Inspirasi Tanpa Batas

Signifikansi Tanggungjawab dan Kaitannya Dengan Hubungan Ibadah

0 10

Konten Sponsor

Signifikansi tanggungjawab terwujud dalam dua aspek. Aspek pertama, bahwa manusia tidak berhenti secara seimbang dengan sendirinya. Khususnya dalam posisi kemuliaan, kekuasaan dan kekayaan.

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,” (6) “karena dia melihat dirinya serba cukup” (7) “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu)” (8) (Qs. Al Alaq [96]: 6-8)

Manusia telah mengetahui –dan masih menyaksikan- model manusia yang menyebabkan faktor-faktor kekuatan, kemuliaan dan kekayaan yang melampaui batas dalam pemikiran dan perilakunya. Sehingga menyebabkan timbulnya filsafat dan politik yang melampaui batas yang merusak dan mendatangkan bencana kepada pemiliknya dan bagi masyarakat di sekitarnya. Nazisme, Fasisme dan politik kolonialisme modern adalah model dan contoh kekuataan, kemuliaan dan kekayaan yang melampaui batas.

Peran Hubungan Tanggungjawab Akhirat

Di sini muncul peran hubungan tanggungjawab akhirat untuk mengingatkan manusia bahwa kekayaan ini adalah kekayaan fatamorgana dan sementara. Terdapat tempat kembali yang tidak ada kemuliaan, kekuatan dan kekayaan yang melampaui batas di dalamnya kemudian mereka akan diminta tanggungjawab atas semua praktek kecil dan besar yang dipenuhi dengan kemuliaan, kekuatan dan kekayaan yang melampaui batas di medan cobaan –yakni dunia.

Tanggungjawab mestilah diberikan kepada kekuatan yang meliputi semua urusan manusia: kelahiran, perkembangan dan kesudahannya, mengawasi lahir dan batinnya, dan mengamati praktek rahasia dan terang-terangan. Tanpa itu semua, semua bentuk tanggungjawab yang diumumkan di hadapan undang-undang, di hadapan masyarakat, di hadapan sejarah akan menjadi tanggungjawab yang tidak efektif yang ditunjukkan untuk mencakup seluruhnya, yakni bahwa tidak akan berpengaruh efektif kecuali jika saling membantu dengan hubungan kehambaan antara manusia dengan pencipta –dalam bentuk yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

Ini adalah sebagian aspek hikmah memerangi kemusyrikan, perantaraan dan berhala karena semuanya meniadakan hubungan tanggungjawab dan membatalkan pengaruhnya. Di antara contoh yang jarang yang benar-benar terjadi terhadap peniadaan hubungan tanggungjawab adalah jawaban wanita pada tahun 1981 ketika Paus menyeru orang-orang Amerika tentang larangan aborsi dan larangan mengkonsumsi pil anti hamil. Responden Washington Post bertemu dengan sejumlah perempuan tentang sejauh mana tenggapan mereka terhadap seruan Paus, dan salah seorang dari wanita tersebut menjawab: “The Pope is in Rome and I am on the Pills”.

Hukum Absolut Dan Teori Hukum Tuhan Yang Sewenang-wenang

Pemisahan antara “hubungan tanggungjawab” dengan “hubungan kehambaan” menunjukan yang pertama penyimpangan dan kesalahan aplikasi dan membaliknya menjadi dominasi dan kesewenang-wenangan sebagaimana ia adalah hukum Absolut dan teori hukum Tuhan yang sewenang-wenang yang ada dalam sejarah.

Adil kiranya kita katakan bahwa tidak adanya keseimbangan dan penguatan hubungan antara hubungan kehambaan dan hubungan tanggungjawab dalam lembaga pendidikan di masyarakat dan kebudayaan Islam dahulu dan sekarang telah membalik tanggungjawab –pada masa tertentu- kepada patriakhi yang dominan dalam keluarga, manajemen dan kepemimpinan.

Aspek kedua dari signifikansi tanggungjawab adalah bahwa tanggungjawab itu berakar kuat dalam diri manusia dan merupakan faktor yang mendasar dalam pembentukan manusia dan wataknya. Di antara yang diungkap ayat Allah tentang jiwa –atau ilmu psikologi meminjam istilah modern- adalah bahwa manusia menikmati tanggungjawab ini dan senang melakukannya dan lebih banyak mendahulukan tuntutannya dalam bentuk memberi daripada mengambil.

Psikolog terkemuka Erich Fromm memberikan penjelasan dalam menyatakan sisi ini. Ringkasan dari apa yang disampaikannya mengenai hal ini adalah bahwa tanggungjawab memiliki asal yang mendalam dalam jiwa manusia dalam bentuk cinta yang berarti memberi dan bukan meminta… dan bahwa aspek memberi bukanlah pada sesuatu yang bersifat material akan tetapi dalam aspek maknawi sehingga seseorang memberikan eksistensi dan kehidupannya untuk menyebarkan kehidupan kepada eksistensi-eksistensi lain. Pemberian ini tersusun dari empat unsur utama, yakni memelihara, taggungjawab, penghargaan dan pegetahuan.

Pemeliharaan Muncul Dari Tanggungjawab

Di antara yang paling jelas dari unsur pemeliharaan adalah dalam cinta ibu kepada anaknya. Pemeliharaan muncul dari tanggungjawab yang merupakan kebutuhan jiwa dan persiapan jiwa untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Tanggungjawab yang muncul dari unsur ketiga adalah penghargaan.

Penghargaan adalah kemampuan  melihat manusia secara hakiki dan mengakui akan wujudnya yang istimewa. Ia juga adalah memberi kesempatan yang banyak kepada orang lain untuk berkembang. Tumbuh dan menjadi matang untuk kepentingan dirinya dengan tidak menantikan manfaat darinya atau pengabdian darinya.

Akan tetapi kita tidak menghargai manusia kecuali jika kita mengetahui di dalamnya apa yang patut dihargai. Tanpa pengetahuan –yakni unsur keempat dari unsur cinta- menjadikan pemeliharaan, tanggungjawab dan penghargaan perilaku sebagai buta. Pengetahuan adalah pendorong bagi pemeliharaan, tanggungjawab dan penghargaan.

Dengan ini cinta menjadi buah dari empat komponen, yakni pemeliharaan, rasa tanggungjawab, pengharagaan dan pengetahuan.

Fromm menambahkan bahwa makna keempat unsur yang membentuk cinta ini disalah artikan pada masa kita ini. Karena adanya pemahaman yang keliru yang menggambarkan tanggungjawab sebagai kewajiban manusia dari luar dirinya. Juga menggambarakan penghargaan sebagai kekhawatiran dan ketakutan. Tanggungjawab pada akhirnye berubah menjadi sewenang-wenang dan mendominasi.

Oleh: Dr. Majid Irsani Al Kailani

 Bahan Bacaan

The Washington Post, (4 Oktober 1980, hal. A 19.

Erich Fromm, “The Nature of Love” dalam The Contemporary Scene, ed. Paul B. Weisz (New York: McGraw-Hill, 1970), hal. 158-159.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar