Home » Pendidikan » Sikap Keberagamaan dalam Membangun Moral Anak

Share This Post

Pendidikan

Sikap Keberagamaan dalam Membangun Moral Anak

Struktur sikap seseorang terdiri dari komponen-komponen yang saling menunjang antara satu dengan yang lain. Sikap Keberagamaan dalam Membangun Moral Anak.

Kata sikap dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan yang berdasar pendirian (pendapat atau keyakinan). Maksud dari pernyataan ini adalah, sesuatu disebut sebagai suatu sikap apabila, suatu tindakan itu, dilakukan atas pendirian seseorang, tentu dengan keyakinan yang dimilikinya. Keyakinan itu sendiri mesti diperoleh dengan pengetahuan yang kuat. Karena itu, sesuatu tidak dapat disebut sebagai sikap, apabila tindakan yang dilakukan seseorang tidak dilakukan dengan dasar pengetahuan.

Ngalim Purwanto, menyebut sikap atau yang dalam bahasa Inggris disebut attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang; suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang terjadi. Sedangkan menurut JP. Chaplin, sikap adalah suatu predisposisi atau kecendrungan yang relatif stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau untuk bereaksi dengan satu cara tertentu terhadap pribadi lain, objek atau lembaga lain, tentang persoalan tertentu.

Gordon W. Allport, telah merumuskan berbagai pengertian tentang sikap. Salah satunya adalah hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus-menerus dengan lingkungan (attitudes are learned). Menurut Allport, sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain baik di rumah, di sekolah, di tempat ibadah atau di tempat lain melalui nasihat, teladan atau percakapan (attitudes are social learning).

Tetapi yang lebih penting dari rumusan yang dikemukakan Allport, sikap adalah wujud dari kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap objek. Bagian bagian yang dominan dari sikap menurut Allport adalah perasaan dan afektif seperti yang tampak dalam menentukan pilihan apakah positif, negatif, atau ragu tentang suatu pilihan yang dipilih oleh seseorang. Sedangkan kata keberagamaan,dalam kamus Bahasa Indonesia diartikan sama dengan beragama, yaitu memeluk (menjalankan), beribadat, menjalankan hidupnya menurut keyakinan agama, tertentu sesuai dengan keyakinan yang dianutnya.

Karakteristik Sikap Keberagamaan

Menurut Gerald O’Collins, SJ dan Edward Ferrugia, SJ bahwa sikap keberagamaan meliputi system kepercayaan kepada Tuhan dan tanggapan manusia kepada Nya, termasuk kitab-kitab yang suci, pelaksanaan ritual suci dan praktek etis para penganutnya. Lexicon Universal Enyclopedia dijelaskan bahwa keberagamaan memiliki beberapa karakteristik yang menjadi dasar kehidupan dan prilaku keagamaan para pemeluknya.

Rekomendasi untuk anda !!   Tinjauan Tentang Minat Baca Peserta Didik

Karakteristik itu diantaranya adalah: 1).The Holy, yaitu suatu bentuk spiritualitas agama atau pengalaman keagamaan yang diekspresikan dalam bentuk yang suci; 2).Response, yaitu respons the holy may take the form participation to the costums or relegius community, respons terhadap sesuatu yang dianggap suci dengan ikut berpartisipasi pada komunitas yang religius; 3).Beliefs, yaitu tradisi spiritualitas agama yang membangun sebuah sistem kepercayaan baik yang berkaitan dengan kepercayaan atau doktrin; 4).Ritual, bahwa aspek keberagamaan didalamnya terdapat praktek-praktek ritual, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok; 5).Ethical Code, yaitu spiritualitas yang berisi tentang etika-etika beragama dalam kehidupan sehari-hari;dan 6). Social aspect, yaitu spiritualitas yang memiliki aspek-aspek sosial. Berbagai pendapat di atas, menyimpulkan bahwa sikap merupakan suatu pendirian dari seseorang untuk menerima dan atau menolak sesuatu dari hasil suatu proses berfikir–yang didasarkan atas pengetahuan yang telah diperoleh seseorang– tentang apa yang disebut dengan keberagamaan.

Struktur sikap seseorang terdiri dari komponen-komponen yang saling menunjang antara satu dengan yang lain. Struktur sikap dimaksud setidaknya memiliki komponen-komponen sikap yang terkait satu dengan yang lainnya pada tiga persoalan utama. Ketiga persoalan dimaksud adalah: Pertama. Komponen kognitif yang menjadi representasi dari apa yang dipercayai oleh individu sebagai pemilik suatu sikap; Kedua komponen afeksi sebagai perasaan yang menyangkut aspek emosional dari pengetahuan seseorang, dan; Ketiga komponen konatif merupakan aspek kecendrungan berprilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang.

Secara psikologis dalam kajian Muhibbin syah, sikap timbul karena ada stimulus. Terbentuknya suatu sikap dimaksud, secara psikologis banyak dipengaruhi oleh rangsangan dari lingkungan sosial dan kebudayaan. Pengaruh dimaksud, misalnya dari lembaga pendidikan keluarga, norma, golongan agama dan adat istiadat. Dalam hal ini, keluaraga mempunyai peranan yang besar dalam pembentuk sikap putra-putranya. Sebab keluargalah yang menjadi kelompok primer bagi anak. Keluarga memiliki pengaruh yang paling dominan untuk menentukan sikap seorang anak. Sikap seseorang, dalam kajian ilmu dimaksud, bersifat fluktuatif. Ia dapat berkembang jika mendapat pengaruh, baik dari dalam maupun dari luar yang bersifat positif dan mengesankan.

Sikap merupakan predisposisi untuk bertindak senang atau tidak senang terhadap obyek tertentu yang mencakup komponen kognisi, afeksi, dan konasi. Jadi, sikap merupakan interaksi dari tiga komponen psikologis tersebut secara kompleks. Komponen kognisi akan menjawab tentang apa yang dipikirkan atau dipersepsikan tentang obyek. Komponen afeksi dikaitkan dengan apa yang dirasakan terhadap obyek. Sedangkan komponen konasi berhubungan dengan kesediaan atau kesiapan untuk bertindak terhadap obyek. Tegasnya, sikap adalah hasil dari proses berfikir, merasa, dan pemilihan motif-motif tertentu sebagai reaksi terhadap suatu obyek, baik yang konkret maupun abstrak.

Rekomendasi untuk anda !!   4 Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Keberhasilan Proses Pembelajaran

Psikologi memandang bahwa sikap selalu mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif sehingga menimbulkan motif. Motif menentukan tingkah laku nyata, sedangkan reaksi afektif bersifat tertutup. Jadi, motif menjadi faktor penjalin sekaligus menentukan hubungan antara sikap dan tingkah laku. Motiflah yang menjadi tenaga pendorong kearah sikap positif atau negatif yang hal itu kemudian tampak dalam tingkah laku nyata. Motif yang didasari pertimbangan-pertimbangan tertentu biasanya menjadi lebih stabil jika diperkuat dengan komponen afeksi. Dalam hubungan ini tergambar bagaimana jalinan pembentukan sikap keagamaan sehingga dapat menghasilkan bentuk pola tingkah laku keagamaan dengan jiwa keagamaan.

Predisposisi tersebut menurut Mar’at, adalah sesuatu yang telah dimiliki seseorang semenjak kecil sebagai hasil pembentukan dirinya sendiri. Pada konteks ini, peran orang tua menjadi sangat dominan dalam membentuk kesadaran dan pengalaman agama pada diri seorang anak sejak dini. Kajian psikologi transpersonal meneguhkan kenyataan bahwa manusia memang memiliki potensi dan daya psikis yang dikenal sebagai jiwa keagamaan. Setiap manusia terlahir dengan memiliki potensi-potensi luhur (the highest potentials) dan fenomena kesadaran (states of consciousness) yang penting dalam kehidupannya. Konsep tersebut kiranya dapat ditautkan dengan “fitrah” dalam khazanah pengetahuan Islam.

Ajaran agama, sejujurnya harus diakui memuat norma-norma yang dijadikan pedoman oleh pemeluknya dalam bersikap dan bertingkah laku. Norma-norma tersebut mengacu kepada pencapaian nilai-nilai luhur guna pembentukan sikap dan keserasian hubungan sosial dalam upaya memenuhi ketaatan kepada Tuhan.

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>