Signifikansi Dan Urgensi Ibadah Terhadap Kebutuhan Mendasar Manusia

0 119

Signifikansi yang menjadikan ibadah menempati kedudukan ini dalam sejarah risalah-risalah Tuhan adalah bahwa ibadah memenuhi sekumpulan kebutuhan manusia yang mendasar dan sekunder. Signifikansi –ibadah- adalah bahwa ia alasan utama bagi penciptaan dan eksistensi,

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 56).

Semua Umat Dituntut Untuk Beribadah

 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja)” (Qs. An-Nahl [16]: 36).

Rasul Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Qs. Al Anbiya []: 25).

Nuh AS Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

 وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah” (Qs. Al Mu’minuun [23]: 23).

Ibrahim AS Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya” (Qs. Al Ankabuut [29]: 16).

Hud AS Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

 وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah” (Qs. Al A’raaf [7]: 65).

Shalih AS Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah” (Qs. Al A’raaf [7]: 73).

Syu’aib AS Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

 وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ

“Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah” (Qs. Huud [11]: 84).

Musa AS Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

 وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah” (Qs. Al Baqarah []: 83).

Isa AS Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

 وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ

“Padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” (Qs. Al Maa`idah [5]: 72).

Muhammad SAW Datang dengan Membawa Misi Ajakan Beribadah

Dan Muhammad SAW datang dengan membawa misi ajakan beribadah kepada seluruh umat manusia,

 يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu” (Qs. Al Baqarah []: 21).

Dan karenanya disyariatkan hijrah dan meninggalkan tanah air dan rumah,

 يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ

“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja” (Qs. Al Ankabuut [29]: 56).

Kebutuhan Manusia yang Mendasar dan Sekunder

Kebutuhan manusia yang mendasar dan sekunder adalah sebagai berikut:

Kebutuhan Akan Keabadian

Keabadian -atau tidak adanya kebinasaan- adalah kebutuhan mendasar dalam diri manusia. Karena kebutuhan inilah Adam AS didatangi oleh Iblis ketika ia berkata: “Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” Manusia berusaha memenuhi kebutuhan ini dengan berbagai cara di antaranya: upaya memanjangkan umur dengan menjaga makanan dan kesehatan, menjaga keturunan dan keluarga, berjuang, melakukan pekerjaan berfikir dan berperadaban sehingga namanya tetap dikenang oleh generasi-generasi, dan kadang muncul dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang keliru yang menyebabkan kebalikan dari kebutuhan keabadian seperti konflik karena mempertahankan eksistensi dan monopoli material.

Akan tetapi dengan semua cara ini setiap hari manusia berhadapan dengan hakikat kematian yang ia takuti dan menghindar untuk melihat sesuatu yang mengingatkan kepada kematian. Maka ketika dimulai aspek-aspek penuaan, manusia melakukan upaya-upaya dan perubahan bentuk yang ia pikir ia masih memiliki kecakapan hidup yang jauh dari puncak kebinasaan.

Akan tetapi –hubungan ibadah- tetap menjadi satu-satunya sarana yang memenuhi kebutuhan manusia terhadap keabadian. Hubungan ibadah memudahkan fenomena –kematian- dan mencabut darinya lingkaran ketakutan dan kegelisahan dan menawarkannya sebagai lingkaran dalam mata rantai evolusi manusia yang menyebabkan pada keabadian dan kesempurnaan di akhirat nanti.

Kebutuhan Akan Afiliasi

Afiliasi adalah salah satu kebutuhan di antara kebutuhan manusia yang pokok. Psikolog menjelaskan mengenai hal itu dan pengaruhnya. Di antara yang mendiskusikan kebutuhan ini adalah psikolog terkemuka Erick Fromm dan di antara pernyataannya adalam masalah ini adalah sebagai berikut:

“Kebutuhan yang paling mendalam dari keberadaan manusia adalah kebutuhannya untuk mengalahkan keterpisahannya dan keluar dari penjara keterasingan. Kegagalan dalam merealisasikan kebutuhan ini adalah kegilaan. Sebabnya adalah ketakutan akan keterasingan tidak mungkin dikalahkan kecuali dengan penarikan yang sempurna dari alam dengan tidak merasakannya. Dan ini tidak akan terwujud kecuali jika alam menyembunyikan dirinya… oleh karena itu masalah yang dihadapi manusia –pada setiap masa dan kebudayaan- adalah bagaimana cara mengalahkan kesepian dan merealisasikan penyatuan dan menjalani kehidupan menyendiri…”

Pusat-pusat afiliasi yang ditawarkan sistem pendidikan yang terputus dari hubungan ibadah adalah pusat yang sempit dan terbatas dengan terbatasnya afiliasi kesukuan, ras, kelas, regional, mazhab dan lain-lain. Ini seluruhnya menyebabkan sebab-sebab dikhotomi dan konflik yang destruktif di dalam  dan di luar pusat-pusat. Ia adalah afiliasi yang artifisial yang saling bertentangan yang mempertahankan manusia tetap berada dalam tahanan kesepian dan korban al ightirab (alienasi), al ajz (tidak berdaya), ketakutan dan tidak adanya ketenangan.

Adapun hubungan ibadah –dengan konsepnya yang komprehensif- menjadikan afiliasi hanya kepada Allah semata. Oleh karena itu pusat loyalitas menyatu pada satu pusat dan wilayah-wilayah afiliasi memadu kepada satu wilayah, hal yang menyebabkan keselarasan dan kedamaian dalam kehidupan manusia.

Kebutuhan Akan Cinta

Manusia butuh untuk mencintai dan dicintai. Model cinta yang ditawarkan sistem pendidikan yang terputus dari hubungan ibadah memiliki dua karakter. Pertama, ia memusatkan pada kebutuhan akan hasrat inderawi. Kedua, ia memutuskannya dari –kebutuhan keabadian- dan kebutuhan afiliasi. Oleh karena itu terbentuk hubungan-hubungan syahwat yang temporer, kepentingan kebutuhan yang beraneka ragam, dan menyebabkan kemrosotan dalam jiwa, perilaku dan sosial, serta berdampak pada kekeringan jiwa dan kegagalan emosi.

Hubungan ibadah berbeda dengan lainnya dalam hal bahwa ia menawarkan –kebutuhan cinta- dalam wilayah-wilayah yang lebih luas dan pusat-pusat yang lebih komprehensif yang mencakup aspek-aspek pemikiran, kejiwaan dan materi yang direfleksikan dalam berbagai macam bentuk seperti persaudaraan iman, cinta sosial dan kasih sayang sesama manusia. Ia memenuhi kebutuhan dengan praktek-praktek yang memperkuat kebutuhan keabadian dan afiliasi seperti perkawinan yang langgeng alih-alih hubungan sementara yang terputus dari afiliasi dan keberlanjutan keturunan.

Fromm menjelaskan kebutuhan cinta ketika menyebutkan bahwa manusia merealisasikannya pada masa kanak-kanak dengan cara bergabung dengan ibunya dengan bentuk menyusui dan menjadikannya ibu. Kemudian melangkah kepada hubungan fisik dengan lawan jenis. Lalu melangkah kepada aktivitas menalar dan inovasi seni dan peradaban. Akan tetapi seluruhnya adalah aspek-aspek yang tidak memuaskan kebutuhan manusia akan cinta karena merupakan aspek materi yang temporer, sehingga sisi kejiwaan membutuhkan kepada pertukaran cinta dengan pihak yang terus menerus memberi dan berinteraksi.

Di sini Fromm menjadi bingung ketika menawarkan contoh untuk pihak yang selalu memberi dan berinteraksi ini karena kembali kepada dua peran dalam lingkaran eksistensi material yang ia kritik. Sudah wajar jika Fromm dan lain-lain mengalami kebingungan karena ia terputus dari wahyu yang benar yang memindahkannya dari luar wilayah material dan menghantarkannya kepada hubungan ibadah yang menyeluruh.

Cabang Ketiga Kebutuhan Pokok Manusia

Dari ketiga kebutuhan pokok ini bercabang kebutuhan-kebutuhan lain yakni, kebutuhan biologis yang direfleksikan dalam bentuk makan dan hubungan seksual, dan kebutuhan akan rasa aman. Hubungan ibadah memenuhi kedua kebutuhan ini dengan cara integrasi dengan kebutuhan-kebutuhan pokok –sebagaimana telah dijelaskan- di antaranya kebutuhan akan pengetahuan dan lepas dari kebodohan.

Kebutuhan ini menjelma menjadi pencarian akan ideal yakni model di mana manusia hidup sesuai dengannya untuk merealisasikan tiga kebutuhan pokok. Model ideal yang diajukan ibadah berbeda dalam hal ia mencakup masa kelahiran, kehidupan dan kematian, sementara model yang ditawarkan sistem pendidikan yang terputus dari ibadah terbatas pada masa kehidupan di dunia. Oleh karena itu bidang-bidang pengetahuan di dalamnya terbatas pada saat ini dan manusia menderita karena pengaruh ketidaktahuan akan kedua masa lainnya. Di antaranya juga kebutuhan akan kebebasan yang dengannya manusia bisa merealisasikan tiga kebutuhan pokoknya.

Konsep kebebasan yang ditawarkan hubungan ibadah berbeda dalam hal ia memenuhi kebutuhan manusia dalam pembebasan internal dan eksternal, pada saat sistem pendidikan yang terpisah dari ibadah membatasi pada pemebebasan eksternal, akan tetapi membuat manusia tetap menjadi budak bagi syahwat internalnya. Perbudakan internal –atau perbudakan jiwa- adalah jalan perbudakan eksternal atau perbudakan sosial. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.