenungan akan posisi sifat yang dilekatkan pada Tuhan. Apakah benar Tuhan itu bersifat sebagaimana digambarkan Abu Hasan al As’ari dan Abu Mansyur al Ma’turidi? Atau Tuhan tidak bersifat sebagaimana digambarkan para pendiri dan pendukung Mu’tazilah, seperti digambarkan al Juba’i. Lepas dari soal-soal tadi, bagi saya mereka semua adalah filosof. Meski ciri kefilsafatannya menekankan pada objek kajian ketuhanan.

Persoalan lainnya, apakah sifat Tuhan itu melekat dengan Dzat Allah atau terpisah. Maturidi menganggap bahwa sifat-sifat Allah tidak berbeda dengan dzat Tuhan. Ia tetap Ada dan berdiri pada diri-Nya dan tidak terlepas dari Dzat-Nya. Jika sifat Tuhan terlepas dari Dzat-Nya, maka, akan timbul sifat yang berbilang. Keberbilangan sifat menyebabkan berbilangnya yang qadim, yakni Allah.

Karena itu, menurut Ma’turidi, kalam Allah [Jabur, Tawrat, Injil dan al Qur’an] adalah menyatu dengan dzat Allah.Ai?? Kalam Allah adalah sifat yang menyatu dengan Dzat Allah yang Azali bersama azalinya dzat Allah. Karena itu, dalam perspektifnya, kalam Allah sebagai sifat Allah, tidak tersusun dari huruf-huruf dan kalimat. Mengapa? Sebab setiap huruf dan kalimat, selalu bersipat temporal.Ai??Padahal yang temporal itu aradl tidak dapat berdiri dengan sesuatu yang azali. Karena itu, Maturidi menyebut al quran sebagai sesuatu yang baru meski ia tidak sanggup memberinya sifat sebagai makhluk, sebagaimana Mu’tazilah menyebutnya.

Pendapat semacam ini, tentu saja berbeda dengan pandangan Mu’tazilah, sekaligus sedikit berbeda dengan pandangan Abu Hasan al As’ary. Mu’tazilah dengan keras menyatakan bahwa Tuhan tidak bersipat. Mengapa? Sebab jika Tuhan ditentukan memiliki sifat, bukan saja manusia tidak memiliki kapasitas untuk membatasi sifat Tuhan, juga mengandung makna bahwa Tuhan tidak mungkin terbatasi atau apalagi dibatasi oleh makhluk. Karena itu, menurut mereka al Qur’an adalah Makhluk dan tidak qadim.

Pendapat berbeda juga dilontarkan Abu Hasan al As’ari yang menyebut bahwa Allah bersipat. Sifat yang melekat dengan Dzat-Nya. Dan karena Dzat Allah itu qadim, maka, sifatnya juga qadim. Al Qur’an adalah kalam Allah. Karena ia Kalam Allah, maka, ia berarti sifat Allah. Karena ia Sifat Allah, maka, ia pasti qadim sebagaimana qadimnya Allah.

Perpektif Ontologis

Bagi saya, bukan soal Tuhan bersifat atau tidak! Yang menjadi kajian kita di ruang ini adalah, bahwa perdebatan antara kelompok yang yakin bahwa Tuhan bersifat atau tidak, itu bukan merupakan produk agama. Ia adalah produk berpikir filsafat, yang tingkat kebenarannya relatif. Mengapa disebut relatif? Sebab ia merupakan produk spekulatif-filosofis. Mungkin sedikit banyak diargumentasi landasan-landasan teologis. Landasan dimaksud, sebut misalnya al Qur’an dan al Hadits untuk umat Islam.

Persoalannya, apakah salah jika manusia menemukan atau apalagi hanya mencari kebenaran menurut perspektif akal? Tentu dalam ruang kajian filsafat, hal itu tidaklah salah, meski tidak menjamin benar. Mengapa? Sebab Tuhan telah memberi akal sebagai takdir terbesar kepada manusia. Melalui akal, manusia dapat membedakan antara god value atau bad value. Melalui akal, manusia dapat membedakan mana yang dapat dikerjakan dan mana yang tidak dapat dikerjakan.

Apakah kesimpulan manusia tentang apa yang harus dikerjakan dan tidak harus dikerjakan itu, menurut perspektif Tuhan? Tentu saja tidak selamanya. Yang pasti bahwaAi??yang harus dikerjakan dan tidak harus dikerjakan itu, dalam kepentingan atau hajat hidup manusia menurut manusia.

Inilah yang saya maksud dengan kajian ontologi tentang hakikat hidup dan kemanusiaan. Dari berbagai ilustrasi tadi, maka, kita akan sampai pada suatu kesimpulan bahwa, di balik realitas alam fisik manusia, terdapat sesuatu yang prime of cause bagi seluruh kesemestaan. Dari sini, kemudian muncul, apakah semua yang tampak ini, mengandung nilai manfaatnya bagi kehidupan manusia?

Tentu saja jawabannya, semua ahli filsafat, termasuk ahli agama akan menganggap bahwaAi?? segala hal dapat mengandung nilai baik (good value), nilai buruk (bad value) atau bahkan mengandung keduanya secara sekaligus. Tergantung dari sudut pandang mana akal manusia harus dan dapat meletakkannya. Bersambung –Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.