Signifikansi Pengetahuan Dalam Filsafat Pendidikan

0 86

Signifikansi pengetahuan mengacu kepada tujuan pendidikan dan pengetahuan yang telah ditetapkan diwujudkan dalam berbagai hal. Diantaranya sebagai berikut:

Pendidikan Mengarah Kepada Kesempurnaan

Pembacaan atau pengetahuan dengan menyebut nama Tuhan yang telah menciptakan atau rabb al alamin adalah pengetahuan yang menyeluruh. Dan pendidikan yang basisnya menyeluruh mengarah kepada kesempurnaan, kemuliaan dan kebahagiaan manusia dan menyebarkan kedamaian, persaudaraan dan persatuan dalam hidup.

Berbeda dengan filsafat-filsafat pendidikan lain yang benar-benar terputus di mana ia mendidik dan mengajar berdasarkan potongan-potongan dan kelompok-kelompok manusia lain, dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan manusia yang tidak menciptakan manusia dan tidak turut serta dalam penyempurnaan dan rekayasanya, sehingga menanamkan benih-benih perpecahan dan menyebarkan sebab-sebab konflik antara kelompok manusia, antara manusia dengan alam sekitarnya.

Ketika Anda melihat dalam metode pengetahuan dan pengalaman pendidikan manusia yang dibangun atas dasar metode ini kita temukan bahwa metode pengetahuan, sistem, institusi pendidikan dan kebiasaan peserta didik yang menghasilkan mereka dan mereka yang lulus darinya hanyalah seputar bingkai filsafat pendidikan dan tujuan yang muncul dan dimunculkan oleh metode pengetahuan ini. Jika tujuannya adalah individu dan peserta didik membaca atas namanya maka individu mundur kembali kepada tempayan bingkainya yang egosentris dan mengupayakan pengetahuan dan kecakapannya untuk kepentingan individualnya.

Jika tujuannya adalah untuk keluarga, regional, nasional atau ras, maka peserta didik berputar-putar di dalam bingkai keluarga, regional, nansional dan rasnya dan memanfaatkan pengetahuan dan kecakapan akal dan aktivitasnya untuk mencukupi regional lainnya. Atau untuk memberikan andil untuk membuat kelompoknya menguasai dan mendominasi di antara kelompok-kelompok lain atau bekerja untuk menjadikan suatu ras mendominasi ras-ras lainnya.

Dan sifat yang berbeda dengan praktek peserta didik dan orientasinya yang di luar bingkai ini dianggap sebagai negaitivisme, konflik dan persaingan antar individu, antar keluarga, antar ras, antar kelompok atau antar ras. Semua bentuk konflik dan wilayahnya ini menyempit atau meluas hanya berkisar di dalam bingkai wilayah manusia itu sendiri sehingga memberikan citra buruk dan menimbulkan kerugian dan aib kepada manusia, menghancurkan stabilitasnya dan menjadikan buah pendidikan bertentangan dengan eksistensi dan kemaslahatannya.

Filsafat dan Tujuan Pendidikan Dalam Bingkai Ketuhanan

Adapun jika filsafat dan tujuan pendidikan dibentuk dalam bingkai ketuhanan, dan manusia membaca dengan nama-Nya yang telah menciptakan, menyempurnakan dan merekayasa, dan memeliharanya dari tahapan segumpal daging di rahim hingga kematangan kemanusiaannya maka wilayah kreativitasnya melampaui bingkai individual, keluarga, kelas, regional, nasional dan ras dan membentuknya dalam satu bingkai atau bingkai yang saling menyempurnakan dan saling membantu, sehingga konflik menjauh dari manusia, melawan kekuatan yang menzalimi manusia, dan mengobati sebab-sebab kelemahan yang diperoleh dari kedudukan dan kepemimpinannya di muka bumi.

Oleh karena itu, surat-surat Qur`an dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim supaya tujuan pengetahuan yang ditunjukkan oleh surah-surat ini adalah keridhaan Allah yang menyayangi manusia dengan petunjuk dan wahyu.

Juga ditekankan agar mengawali semua perilaku dan perbuatan dengan nama Allah dan jika tidak menyebut nama Allah maka berarti terputus, yakni terputus dari tujuan yang benar, terputus dari kesesuaian dengan fitrah manusia, alam dan kehidupan dan terputus dari buah yang bermanfaat.

Mendorong Manusia Pada Kedudukan Melampaui Batas-Nya

Ketika pengetahuan memiliki hasil materi, sosial dan peradaban yang menjadikan pemiliknya menundukkan alam dan menganggap seolah-olah dirinya memiliki semua kendali atas segala sesutu, maka pengetahuan yang terputus dari pengetahuan Allah mendorong manusia yang sampai pada kedudukan peradaban ini melampaui batas-batas-Nya, sewenang-wenang dan menduga bahwa ia merasa diri telah cukup dan independen dengan eksistensinya, dan melupakan hakikat yang fenomenanya berulang-ulang setiap hari yaitu kembali kepada Tuhannya. Ini adalah seperti yang ditunjukkan dalam ayat yang berbunyi:

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,” (6) “karena dia melihat dirinya serba cukup.” (7) “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu) ” (8) (Qs. Al Alaq [96]: 6-8)

Sikap manusia yang sewenang-wenang dan melampaui batas-batas-Nya dan akibatnya merasa diri tidak memerlukan pencipta menimbulkan dua negativisme.

Pertama, sewenang-wenang terhadap akal orang lain dan berupaya menghalanginya memanfaatkan buah pengetahuan dan merealisasikan tujuan utamanya. Yakni pengetahuan, syukur dan sujud kepada Allah.

Kedua, dusta dan benar-benar berpaling dari metode Allah dan menduga bahwa Allah tidak melihat kesewenang-wenangan dan permusuhannya. Berpaling berbagai macam bentuknya. Berpalingnya indivdu, berpalingnya umat dan berpalingnya peradaban.

Tekanan atas kesewenangan dan keberpalingan dan tidak menghentikannya akan mengakibatkan menarik jambul ubun-ubun seseorang. Yakni jidat seseorang terangkat ketika melampaui batas. Ubun-ubun umat yakni kemuliaan nasionalismenya. Dan ubun-ubun peradaban yakni puncak inovasinya yang merupakan pengembangan dari buah pengetahuan.

Ini semua, ketika berpaling dari tujuan dan jalan Tuhan, memiliki dua karakter, ‘yang mendustakan’. Yakni dusta secara pemikiran dan budaya dan ‘berdosa’ yakni menyimpang dalam aplikasi dan pelaksanaannya.

Pengetahuan yang mengalami dua penyakit ini, penyakit dusta yakni tujuan yang buruk, dan penyakit dosa yakni buruknya aplikasi dan praktek yang menyebabkan agitasi faktor-faktor kehancuran dan berakhir pada penderitaan umat manusia.

Menjadi Manusia yang Mengetahui Hakikat Segala Sesuatu

Yang ditunjukkan oleh ayat ini adalah bahwa awal keadaan manusia yakni segumpal darah di dinding rahim. Itu adalah keadaan yang paling hina. Akhir tujuannya adalah menjadi seseorang yang mengetahui akan hakikat segala sesuatu dan itu adalah tingkat makhluk yang paling mulia.

Seakan-akan Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya pembacaan dan pengetahuan merubah manusia dari tingkatan yang baik kepada yang lebih tinggi, dan dalam hal itu terdapat peringatan bahwa pengetahuan dan ilmu adalah sifat manusia yang paling mulia”.

Menjadi Mulia Ketika Memusatkan Perhatiannya Kepada Ilmu Dan Pengetahuan

Individu mulai menjadi mulia ketika memusatkan perhatiannya kepada ilmu dan pengetahuan. Akan tetapi ia memulai dengan penyimpangan ketika ia memusatkan perhatiannya kepada kesibukan dengan harta. Peradaban berdiri ketika kesibukan dengan pengetahuan dan ilmu. Bahkan peradaban mulai merosot ketika memusatkan kepada kekayaan dan membangga-banggakannya. Surah Al Qalam dimulai dengan memuji ilmu dan berakhir pada menghinakan penyembahan harta. Seakan-akan Allah SWT berfirman:

“Apakah kamu tidak melihat jika peradaban kafir memilih petunjuk dan memerintahkan kepada ketaqwaan alih-alih permusuhan dan melarang dari beribadah, keutamaan dan menjauhi Allah”.

Maka ini semua akan mengarah kepada kehancuran apa yang dibanggakan yang merupakan pertemuan jambul dari badan. “Menarik” adalah menahan sesuatu dan menariknya dengan kuat kemudian memukul dan menamparnya.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.